Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Lagi Pengen Mulung


__ADS_3

Mendengar penolakan Nina, Aysil langsung membuka mulutnya lebar-lebar.


'Dia menolak memberikan kopi ini kepada Tuan Zain? Padahal niat aku baik mau deketin dia... dasar gadis kecil bodoh' maki Aysil dalam hati.


"Nona..." panggil Aysil saat Nina hampir pergi dari dapur ini, "Apa Nona bisa membantu bibi sekali saja... Hem, tolong Nona buang sampah yang sudah menumpuk itu... saya belum sempat dan harus mengantarkan kopi"


"Baiklah bibi" Nina mengangguk meletakan tehnya diatas meja lalu mengambil sampah yang ada di pojok dapur.


Aysil pun tersenyum senang.


_______


Di depan villa ada sebuah pendopo dengan kursi dan meja kayu, dimana Zain duduk disana bersama dengan anak buahnya Ebil. Selain supir, Ebil juga diangkat menjadi asisten pribadi Zain.


Keduanya tengah membicarakan sesuatu yang serius mengenai perusahaan-nya. Mata Zain tidak bisa lepas dari angka-angka yang layar tab nya tampilkan.


"Ini semua data pemasukan di bulan Maret sampai Agustus, Tuan" Ebil masih berdiri. Ia tidak berani untuk duduk.


"Kak Asad meminta ku untuk mengirim riwayat pemasukan bulan Januari sampai Desember. Yang lain mana?" Zain menatap tajam kearah Ebil yang berdiri dihadapannya.


"Kami belum merekapnya, Tuan"


Zain melempar rendah tab ke atas meja. Ia sangat kecewa mendengar anak buahnya bisa melakukan pekerjaan lambat seperti ini.


"Kapan aku memberitahumu terkait ini?"


"Ti-tiga Minggu yang lalu, Tuan" cicit Ebil menjawab.


"Kurang lama?" sentak Zain membuat Ebil menunduk takut. Wajah datar Zain sukses membuat jantung Ebil bergetar hebat. Ia sangat ketakutan.


"Aku tidak mau tahu... dalam waktu 1 jam kau harus sudah merekap semua pemasukan perusahaan kita. Aku tidak bisa membuat kakakku kecewa" tegas Zain mengepalkan tangannya dan membenturkannya di papan meja.


"Baik, Tuan... saya pamit terlebih dahulu... Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Zain menyesap kopi yang ada diatas meja. Tadi Aysil sempat menyuguhkan kopi keinginan Zain, tepat saat keduanya masih berdebat hebat. Aysil tidak mau kena semprot jadi dia hanya diam dan pergi.


Dari kejauhan, tepatnya dibawah villa. Zain melihat seorang gadis dan laki-laki sedang memunguti sampah. Kening Zain menyerngit ingin tahu siapa pemilik dress bunga-bunga yang mirip dengan pakaian istrinya.


Nina, dia adalah Nina. Saat itu Nina menenteng kresek besar untuk ia buang ke tempat sampah. Ia hanya perlu menaruhnya ditepi jalan depan villa. Namun rupanya ada laki-laki seumuran dengannya datang dan meminta sampah anorganik kepadanya.


Mengetahui itu Nina membantu memilih sampah anorganik untuk si laki-laki, walau konsekuensinya dress nya kotor dan bau.


Nina memasukan botol soda kedalam karung si laki-laki, "Sampah anorganik akan kau jual kemana?"

__ADS_1


"Ke penjuallah..." jawab laki-laki itu agak sedikit kesal. Ada-ada saja pertanyaan gadis ini.


Nina mengangguk mengerti, "Kau benar akan mendapat uang dengan menjual sampah-sampah ini?"


Laki-laki itu mendengus kesal, "Jika tidak mendapatkan uang untuk apa aku melakukan semua ini. Membuang-buang waktu saja"


Lagi-lagi Nina mengangguk. Betul juga ya, pikirnya.


Tidak lama Nina ingat sesuatu.


"Kau bisa tunggu aku disini... aku akan masuk dan mengambil sampah-sampah untukmu. Kau bisa menjualnya" binar Nina melangkah masuk ke dalam Villa.


Nina yang antusias telah mengabaikan suaminya yang sedari lama duduk di pendopo memperhatikan obrolan mereka. Memangnya kenapa jika Nina melakukan itu, apa peduli Zain?


Zain hanya menggelengkan kepalanya acuh.


Nina masuk ke dalam dapur mengambil botol-botol Aqua yang sudah terlihat buruk dan tidak cocok untuk digunakan kembali.


