Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Zain Yang Pengertian


__ADS_3

“Kak Zain” pekik Alzam langsung bangkit dari duduknya dan menjauh dari perempuan itu. Ia sudah mencium bau-bau kecemburuan, terlihat jelas di raut wajahnya.


“Ayo kita pulang” ajak Zain menggandeng Nina pergi.


“Aku pergi dulu mas, Assalamualaikum” lirih Nina kepada Alzam yang menjawab dengan lirih juga.


Alzam merasa ada yang ganjal dengan kakaknya itu. Seharusnya saat ini pria itu merasa cemburu dan akan marah-marah, namun berbeda dengan kali ini.


“Aldo” Alzam langsung membuka pintu ruangan Dokter tersebut sampai duduk tepat didepannya dengan tatapan mengintimidasi.


“Hm apa?” Aldo menghentikan tulisannya.


“Apa yang kau katakan kepada kak Zain tadi? Kenapa pria itu terlihat murung dan diam?”


“Bukankah itu memang karakternya?” Aldo menaikan kedua bahunya acuh. Sebenarnya dia saja yang enggan untuk memberitahu.


Alzam tertawa, “Aku tahu kakak ku saat dia diam karena karakternya dan diam karena banyak pikiran. Ayolah, aku tahu kau mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya”


“Kau sedang mengintimidasiku?”


“Bisakah kita bahas masalah kakak ku dulu?”


“Dokter tidak boleh menyebarkan rahasia pasien” sindir Aldo menolak memberitahu rekan sesama dokternya.


“Aku ini saudaranya, adik iparnya” kekeh Alzam ingin tahu.


“Lah kenapa kau tidak tanya langsung dengan kakak mu jika kau memang betul adik iparnya dan saudaranya? Kenapa harus tanya diriku yang ujungnya aku putar-putarkan?”


Alzam terdiam membisu. Yakin saja dari guratan-guratan wajahnya tersimpan sebuah kemarahan yang ingin menelan pria itu.


Jemari Alzam meraih tempat pensil dan melemparnya ke wajah Aldo, “Susah bicara dengan wanita”


“Hei kau mengejekku ya!!” teriak Aldo saat pria itu sudah berlari keluar.


_____


Diperjalanan pulang wajah pria yang sedang menyetir ini tidak bisa dikatakan bahagia, juga tidak sedih. Wajah pria ini terlihat datar dan membuat Nina penarasan.


“Tadi dokter Aldo bilang apa?” tanya Nina mencoba menggali obrolan Zain dan Aldo.


Zain menoleh dan menggenggam tangan kanan Nina dan tangan satunya menguasai stir mobil, “Dokter itu hanya bilang untuk aku mengatur jadwal keseharianmu, mulai dari makan, pola tidur, dan… lain-lain”


“Oh begitu!” Nina mengangguk dan mulai penasaran lagi, “Dokter itu juga sudah memberitahuku sebelumnya. Masak iya dia memberitahu dirimu lagi”


Zain menarik kepala perempuan itu dengan pelan lalu mencium dahinya.

__ADS_1


“Jangan khawatir! Dokter itu hanya mengingatkan saja dan tidak ada yang lebih. Dalam beberapa kali kemoterapi kau akan segera sembuh”


Nina tersenyum dan mengangguk dengan semangat. Tangan kanannya dibiarkan tergenggam oleh tangan Zain, seakan tidak mau lepas.


Setelah Zain tahu mengenai penyakit Nina, begitu juga dengan seluruh anggota keluarga Darius. Seluruh anggota Darius sangat menyayangkan menantunya mengidap penyakit yang serius setelah kejadian itu menimpa menantu terdahulu. Namun, mereka semua selalu memberikan support untuk Nina dan perhatian yang sangat lebih. Dibanding itu semua, tidak ada perhatian yang lebih besar selain milik suaminya.


Seperti saat ini. hari demi hari yang Nina lewati tidak luput dari suaminya yang selalu menemani. Dimanapun Nina berada pasti selalu ada Zain disampingnya. Pria ini tidak mau lepas barang selangkahpun dari sisi Nina dan akan terus bersama.


Zain sedang menata rambut istrinya yang duduk didepan cermin. Dia ingin mengikatnya menjadi dua dan membuat Nina seperti boneka.


“Aku akan carikan pita untukmu supaya boneka milikku ini terlihat semakin cantik” kata Zain mencari pita di laci meja rias. Sesekali dia mencium pipi Nina dan senyuman tercipta.


“Sudah ketemu?”


“Tentu, ini” Zain memperlihatkan pita itu dan memasangnya.


