Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Melepas Masa Duda


__ADS_3

Mata merah sembab Nina berbenturan dengan mata merah kedua orangtuanya. Seketika suasana kamar ini menjadi hening saat kedua orangtuanya mendengar nada bicara Nina yang tinggi. Mereka langsung membisu.


“Nina akan menerima pertunangan ini asal bapak sama ibu gak usah berantem lagi” Nina menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya, menangis. “Nina pengen sendiri… “


Mereka berdua hanya saling lihat dengan perasaan kesal. Namun mereka tetap menerima permintaan Nina untuk keluar dari kamarnya dan setelah itu Nina menangis sekencang-kencangnya. Wajah Nina menghadap kasur dan dari arah belakang ia tutup menggunakan bantal. Mereka tidak akan mendengar suara tangis Nina dari luar.


Sangat menyedikan!!


Beberapa bulan kemudian


Hari ini Nina berhasil menyelesaikan Pendidikan SMA nya. Bisa mengerjakan soal-soal ujian bersama dengan temannya membuat Nina bahagia. Walaupun Nina tidak mendapatkan nilai yang bagus, setidaknya ia bersyukur bisa sampai di tahap wisuda ini.


Nina lupakan semua masalah yang ada dalam hidupnya, mulai dari rasa jengkelnya dengan kedua orang tua dan pernikahan yang akan terjadi beberapa hari lagi. Setidaknya sebelum ia melepas masa lajangnya, ia ingin bersenda tawa dengan rekan-rekannya.


“Selamat ya Nin…”


“Selamat juga untukmu” Nina memeluk teman sebangkunya yang bernama Venya itu. Rasa rindunya suda terasa saat mereka akan segera berpisah. Venya yang akan pergi ke luar negeri untuk kuliahnya dan Nina akan menjadi seorang istri.


“Jangan lupakan aku” Venya memanyun sedih dan kembali memeluk temannya ini.


Secara tidak sengaja diwisuda ini Nina melihat sesosok pria yang pernah ada didalam hatinya. Dia juga menjalani wisuda di sekolah ini. Devan sedang tertawa dan melakukan sesi foto dengan keluarga dan juga temannya.


Tiba-tiba hati Nina sakit jika harus mengingat kejadian dimasa lalu. Nina harus ikhlas dan harus sabar. Ia yakin kebaikan sedang menunggunya.


Atensi Nina berganti melihat satu keluarga memasuki gerbang sekolah. Sontak itu menimbulkan perhatian teman-teman Nina, karena setahu mereka, tidak ada yang pernah melihat mereka sebelumnya.


Zelofia beserta Alzam juga Bian membawakan buket bunga lily merah muda, sesuai dengan warna kesukaan Nina. Mereka membawa masing-masing satu buket. Kedatangan mereka menemui Nina justru membuat teman-temannya merasa terkejut.


“Selamat ya sayang” Zelofia mengecup kedua pipi Nina dan memeluk tubuh mungil itu. Merasa amat bangga dengan kerja kerasnya.


“Terimakasih” jawab Nina menerima buket itu namun pandangannya was-was melihat kesekeliling. Ia merasa sedikit malu.

__ADS_1


“Congratulation” ucap Alzam dan bian juga mengulurkan buket bunga lily untuk Nina.


“Terimakasih” mata Nina melihat tiga bunga lily yang sama bentuk, warna, dan juga jenisnya. Nina diam lalu menyeringai lebar. Ia akan menerima semua pemberian orang, tidak baik jika membuangnya.


“Nin, setelah ini kamu tinggal masuk kuliah bareng sama Aya. Nama kamu udah aku daftarin di kampus tempat ku dulu”


“Sungguh?” antusias Nina melebarkan kedua matanya dengan wajah menengadah karena tingginya hanya sebatas bahu Alzam dan pria itu mengangguk.


“Kampusku juga itu. Jadi kamu bisa ketemu aku terus” Bian menyela dengan bangga dan sukses membuat Nina tertawa senang.


“Pernikahan kamu juga udah bunda daftarin… tinggal beberapa hari lagi ya” Zelofia juga tidak mau kelewat membuat Nina bahagia. Namun justru itu tidak membuatnya bahagia malah murung tercipta.


Namun Nina harus tetap terlihat bahagia. Ini suda menjadi keputusannya untuk menikah dengan Zain. Walau ini karena keterpaksaan, namun ia akan menerima Zain sebagai suaminya. Harus!


