![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Pagi harinya…
04:30
Setiap pagi-pagi sekali ditemani remang-remang lampu tidur Zain akan bangun untuk menyelesaikan laporan kantor. Setiap pagi pula ia akan melihat gadis muda tertidur dengan posisi asal dan dengkuran selalu terdengar. Namun pagi ini berbeda, dimana ia tidak melihat gadis itu disana.
Sejenak Zain mengira gadis itu tertidur ditempat Maya karena ia selalu bersama sebelum kembali ke kamar.
Krett
Pintu kamarnya terbuka memperlihatkan Nina yang masuk seraya membawa secangkir kopi di tangannya.
Pelan-pelan Nina meletakkannya diatas nakas samping ranjang tempat duduk Zain.
Hal itu membuat Zain bingung dengan maksud manis istri mudanya ini. Ini bukan Nina sama sekali, gadis itu tidak akan berani mengganggunya, apalagi bangun dipagi hari untuk membuatkannya kopi.
“Ehem, aku buatkan kau kopi” kata Nina agak canggung saat pria itu hanya diam dengan ekspresi datar. “Kalau kau tidak mau, ya dibuang saja…”
Setelah mengatakan itu Nina keluar dari kamar. Zain melirik secangkir kopi yang masih ada diatas nakas. Baunya menggungah selera pagi ini, rasa biji kopi yang wangi menarik hidung Zain untuk mencium menghampiri.
Seperti memiliki daya pikat tinggi, tangan Zain mengulur mengambil secangkir kopi tersebut dan ia mencobanya.
“Lumayan” Zain memberi penilaiaan setelah mencicipinya.
Kenikmatan kopi memang belum lengkap jika belum menyaksikan keindahan alam dipagi hari. Zain keluar menuju balkon dan menikmati kopinya disana.
Kedua tangannya ia masukan kedalam celana, memberikan kesan tampan dan paling diagungkan. Wajahnya yang sawo matang ia membiarkan udara yang memberi salam. Kedua matanya dibiarkan terbuka lebar melihat seorang gadis sedang menjemur pakaian.
Sebelum membuatkan kopi tadi, Nina sudah mencuci pakaian miliknya dan milik Zain juga. Di keluarga Darius, jika seorang pria sudah menikah maka tidak akan membiarkan pelayan yang mencucinya. Mereka para istri akan mengambil alih.
“Bunda!!! Selamat pagi bunda” seru Nina terdengar sampai atas saat ia berteriak melambaikan satu tangannya kepada bunda Zelofia yang juga menjemur pakaian diatas sana.
“Selamat pagi sayang” sahut Zelofia melambaikan tangannya juga.
Nina tertawa karena panggilannya tidak diabaikan dan itu menarik perhatian Zain.
Tiba-tiba hidung Nina gatal dan mengakibatkan ia bersin. “Hacccih” Nina mengusap hidungnya dan mengingat sesuatu, “Alhamdulillah”
“Yarhamukallah”
Sahut Zain lirih diatas balkon sana. Tanpa ia sadari kedua ujung bibirnya tertarik keatas, namun hanya sedikit saja. Ia hanya tidak menduga jika Nina masih mengingat nasihatnya.
Setelah Zain melihat Nina ingin berbalik, ia segera meringkuk bersembunyi seperti pencuri. Entah kenapa ia melakukan itu.
“Kak!! Nanti ak---”
“Shutttt” potong Zain langsung berlari membekap mulut adik kurang ajarnya ini. karena Bian, ia hampir ketahuan memperhatikan Nina.
__ADS_1
“Apa yang kakak lihat?” tanya Bian dengan nada berbisik setelah mulutnya bebas.
“Ehem” Zain berdeham canggung, bahkan ia bingung mau menaruh kopinya diatas meja. “Kau kenapa kemari?”
“Kakak ini sedang apa tadi?” Bian masih bertanya karena belum mendapat jawaban.
“Me-menikmati kopi” jawab Zain berusaha untuk tetap tenang.
Zain menyadari perilaku berbeda terhadap dirinya, namun ia tidak tahu kenapa. Oh astaga Zain hampir gila rasanya.
Namun Bian tersenyum penuh misteri, “Kakak mengintip seorang gadis dari atas sini kan?”
“Jangan asal ngomong kau!!” tendangan mendarat di pantat Bian.
Astaga sesuatu yang telah hilang muncul kembali. Lima tahun yang lalu saat Zain berduaan dengan istrinya maka Bian akan muncul dipagi hari untuk menggoda mereka dan tidak dipungkiri Zain selalu menendangnya diarea pantat. Dan pagi ini saat Bian menggoda Zain, tendangan itu kembali ia rasakan.
Bian pun berpikiran jika ada gadis yang ia pikirkan, “Kau benar-benar melihat seorang gadis kan?”
“Kau ini bicara apa?" gugup Zain berbohong.
Tanpa memperdulikan respon Zain, Bian langsung memeluk tubuhnya. Ia memeluk begitu erat sampai Zain geli rasanya.
“Lepas!!”