Setelah selesai barulah Nina bercermin didepan kaca. Wajahnya yang masih imut walau kedua pipinya sudah agak menciut.


“Waw kau pantas menjadi perias” gurau Nina tertawa melihat Zain yang juga tertawa.


Tidak lama pria ini melihat jam di pergelangan tangannya, “Jam makan siang. Kau harus makan siang!”


“Aku tidak mau makan dengan menu yang sama lagi” protes Nina saat Zain menggendongnya menuju ranjang. Memang, semenjak sakit pria ini tidak pernah membiarkan kedua kaki Nina menginjak lantai.


Zain mendudukan Nina diatas ranjang, “Lalu kau ingin makan apa? Aku akan buatkan makanan kesukaanmu saja?”


“No” tegas Zain menolak, “Lost of oil (banyak minyak) kau tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak minyak. Sup saja ya?”


“Nggak mau! Maunya seblak” kekeh Nina dengan permintaannya.


Pria itu membuang nafas dan memutar otaknya, “Aku akan membelinya untukmu. Kau disini saja dan jangan kemana-mana”


Nina hanya mengangguk dan membiarkan Zain keluar membeli seblak.


Siang hari yang terik ini membuat pria dingin tersebut harus kesusahan mencari makanan yang istrinya inginkan. Beruntung saja Zain tidak kesasar saat menggunakan maps. Zain masuk kedalam resto itu untuk memesan seblak tanpa peduli pandangan mereka.


“Eh-eh! Bukannya dia tuan Ankazain si pengusaha DS group ya?”


“Kok tahu?”


“Iya-iyalah aku pernah nemenin bos ku ke perusahaannya. Wah ternyata selera pengusaha sama kayak kita juga ya!”


Gosip-gosip terus terdengar di telinga Zain, namun semuanya tidak diambil pusing.


“Mas seblak satu tanpa minyak, tanpa cabe dan kaki ayam” ucap Zain membuat penjual itu terbelalak.

__ADS_1


“Terus gimana konsepnya, tuan?”


“Saya akan banyak mahal asal kau membuatkan diriku seblak tanpa bahan yang aku sebutkan” Zain memberikan 5 uang berwarna merah dengan gambar presiden Indonesia.


“I-ini kebanyakan tuan”


“Ambil saja! Sedekah dariku untuk kesembuhan istriku” lirih Zain masih dengan wajah datar.


“Semoga istri anda diberi kesembuhan tuan”


“Amin”


Lantas penjual itu segera membuatkan seblak yang Zain pesan tanpa bahan yang disebutkan tadi. Cukup lama Zain membuatnya dan akhirnya penjual itu selesai juga.


“Ini seblaknya tuan”


Zain mengambilnya setelah dia memberikan uang lebih kepada penjual itu, “Terimakasih”


“Tuan tadi anda sudah memberi saya uang” penjual itu mengingatkan jika kemungkinan Zain lupa.


“Ambil saja untuk anak dan istrimu. Doakan kesembuhan istriku saja” balas Zain buru-buru keluar memasuki mobil.


“Terimakasih Tuan”


Sesampinya di rumah, Zain bergegas mengambil mangkuk lalu menemui Nina yang sudah menunggu dirinya lama.


“Maaf membuatmu menunggu lama” kata Zain duduk ditepi ranjang serta menyiapkan seblak yang Nina inginkan.


“Ini tidak ada minyaknya! Emang enak?”


“Yang penting seblak. Kau tidak boleh makan yang ada minyaknya” tanpa peduli itu Zain menyendok kuahnya dan meniupnya pelan, “Ini udah nggak panas jadi aman. Buka mulutmu aa”


Nina hanya diam saja, bahkan tanpa mau membuka mulutnya.


“Aynina buka sedikit mulutmu. Tadi kau bilang ingin seblak… aaa” Zain masih menyuapkan sendoknya ke mulut Nina yang belum juga terbuka.


“Aku ingin seblak bukan sup”


“Ini seblak” bantah Zain meninggikan nada suaranya.


“Seblak identik dengan minyak dan rasa pedas. Kalau putih kayak gini namanya sup” bantah Nina menaruh mangkuk itu diatas nakas.


“Sayang, kau tidak boleh makan makanan seperti itu. Jika kau sduah sembuh nanti, kau boleh makan apapun yang kau mau. Tapi tolong makan seadanya dulu dan turuti permintaan dokter” Zain kembali meraih sup nya, “Ayo buka mulutmu, setidaknya sedikkkit saja aa”


“Aku sudah tidak mau makan itu”

__ADS_1


Zain membuang nafas sabar, “Lalu kau mau makan apa sayang?”


__ADS_2