Mereka berempat masuk menemui kedua orangtua Nina yang masih berada di dalam. Melakukan cipika-cipiki dll.


Beberapa hari kemudian


Inilah pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Zelofia dan keluarga Fulan. Tidak semua tapi rata-rata. Aula pernikahan yang begitu mewah dan elegan, diiringi dengan para tamu pengusaha besar di seluruh asia ikut merayakan pernikahan putra ke-3 keluarga Darius. Hanya beberapa pengusaha saja, mengingat jika ini pernikahan kedua putra mereka.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ankazain bin Abrizal Darius dengan putri kandung saya Aynina Munada Shofa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian 3 karat dibayar tunai” ucap Fulan menangis Bombay.


“Saya terima… nikah dan kawinnya Anita…”


Deg


Seketika aula pernikahan ini menjadi hening. Mereka semua terkejut saat nama wanita yang disebut berbeda dengan wanita yang akan ia nikahi. Seluruh tamu membicarakan kesalahan Zain namun tersangka hanya diam seperti tidak punya salah. Dan Nina? Dia kecewa berat.


“Hemm… bisa kita ulang ya” ucap penghulu.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ankazain bin Abrizal Darius dengan putri kandung saya Aynina Munada Shofa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian 3 karat dibayar tunai” ucap Fulan sekali lagi namun dengan suara yang tegas.

__ADS_1


“Saya terima nikah dan kawinnya Aynina Munada Shofa binti Fulan julaedi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian 3 karat dibayar tunai” ucap Zain dengan lantang.


“Bagaimana para saksi sah?”


“Sah”


Detik itu juga Zain telah melepas masa duda dan Nina telah melepas masa lajangnya. Seluruh tamu menjadi saksi pernikahan sacral antara Zain dan juga Nina. Namun tidak semua tamu turut berbahagia, seperti Aya, Bella yang kurang suka dengan Nina dan Alzam yang tidak rela dengan pernikahan gadis muda tersebut. Namun apa yang harus Alzam lakukan? Ia hanya mengira Nina dengan ikhlas menerima pernikahan ini.


Doa pernikahan sudah selesai. Penghulu meminta Nina untuk mencium telapak tangan Zain sebagai tanda terima bahwa Zain adalah suaminya. Setelah itu tidak ada kecupan lain, hanya diam.


“Selamat ya sayang” Zelofia mengecup puncak kepala Zain lembut dan berganti ke menantu baru sekaligus keluarga baru Darius.


“Jangan menangis” bisik Marta seketika membuat tangis Nina semakin seru hingga membuat para tamu terharu. “Sudah-sudah” Marta memeluk tubuh Nina dan berbisik lagi. “Sayang… ibu tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu sebelum menikah, bahkan ibu tidak bisa memberikan hadiah untuk pernikahanmu. Kau tahu ekonomi ibu kan?”


Nina mengangguk lemah, “Iya…”


“Karena kau tidak tahu seperti apa sifat suamimu. Jadi sebaiknya kau menerima semua perilakunya kepadamu… jika kau menerimanya, kemungkinan dia akan bersikap baik kepadamu” ucap Marta penuh haru.


Nina memeluk sayang ibunya. Tak lama ia melihat wajah mungil dengan mata bulat berkaca-kaca. Ia Artur adik kandungnya.


Nina mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik dan mengusap air matanya supaya sang adik tidak melihat, “Hei jagoan… kakak titip bapak sama ibu… jangan pernah menangis… dalam hal apapun, jangan sekalipun adik kakak ini menangis. Kakak tidak suka”


Artur mengangguk patuh.


“Mana suaranya?”


“Iya kak” jawab Artur memeluk tubuh Nina.


Nina begitu sayang dengan adiknya. Adik kandungnya akan menerima omelan Fulan dan Marta seorang diri. Apa dia sanggup? Itulah kegelisahan seorang saudara kepada saudara kandungnya.


Zelofia begitu terharu melihat dua saudara kandung ini, namun ia juga tidak bisa membiarkannya terlalu berlarut-larut. Takutnya itu membuat Nina susah untuk beradaptasi.

__ADS_1


“Zain… kau sudah menjadi suami Nina… kau bawa istrimu ke vila keluarga di puncak ya” ucap Zelofia kepada putranya.


To be continued


__ADS_2