![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Sebelumnya, Nina merasa begitu bosan berdiam diri di lift tanpa melakukan apa-apa. Ia harus menunggu bala bantuan yang tidak kunjung datang. Apa Nina harus tetap diam?
Ia mengingat jika masih membawa bekal makanan. Lagipula ini sudah hampir siang, jadi tidak masalah jika Nina ingin mencicip bekalnya sekarang.
"Ini kan sudah beberapa jam dan sudah waktunya makan, karena aku lapar jadi aku harus makan" jawab Nina melihat Zain yang masih menatap hina dirinya dari atas sana.
"Lagipula makanan ini akan segera basi jika kita tidak memakannya! Duduklah dan makan bersamaku... aku tidak akan melakukan apapun, bahkan aku juga tidak akan menyentuhmu. Sayang banget, makanan ini enak... apalagi yang buat, cewek cantik" lirih Nina di kalimat 'cewek cantik', takutnya Zain dengar.
Bisa malu dia!!.
"Makan saja" acuh Zain menolak. Ia tidak sudi untuk berdekatan dengan Nina, apalagi makan bersamanya!.
Namun Nina tidak akan menyerah mengetahui Zain menolak tawarannya. Ini bekal untuk Zain dan dia, masa iya cuma Nina yang makan?
"Hemm harum sekali makanan ini... rendang ini juga enak, tadi aku sudah coba. Astaga telurnya setengah matang" iming-iming Nina.
"Ini di lift, bau amis pasti menyengat sampai hidung. Kau memang tidak paham ya!!!" Zain menutup kedua hidungnya dengan jari telunjuk. Ia masih kekeh dengan citranya.
"Tapi bau gurih rendang sama telurnya enak banget... chicken nya juga uhhh enak sekali" Nina mengambil satu-satu makanan yang sudah ia sebut tadi.
"Anda benar tidak mau? Baiklah, aku tidak akan memaksa!"
"Kau tidak kenal tempat jika ingin makan?" Zain menyentak namun bibir Nina malah menyungging ceria.
"Tuan, coba anda makan seperti ini. Duduk bersila dengan makanan ada dihadapan kita... bukankah ini sudah seperti camping di taman-taman gitu! Ini terlihat lebih akrab dan menyenangkan... Anda pasti tidak pernah melakukan hal ini kan" kata Nina memilih makan.
Masa bodoh! Lagian dia sudah sangat lapar, mau Zain ikut makan atau tidak perutnya akan tetap kenyang.
Melihat Nina makan seperti ini justru mengingatkan Zain dengan sesosok wanita di masa lalu, dimana wanita itu membawa makanannya ke atas bukit dan menikmatinya disana.
Posisinya sama, wanita itu duduk bersila dan Zain disebelahnya. Hal itu membuat Zain begitu rindu dengan kehadiran sang wanita.
Zain menatap mulut gadis muda yang masih mengunyah chicken dan rendang secara bersamaan.
"Dasar rakus" desis Zain bersandar di dinding lift dengan kedua tangan bersidekap seraya mata memperhatikan Nina yang sedang makan tanpa adanya gangguan.
__ADS_1
Beberapa menit memandang Nina makan, kenapa rasanya perut Zain melilit. Suara kodok dalam perut itu sudah terdengar di telinga kecil Nina.
"Anda lapar, kan!! Anda bisa makan semuanya... lagipula tadi aku tidak melihatmu sarapan tadi pagi?" tebak Nina dan memang itu kenyataannya.
Tadi pagi karena kesal Zain langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Lalu, jika sekarang ia ingin ikut makan bersama Nina apa tidak masalah?
Mungkin saja dengan ini, Zain bisa melepas rasa rindu yang muncul secara tiba-tiba.
"Ini menggunakan uang keluargaku. Aku tidak bisa membiarkannya mubazir" alasan Zain lalu duduk bersila berhadap-hadapan dengan Nina.
Nina membuka mulutnya lebar-lebar hingga makanan yang sudah di kunyah itu terlihat. Ia tidak menyangka jika seorang Ankazain yang dingin dan meninggikan citranya itu takluk hanya demi makanan.
Ini merupakan sebuah peningkatan, Nina. Ia begitu bahagia.
"Ehem" Nina meneruskan makan siangnya dan Zain juga makan, namun tidak banyak.
Pria itu hanya makan satu gigitan lalu menutup kedua matanya, seperti sedang menikmati setiap rasa. Tidak tahu saja Zain ini sedang merasakan momen-momen nya bersama dengan mendiang sang istri.
_________
Di tempat lain...
