![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
"Aku yang masak" jawab Nina membuat Zain menaruh sendoknya kembali.
Nina melihat perubahan nafsu makan suaminya. Ia yakin jika saat ini Zain enggan makan setelah tahu Nina yang memasak.
Ya sudahlah terserah dia saja.
"Hemm tumis kangkung nya enak... cuma Abi hanya kurang suka makanan yang terlalu banyak minyaknya. Jadi maaf ya, Abi cuma bisa makan sedikit saja" sesal Abi Syahbana.
"Tidak masalah! Walaupun begitu Nina tetap bahagia karena sudah mau mencicip masakan Nina. Tadi Nina diajarin sama Mbak Bilsya buat masak kangkung, Umi " kata Nina antusias.
"Oh iya... luar biasa sekali... makananmu enak kok. Hemm Umi mau nambah ini... ayo makan" ustadzah Fadila terkekeh pelan sambil menyuapi dirinya sendiri.
"Iya Umi"
Nina pun tersenyum seraya ikut makan. Sementara Zain juga ikut makan namun sudah tidak seperti sebelumnya. Ia nampak tidak bersemangat saat ini.
Beberapa menit berlalu.
Setelah mereka selesai makan malam Nina dan Zain pamit untuk pulang.
Zain mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal dengan Nina yang duduk disebelahnya. Keduanya masih hanya diam tanpa satupun mau memulai pembicaraan.
Tak lama tiba-tiba mobil Zain berhenti didepan sebuah apotek. Dari itu membuat Nina bingung bertanya-tanya siapa yang sakit.
"Mengapa kita berhenti di apotik?" tanya Nina tidak paham sama sekali.
"Turunlah... kau beli obat untuk ruam di tanganmu sana" kata Zain dan Nina langsung melihat kedua tangannya.
Sebenarnya tadi Zain melihat ada ruam seperti bintik-bintik di kedua tangan Nina. Zain tidak bisa membiarkannya karena itu mengingatkan dia dengan Aya yang juga pernah mengalami hal tersebut.
"Oh hanya ruam saja Tuan... tidak masalah... ruam ini akan hilang jika aku biarkan" tolak Nina tersenyum. Ia sudah pernah menemukan ruam ini di tangannya tapi tak lama langsung hilang.
"Kau alergi dingin?" tanya Zain karena malam ini terasa dingin dan kaca mobil Nina terbuka.
"Tidak... tapi aku tidak betah merasakan udara dingin saat malam" Nina masih bisa tersenyum.
"Turunlah beli obat sana... jangan membuatku dalam masalah jika ibu melihat ruam itu" acuh Zain mengomel.
"Hem, tidak us---"
"Dibilang turun ya turun!! Susah banget sih" potong Zain agak menyentak lalu turun dari mobil. Ia sendiri yang akan membelikan obat untuk Nina.
Astaga jantung Nina rasanya mau copot tapi ia senang Zain memperhatikan dirinya. Tandanya ia peduli dengan Nina.
Mungkin!!.
Di apotek.
__ADS_1
Sebenarnya Zain sangat malas berbicara dengan petugas apotek yang merupakan seorang wanita, tapi ia harus membeli obat untuk Nina.
Dengan aura dingin dan wajah datar Zain memesan.
"Obat alergi... ruam dan bintik-bintik di tangan" ucap Zain kepada petugas apotek yang langsung paham.
Petugas itupun segera mengambilkan yang pria itu maksud.
"410 ribu aja pak"
Apalagi petugas itu memanggilnya dengan sebutan pak. Sungguh Zain sangat muak rasanya.
Tanpa banyak bicara Zain mengambil uang bergambar lima presiden Soekarno dan ia berikan kepada petugas itu. Ia pun langsung pergi.
"Pak kembaliannya pak?" seru petugas itu dan Zain hanya mengangkat satu tangannya tanda tak peduli.
Kembali ke mobil.
"Minum" Zain memberikan satu kresek berisi tablet obat alergi untuk Nina.
"Terimakasih, Tuan... nanti saja di rumah"
"Sudah saya belikan apa minum juga perlu saya wakilkan? Kau ini menyusahkan sekali ya? Nanti kalau ibu lihat terus marah gimana? Kau suka sekali membuat saya dalam masalah!!" suara Zain kembali menyentak.
Nina menelan ludahnya sedikit kasar. Pria Ini memang tidak pernah bersikap halus jika dengan Nina, sikap halus yang tadi ia lihat seketika musnah.
"Baiklah, Tuan... " Nina pun mengambil satu butir tablet dan ia minum bersamaan dengan air putih.