"Nona, kenapa anda menuangkan air itu kedalam gelas? Kan belum habis!" sela Aysil saat melihat Nina menuangkan air botol Aqua sisa kedalam gelas.


"Gak papa bi... botolnya lebih berguna" Nina menyeringai lebar lalu berlari keluar menemui laki-laki itu.


Laki-laki itu kagum melihat Nina membawa banyak sekali barang bekas, tentunya itu sampah anorganik.


"Wahhh ternyata villa ini gudangnya sampah ya" gurau laki-laki itu yang tak lain ingin memuji Nina.


Keduanya pun tertawa menggelegar hampir mengusik ketenangan Zain. Beruntung pria itu memakai earphone di telinganya.


"Kau memang agak-agak"


"Agak-agak apa?"


Laki-laki itu berpikir sejenak, "Lucu"


Seketika mata Nina berbinar dan pipinya ia besar-besarkan. Ia suka dengan pujian itu, apalagi tidak ada yang memujinya lucu selama ini.


"Aku memang lucu... kau tidak usah memujiku"


Laki-laki itu berdecih jijik. Lihatlah! Gadis ini malah terlihat menggelikan jika sedang percaya diri, dimana Nina akan senyum-senyum sendiri.


"Oh iya... Hasil penjualan ini---"


"Bagi dua?" tanya laki-laki itu melebarkan kedua matanya. Ia benar-benar tidak mau jika uang hasil penjualan sampah ini dibagi dua.

__ADS_1


Hasilnya saja tidak seberapa, mau dibagi dua!!.


"Aih bukan gitu... aku mau tanya, hasil penjualan ini sekitar berapa?"


"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" acuh laki-laki itu memasukan botol-botol soda kedalam karung.


"Cuma tanya saja" Bukan tanpa alasan Nina bertanya seperti itu.


Kening laki-laki itu menyerngit berpikir, "Dilihat dulu seberapa banyak aku dapet mulungnya... biasanya aku dapet 50k sampai 75k... tapi kalau inimahhh sekitar, 200k"


"Wah lumayan tuh... aku pernah angkut-angkut barang dikasih ibu-ibu 100k, lebih banyak mulung ya!!" sesal Nina malah curhat dan membandingkan rejeki orang.


"Yah lumayanlah... bisa buat uang saku di kampus sama kebutuhan rumah"


"Eh... kuliah?" pekik Nina tidak menduga dan laki-laki itu menyengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia keceplosan.


Nina hanya mengangguk.


Beberapa menit berlalu Nina sudah membantu laki-laki itu mengemasi sampah-sampah anorganik kedalam karung besarnya. Ada sekitar 3 karung berisikan sampah anorganik yang sudah ia temukan.


"Selesai" pekik Nina setelah mengikat ujung karung degan tali.


"Terimakasih ya... kamu sudah mau bantu aku" ucap laki-laki itu merasa terharu dengan bantuan Nina. Ia tidak pernah mendapatkan bantuan seperti ini, kebanyak orang-orang selalu memandangnya sebelah mata.


"Sama-sama..." Nina tersenyum simpul.


"Aku jadi bingung gimana membalas kebaikanmu ya?"


"Eh gak usah... aku ikhlas" tolak Nina melambaikan kedua tangannya menolak. Ia merasa tidak enak tapi anak laki-laki itu justru malah semakin tidak enak jika Nina membantunya dengan cuma-cuma.


"Udah santai... gini aja! Aku kan ini lagi buru-buru, gimana kalau seandainya kau butuh sesuatu, Kau bisa datang ke tempat tinggal ku di desa xxx. Bilang aja kalau kamu temen Argan" Argan menyunggi karung itu keatas kepalanya membuat Nina melebarkan kedua matanya kaget.


Pria muda bertubuh kecil itu bisa kuat mengangkat karung besar? Pikirnya. Memang berat, namun ia senang bisa menjual banyak sampah berkat Nina.


"Bentar... itu gak berat?"


"Hallah... santai, 50 kilo aku jabanin Hahha" Argan jadi antusias sendiri karena mendapatkan rejeki nomplok.


"Terus karung-karung ini gimana nasibnya?" tanya Nina menunjuk dua karung yang belum diangkut.


"Nanti aku balik lagi... aku pergi dulu ya, terimakasih" Argan segera berlari meninggalkan Nina. Nina yang melihat semangat Argan hanya bisa melongo penuh dengan rasa kagum. Ia juga kagum dengan hasil penjualan sampah ini.


"Aku jadi pengen mulung"

__ADS_1


To be continued


Absen bebssss vote and like and cement and support and... yah intinya dukungan kecil untuk aku😘


__ADS_2