Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kaki Nina Bengkak


__ADS_3

Beberapa menit berlalu dimana keduanya sudah selesai menjalankan ibadah sholat sunah pengantin baru, Alzam dan Nensi menjalankan ibadah yang disebut dengan sunah rasul.


Sebenarnya Alzam sudah sangat lelah selepas pernikahan mereka, namun pria ini juga tidak bisa menahan jika istrinya yang bar-bar terus menggoda dirinya. Tentu, pria manapun tidak akan bisa menahannya.


Mereka melakukan kegiatan itu hingga subuh tiba. Pergulatan yang terasa menyenangkan untuk pasangan pengantin baru.


______


Jika pasangan baru itu sedang bermadu kasih didalam sangkarnya hingga subuh menjelang, berbeda dengan pasangan yang baru diberi anugerah ini.


Zain dan Nina sudah siap dengan barang-barang nya didalam koper. Mereka sudah berkemas pagi-pagi sekali untuk pergi ke Mansion baru.


"Hubby udah bilang sama bunda sama ayah kan, kalau kita mau berangkat pagi ini?" tanya Nina melipat baju-bajunya.


"Tentu saja sayang! Bunda sudah tahu kalau kita mau pergi sekarang" balas Zain juga melipat pakaian membantu Nina.


"Disana pasti sepi ya Hubby?"


"Sudah ada beberapa pekerja yang aku perintahkan untuk membantu mu selama di sana. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan dirimu repot sendiri" Zain mengusap lembut pipi Nina.


" Iya sudah... kalau itu sudah jadi keputusan suami, aku yang sebagai istri hanya bisa nurut"


"Harus" gurau Zain tersenyum saat istrinya itu juga tersenyum memperlihatkan kedua pipinya yang kembali berisi, "Jika aku lihat, kedua pipi ini kok makin cabi ya?"


"Aaw" pekik Nina kesakitan saat Zain yang tega mencubit kedua pipinya. "Ini mungkin bawaan bayi kali ya Hubby?"


"Mungkin saja" balas Zain asal karena sebenarnya ia juga tidak yakin.


"Hubby mau anak cewek atau cowok? Kalau aku sih maunya anak cewek..."


"Kenapa suka anak cewek?" tanya Zain menanggapi istrinya sembari berkemas. Zain tahu perempuan ini akan bercerita banyak jika sudah bersamanya.


Nina yang bersemangat segera mendekat, "Dulu waktu ibu hamil Artur, aku peeeengen banget punya adik cewe karena cewek itu bisa dipakein baju lucu-lucu, terus bisa di dandanin model gimana aja cantik..."


"Kalau cowok?" Zain menaikan satu alisnya tanda penasaran.


"Kalau cowok itu-itu aja"


"Terus waktu yang keluar ternyata Artur, gimana perasaan kamu?" tanya Zain lagi, membuat Nina semakin bersemangat cerita.


"Aku marah waktu itu... karena memang saat itu aku masih kecil dan belum tahu apa-apa. Pikirku orang hamil itu bisa request" ucap Nina malah tertawa sendiri dengan ceritanya.


"Kamu pikir pesan makanan bisa milih" gurau Zain menggelengkan kepalanya heran. Bisa-bisanya perempuan ini bercerita seperti itu.


Nina tidak henti-hentinya mengusap perutnya yang masih datar berisi janin anaknya. Astaga wanita ini sangat bahagia dengan kehamilannya.

__ADS_1


"Hubby, kalau anak kita ini beneran cewek kamu mau ngasih nama apa?"


"Kamu maunya apa?" tanya Zain malah melempar balik.


"Aish kan aku tanya sama Hubby... aku nggak bisa ngasih nama"


Zain akhirnya berpikir, "Azzani?"


"Azzani?"


"Ankazain dan Aynina" balas Zain mengartikan maksud nama yang ia pilih tadi.


"Azzani... menarik juga" Nina mengangguk menerima, "Tapi, kalau yang keluar cowok bagaimana?"


"Zayyan, panggilan nya Zay" balas Zain membuat Nina tersenyum semakin lebar.


"Setelah ini aku jadi tidak milih-milih mau anak cewek atau cowok. Jenis kelamin bayi tidak begitu penting... yang penting itu bayinya sehat dan selamat tanpa kurang sedikitpun" doa Aynina.


Zain menatap teduh wanita itu, lalu menyentuh memberikan usapan-usapan kecil disana.