"Aya?" mata Zain membola melihat gadis itu nyaris mirip dengan adik bungsunya. Namun sedang apa gadis itu memasuki hotel, berpakaian minim pula.
Zain segera menepikan mobilnya.
"Kau tunggu disini"
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Nina bingung melihat suaminya bergegas keluar dari mobil.
Tanpa mau menjawab Zain berlari memasuki hotel itu meninggalkan Nina yang patuh dengan duduk diam didalam mobil.
Zain masuk kedalam hotel itu berusaha mengikuti wanita yang ia pikir adalah adiknya. Tubuhnya terhenti didalam hotel kala melihat para tamu yang merupakan pengusaha ternama yang sering bercengkrama bersama.
"Waw Tuan Ankazain selamat datang" salah satu pengusaha yang menyewa hotel itu kebetulan kenal dengan Zain, ia pun mencoba menyapa.
Namun apalah isi otak Zain yang hanya memikirkan adik perempuan semata wayangnya.
Tapi dibalik itu Zain mencoba untuk tetap tenang dengan menanggapi sapaan pria itu seraya mata liar mencari-cari seseorang.
"Wassalamu'alaikum, Tuan Indra" jawab Zain menjabat tangan Indra.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, sedang apa anda disini?" tanya Indra hanya basa-basi.
Zain jadi bingung harus menjawabnya apa. Jika Indra tahu ia datang kemari untuk mencari Aya maka media sosial akan gempar dengan berita mereka.
Bagaimana bisa anggota keluarga Darius yang termuda datang ke hotel sendirian? Terlebih memakai pakaian yang kurang sopan.
"Saya... saya tidak sengaja melihat seseorang yang saya kenal datang kemari. Orang itu sudah lama tidak saya lihat tapi setelah saya coba mengejar, dia hilang..." jawab Zain agak gugup namun masih bisa tenang.
"Oh begitu... saya kira anda mencari siapa hahaha" gurau Indra.
"Ngomong-ngomong sedang apa anda disini, Tuan Indra?" Zain merapikan toxedo hitamnya yang sempat berantakan.
"Hemm itu... Anda tahu sendirilah Tuan Zain hahaha" jawab Indra tersenyum malu dan Zain langsung paham.
Pria ini sering datang ke hotel untuk menyewa wanita bernama kupu-kupu malam dan Zain selalu tahu dan memilih tidak ikut campur.
"Baiklah, Tuan Indra saya harus kembali ke rumah... ini sudah malam" ucap Zain menyalami Indra dan pergi meninggalkannya.
Zain pun segera keluar dari hotel seraya memijat dahinya pusing karena tidak menemukan wanita yang ia lihat.
Dengan wajah yang murka Zain kembali menjalankan mobilnya. Kini kecepatannya sudah diatas rata-rata hingga membuat Nina ketakutan disana.
"Tu-tuan... tolong pelan..." gugup Nina mencoba menegur namun pria ini tidak mendengarkan.
Zain terus menginjak gas meliuk-liukkan mobilnya kekanan dan kekiri seiring dengan dirinya yang menghindar dari kendaraan lain.
Nina tidak mengerti dengan temperamen suaminya ini. Tiba-tiba saja ia keluar dari mobil dan berlari ke dalam hotel. Sekembalinya, pria ini nampak murka.
Nina jadi takut jika tiba-tiba mobil ini oleng dan menabrak pengendara lain.
"Semoga mobil ini tidak keluar jalur" doa Nina dalam hati.
Akhirnya mereka sampai dalam waktu tempuh 15 menit. Padahal kecepatan normal 45 menit. Bisa dibayangkan betapa takut Nina berkendara bersama Zain.
Sampai di rumah saja wajah Zain masih terlihat murka. Ia berlari masuk kedalam dengan langkah yang besar dengan kaki yang panjang.
"AYAAAA" teriak Zain tanpa pandang tempat. Di kediaman yang penuh dengan ketenangan ini Zain meninggikan nada suaranya.
"AYAAAA"
"Zain ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau berteriak? Kau bahkan juga tidak mengucapkan salam" tegur Zelofia turun dari lantai dua kamarnya.
"Aya di hotel memakai pakaian minim"
...To be continued...
...Jangan lupa di like, vote, komen dan subscribe bebsss🙏🤗 Dukunganmu mengubah semangatku 😘...
__ADS_1
...Pengumuman!! ‼️...
...Besok judul 'Menikahi Duda Arab' resmi aku ganti besok pagi menjadi 'Gadis Untuk Zain' . Jadi tolong jangan lupa ya dan tetep dukung karya ini🙏...