Alzam berjalan memakai seragam medisnya menuju ruangan kerja. Tidak lupa ada perawat yang selalu setia disamping sang Dokter.
"Perawat Nensi, apa ada pasien yang akan berkonsultasi dengan saya dalam waktu dekat ini?" tanya Alzam berjalan menuju ruangannya.
"Sepertinya ini keberuntungan untuk anda... hari ini anda free Dokter" Nensi tersenyum tanpa dilihat Alzam yang terus berjalan didepannya.
Nensilia Emin Durkan, merupakan seorang perawat cantik dan manis. Kecantikannya mampu memikat hati para Dokter-dokter terkenal di rumah sakit ini, namun ia gagal memikat pria berdarah Arab ini.
Sudah lama Nensi setia dan mengabdikan dirinya menjadi perawat untuk Dokter Alzam, namun tidak sekalipun Alzam melihat hatinya.
Alzam dan Nensi sudah ada di ruangan.
Alzam mendudukkan tubuhnya di kursi kerja dan Nensi menata berkas-berkas pasien yang sudah menjadi rutinitasnya selama ini.
__ADS_1
"Nensi"
"Iya, Dokter?" Nensi berhenti menata berkas-berkas dan fokus dengan panggilan Alzam.
"Tolong carikan riwayat medis pasien bernama Anitasia Lunara. 5 tahun yang lalu ia pernah menjadi pasien di rumah sakit ini" titah Alzam.
Nensi tahu siapa wanita yang Alzam maksud, karena ia pernah sempat menjadi Dokternya, walau akhirnya di ganti oleh Dokter lain.
Waktu itu Alzam ada pelantikan masa jabatan. Jadi ia tidak bisa membatu mengobati Anita, yang merupakan kakak iparnya.
"Kalau boleh tahu, mengapa anda mencari riwayat medis pasien bernama Anitasia? Bukankah semua itu sudah di tangani oleh Dokter lain?" tanya Nensi seraya memberikan berkas pasien yang harus Alzam tanda tangani.
"Kau tahu sampai sekarang kakakku Zain masih kurang suka dengan diriku..."
Nensi menarik kursi dan duduk disebelah Alzam. ia begitu tertarik jika Alzam menceritakan tentang keluarganya.
Dan Nensi tahu jika Zain memang kurang dekat dengan Alzam. Ia juga tahu kalau keduanya sudah sangat jarang bertukar kabar.
Yah, Nensi ini sudah Alzam anggap sebagai sahabatnya, tentu akan susah untuk Alzam menaikan status hubungan mereka.
Nensi tidak mempermasalahkan hal itu. Ia tetap suka dengan Alzam.
"Walaupun dia diam, tapi aku bisa melihat bahwa ada rasa kecewa didalam dirinya untuk diriku. Aku seharusnya yang mengobati istrinya tapi justru malah Dokter lain... aku seperti adik ipar yang tidak baik, Nensi"
Nensi menyangga dagunya dengan telapak tangan lalu membuang nafas, "Resiko Dokter memang seperti itu... mereka sudah mengandalkan kita, namun kita tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri. Ada banyak pasien yang membutuhkan kita dan kita tidak bisa mengobatinya secara bersamaan. Otomatis ada salah satu dari mereka di obati tanpa bantuan kita... kalau itu tiada, bukan salah kita tapi memang itu sudah takdir yang maha kuasa. Ini salah Zain, kenapa dia menyalahkan mu atas meninggalnya istrinya!"
"Apa orang lain begitu berharga?" Alzam melihat Nensi yang berada didekatnya.
"Dari sudut pandang Dokter sendiri bagaimana?" tanya Nensi dengan santai.
"Aku lebih mementingkan kesehatan pasien dari pada diriku sendiri, tapi bagaimana aku bisa mengabaikan kakak iparku hanya karena ingin naik jabatan?"
"Apa anda sedang merasa menyesal, Dokter?" mata Nensi menyipit penasaran kepada Alzam yang sedang memikirkan.
"Iya"
__ADS_1
"Apa gunanya anda menyesali perbuatan itu? Jika hal itu sudah berlalu kenapa anda perlu menyesalinya? buang-buang waktu saja" Nensi berdecih lirih.
'Aku menyesal... jika waktu itu aku mengobatinya, kemungkinan kak Anita masih hidup dan hidup bahagia bersama kak Zain. Tidak akan ada Nina yang datang ke kehidupan kak Zain, tidak akan ada tangisan di dalam diri Nina yang menarik ku untuk mengusap air matanya, Aku menyesal...' monolog Alzam dalam hati.