“Kakakku sayang”
“Lep---”
“Aku sud---” tiba-tiba saja Nina masuk kedalam. Ia menelan ludahnya kasar melihat adegan sebegitu intim seperti gay berada didalam kamarnya.
Supaya tidak salah paham, mereka langsung saling melepaskan. Keduanya menjauh dengan rasa malu yang tertahan.
“Hem… ini tidak seperti yang kau lihat, Nin” sangkal Bian dengan kepala menggeleng dan Zain hanya diam mengangguk kecil.
“Iya” sahut Nina masih syok dengan apa yang ia lihat. “Aku membersihkan baju kerjamu… dan maaf aku mengambilnya tanpa ijin terlebih dahulu” dengan pelan Nina menaruhnya diatas ranjang dan kembali keluar.
“Ini karenamu!” lempar Zain memberi tatapan tajam kepada adiknya.
“Memangnya kenapa jika dia mengira kita ini pasangan gay?” Bian mengusap sensual dada Zain yang langsung ditepis kasar.
“Keluar!!!” Zain menarik tangan Bian dan melemparnya keluar dari kamar, “Bikin malu”
Brak
Pintu tertutup dengan sangat kasar. Zain seperti sengaja melakukan itu sebagai simbol kemarahan.
“Kenapa dia bisa semarah ini?”
__ADS_1
_______
Saat ini seluruh anggota keluarga Darius yang sudah selesai menyantap sarapan mereka akan pergi untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Begitu pula dengan Nina, setelah ia memberi salam kepada seluruh anggota tertua, ia pun berangkat kuliah.
Saat ini Nina sedang menunggu angkot didepan gerbang. Setelah ia tahu Alzam menyukainya, kini ia menghindar. Ia tidak mau membuat masalah dalam keluarganya.
Tin
Tin
Klakson mobil Audi milik Alzam berhenti tepat disampingnya, membuat Nina segera menoleh.
Dengan wajah yang sumringah dan nada lembut Alzam menawarkan bantuan,“Nin, ayo masuk! Aku akan mengantar dirimu”
Tin
Tin
Mobil Ferarri berhenti tepat disamping mobil Alzam, namun Nina masih bisa melihat jika itu suaminya.
Dengan wajah bengis disertai suara dingin Zain mengajaknya, “Masuk".
Sementara itu Bian sudah siap dengan motor gedhe yang ia panasi sedari lama di dalam garasi. Tinggal memakai helm saja sebagai simbol keselamatan. Ia siap berangkat kuliah lagi.
“Ahkk aku harus bertemu dengan wanita pengkhianat itu. Pasti dia sedang menungguku di gerbang kampus” Bian meninju tangki motornya pelan. “Aku harus membonceng wanita untuk membuat dia tidak lagi berharap kepadaku. Tapi siapa?”
Kebetulan saat Bian mengeluarkan motornya, ia melihat Nina berdiri didepan gerbang keluarga Darius. Ia juga melihat kedua mobil kakaknya disana.
“Aku akan mengajak Nina berangkat bareng. Dia bisa menjadi pacar pura-pura ku” kata Bian menjalankan motornya berjalan disela-sela mobil Alzam dan Zain.
Bremm Bremmm
Asap motor menyembul keluar membuat Zain jengkel dan langsung memukulnya. “Berisik”
Dengan wajah yang pede dan nada yang santai Bian menawarkan diri, “Nin, berangkat bareng aku yok!! Aku bawa helm”
Ada mobil Audi berkualitas berwarna merah menyala dilengkapi dengan pengemudinya yang tampan dan lembut juga, dan saingannya ada mobil Ferrari hitam elegan dengan pengemudi berwajah dingin seperti suaminya. Selain mobil ada juga motor gedhe kualitas terbaru yang baru dibeli Bian, pasti jika Nina menaikinya akan terasa nyaman dan halus tanpa bergeronjal.
‘Ikut Alzam?’tanya Nina pada diri sendiri dan peri hayalan di samping kanannya yang menjawab, ‘Tidak Nina, kau hanya akan membuat masalah dengan suamimu’.
‘Lalu ikut Tuan Zain?’ tanya Nina lagi, dan kali ini peri hayalan disebelah kiri yang menjawab, ‘Apa dia akan welcome? Dia hanya mengajakmu dengan satu kata, Cih! Lagian kenapa dia tiba-tiba menawarimu tumpangan? Mungkin dia ingin memarahimu karena tadi pagi sudah bersikap lancang ’ tapi peri hayalan di sebelah kanan membantah, ‘Kau tidak tahu ada pepatah berkata seperti ini? Sebagus-bagusnya rumah orang akan nyaman di rumah sendiri’
‘Bagaimana kalau Bian saja?’ tanya Nina sekali lagi, dan kedua peri hayalan itu sedang menimang-nimangnya.
...To be continued...
...Enaknya milih siapa ya Nin🤣...
__ADS_1
...Maaf Ya banyak typo!! Jangan lupa bebss di komen jika kalian berkenan dan dinilai ceritanya karena aku ingin tahu penilaian kalian tentang novel ini😊 dukung karya bersamaku ya lop yu😘...