"Apapun jenis kelaminnya. Keduanya tetap anak kita dan jangan pilih-pilih... " Zain menasehati serta mengecup dahinya lama. "Ya sudah, ayo kita turun... kita harus berangkat ke rumah baru"


"Ok"


___


"Hati-hati di jalan ya... kalau sudah sampai disana langsung kasih kabar" kata Zelofia kepada dua anaknya.


"Iya bunda"


Nina dan Zain menyalami seluruh anggota keluarga mereka secara bergantian. Mereka saling memberikan doa untuk keselamatan dalam berkendara dan memberikan sapaan perpisahan.


Selepas itu keduanya masuk kedalam mobil. Detik berikutnya mobil melaju kencang membelah jalanan serta meninggalkan kediaman.


sesampainya di Mansion baru, mereka turun dibantu oleh Ebil yang memang sudah menjadi tangan kanan Zain saat ini.


"Sayang kau kenapa?" tanya Zain merangkul bahu Nina, mencoba berinteraksi karena sedari tadi istrinya murung tanpa mengajak bicara.


"Nggak papa" balas Nina masih nampak murung.


Mungkin wanita ini masih terbawa suasana ramai di kediaman Darius, pikir Zain.


"Selamat datang di rumah baru kita sayang" kata Zain membuka pintu depan dengan sangat lebar.


Saat itu juga Nina terpaku melihat seseorang yang ada didepannya. Wanita muda yang sudah ia jadikan kakak sekaligus sahabat untuknya juga ada di rumah barunya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah baru" Maya merentangkan kedua tangannya seperti menyambut.


"Kak bukannya kau bekerja di kediaman Darius?" tanya Nina tidak menyangka. Ia pikir akan sendirian di tempat ini.


"Tuan Zain meminta ku untuk bekerja disini. Jadi, kita akan sering bertemu dan aku akan menemanimu" ucap Maya membiarkan Nina memeluknya dengan erat.


"Aku pikir akan sendirian disini dan harus kembali berinteraksi dengan orang-orang yang baru lagi" kata Nina disela-sela pelukannya.


"Aku tahu kau menginginkan Maya. Jadi aku meminta Ebil untuk mengajak Maya bekerja di Mansion ini. Terlebih, bunda sudah memberi ijin"


"Terimakasih Hubby" balas Nina memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.


"Sama-sama" Zain juga balas memeluk Nina, "Jadi mulai sekarang, Maya akan membantu semua pekerjaanmu dan kau tidak diperbolehkan untuk bekerja yang berat-berat"


"Bantu-bantu dikit nggak masalah dong! Kan buat olahraga sedikit"


"Sedikit saja. Jangan sampai kelelahan" ucap Zain dan istrinya ini mengangguk menerima.


Keduanya melepas pelukan dan melihat-lihat kamar mereka serta kamar yang akan ia persiapkan untuk buah hatinya nanti.


______


Selama hidup di mansion, Nina benar-benar susah untuk bergerak. Selain karena hamil, suaminya ini juga sangat posesif. Hampir 5 bulan Nina tidak diperbolehkan untuk bekerja dan terus bersantai.


Hal itu membuat berat badan Nina bertambah. Penampilannya pun juga berubah, dari yang tadinya kecil menjadi berisi dengan kedua pipi cabi dan tentunya masih menggemaskan.


Saat ini wanita hamil itu sedang duduk diatas ranjang mengemil makanan sembari menonton tv di kamar. Sementara Zain bersiap pergi ke kantor.


"Sayang aku akan berangkat... nanti siang keluarga mau datang untuk membahas acara 7 bulanan bayi kita"


"Hm" balas Nina singkat.


Zain mengernyitkan dahinya, "Sayang kau kenapa?"


"Hubby tahu tidak? Berat badanku melonjak drastis... selain perutku yang besar, kini tubuhku juga melebar!! Astaga aku sudah mirip seperti bola karena dirimu! Oh iya, kedua kakiku bengkak Hubby" adu Nina di kalimat terakhirnya.


Zain mencoba memastikan kedua kaki Nina dan benar saja bentukannya. Jari-jari kaki Nina terlihat besar-besar semua seperti disengat lebah.


"Kok bisa gitu ya?"


"Nggak tahu" balas Nina menaikan kedua bahunya.


"Kita coba tanya ibu" Zain mengambil ponselnya dan menghubungi bunda Zelofia.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2