Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kepergok Suami


__ADS_3

“Tua? Aku rasa tidak! Dia saja yang terlalu muda” timpal Zain tidak berniat berpikir lebih.


Namun, pria itu bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan bulu halus yang dikata tebal oleh adiknya.


Beberapa menit berlalu akhirnya Zain selesai mencukur bulu di dagunya. Memang ada sedikit perubahan dimana pria ini nampak fresh dan lebih tampan.


Dretttt


Ponsel Zain berdering diatas meja, membuat ia berjalan meraih untuk mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Husein?" ucap Zain mendekati almari pakaian yang biasa digunakan untuk menyimpan para bajunya.


"Walaikumsalam, Zain bagaimana nanti malam? Apa kau jadi datang ke apartemenku? Aku dan istri harus belanja dulu dan bersiap-siap masak jika kau memang ingin datang berkunjung"


Zain baru ingat jika dirinya mendapat undangan makan malam di apartemen Husein dan ia lupa belum memberikan pria ini kepastian.


"Aku..." Zain tidak jadi berbicara. Niatnya ia ingin menolak tapi juga tidak enak. Mau menerima, tapi Nina kan mengurus ibunya yang sedang sakit.


"Ada apa Zain? Apa kau ada kendala dan ingin membatalkannya? Jika iya pun tidak masalah Zain. Aku akan menerimanya, lagipula aku juga tidak memaksa" kata Husein dari seberang telpon.


"Hem, maaf Husein... sepertinya untuk malam ini kami tidak bisa berkunjung ke apartemen mu. Ada urusan yang tidak bisa ditinggal" kata Zain mencoba mengucapkan alasannya.


"Tidak masalah Zain! Aku mengerti... lain kali saja tidak apa-apa. Insyaallah kita diberi umur panjang dan berkumpul bersama untuk saling bercerita"


Zain mengusap leher bagian belakangnya yang baik-baik saja, "Maafkan aku! Seharusnya saat kau sudah jauh-jauh datang dari negara Arab, aku tidak boleh mengecewakan mu"


"Tidak masalah! Aku senang jika kau terang-terangan menolak ku begini. Tanpa ada obrolan formal antara kita berdua"


Zain yang bosa berdiri memilih berjalan duduk di sofa, "Kau benar ju---"


Tok To Tok


Pintu kamar Zain terketuk dari luar. Tanpa menunggu lama-lama ia segera datang untuk membukakan pintu.


"Aku telpon lagi nanti, Husein. Maaf"


"Ok Zain...tidak masalah, Wassalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Zain sudah berhasil membuka pintu tersebut. Ia melihat wanita baya berwajah ibunya berdiri didepan pintu kamar.

__ADS_1


"Ada apa ibu? Tumben banget pagi-pagi mengetuk pintu kamar Zain?"


"Zain, tadi kan niatnya bunda mau berkunjung ke rumah Nina sekalian mau bawain baju-baju buat dia nginep disana. Tapi, bunda ada urusan penting nih. Bisa nggak kamu datang ke sana buat bawain baju-baju Nina"


Tidak disadari kedua mata Zain terbuka semakin lebar. Ia diminta untuk membawakan baju-baju istrinya, otomatis gadis itu akan bermalam lagi disana.


Entah mengapa Zain kurang terima.


"Ehem" Zain sedikit berdeham, "Kenapa gadis itu harus menginap lagi disana? Kaki melepuh akan segera sembuh. Lagipula, kaki gadis itu juga terluka"


'Gadis itu? Masyallah, apa putraku ini sedang malu-malu menyebut nama istrinya didepan bundanya sendiri? Dan, dia menunjukkan sifat perhatian tapi pura-pura mengabaikan. Dia ini memang mirip dengan ayahnya. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' monolog Zelofia begitu bangga.


"Kalau kau ingin mendapat jawaban, kenapa kau tidak tanya langsung dengan istrimu itu? Tanyakan apa kakinya masih sakit? Namun jangan terlalu memikirkannya hingga melupakan luka di punggung mu. Perhatian dengannya boleh tapi juga ingat kesehatan sendiri" goda Zelofia kepada Zain yang terlihat gugup namun masih berusaha cool.


"Ibu ini apa-apaan sih! Kayak anak ABG aja... Zain sudah dewasa ibu" sangkal Zain dan Zelofia hanya tersenyum membiarkan.


Biarkan saja, lagian Zelofia sudah tahu apa yang sedang dirasakan sang putra.


"Ya sudah, Bu... Zain mau siap-siap ke sana"


"Iya sayang" jawab Zelofia membuatkan putranya itu masuk kedalam dan menutup pintunya.


"Zain-Zain, bunda tahu jika kau akan mulai menerima Nina. Sekeras apapun kau mencoba untuk menyangkal maka Allah sendiri tidak akan membiarkan hubungan halal ini mengecewakan. Nina adalah jodohmu, Zain" monolog Zelofia menatap ruangan yang berisi Zain didalamnya.


'Namun belum bisa dikatakan jodoh bunda. Pasangan yang saling mencintai sekalipun, belum tentu memang jodohnya. Mungkin memang itu hanya skenario dari Allah, seakan membuat mereka berjodoh' balas Alzam dalam hati.


Lantas ia membalikan tubuhnya, rupanya sudah ada wanita yang berdiri lama disana. Wanita itu terlihat angkuh dengan senyum miring tercipta.


"Misi, kak Bella" kata Alzam hanya menyapa saja lalu pergi melewati wanita itu.


"Oh... rupanya, ini kisah cinta segi empat ya" Bella tersenyum menatap kepergian Alzam yang sudah tidak terlihat lagi.


_______


Mobil Zain yang baru saja dibeli dengan harga fantastis itu kembali melewati jalanan kotor dan berlubang menuju rumah Nina. Namun kali ini perjalanan Zain sepertinya lebih mengesankan. Bagaimana tidak, jika matanya terus melihat ibu-ibu bergosip menunjuk mobilnya. Ia yakin mereka sedang membicarakannya.


Memang, siang ini waktunya para warga saling bercengkrama. Diwaktu ini para warga akan banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Jadi, mereka pasti melihat mobil Zain berhenti di depan rumah Fulan.


"Eh, nak Ankazain?" kebetulan Fulan keluar setelah mendengar ada suara mobil dari luar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" Zain menyapa dengan menjabat tangan Fulan hingga mengecupnya.


"Walaikumsalam" sahut Fulan walau sebenarnya ia juga tidak pernah menjawab salam. "Kok sendirian kesini nya?"


"Iya, ibu ada urusan dan anggota lain juga sama" Zain menunjuk bagasi yang masih tertutup, "Ada koper berisi pakaian Aynina. Aku dengar Aynina akan menginap jadi aku membawakan beberapa saja sebagai ganti dan ada oleh-oleh dari rumah juga"


"Oh astaga!! Sebenarnya, tidak perlu repot-repot" kata Fulan tersenyum lebar. Ia begitu senang mengetahui ada oleh-oleh untuknya.


"Tidak repot-repot" singkat Zain.


Fulan yang sudah melihat ada koper dan oleh-oleh didalam bagasi itu, segera mengambil sok pengertian. Ia harus mengambil hati sang menantu, supaya dia mau meninggalkan sedikit uang untuknya.


"Mari masuk"


"Hm" jawab Zain masih saja singkat dan padat. Irit sekali.


'Lumayan kan jika dia memberiku uang! Paling sedikit standar orang kaya itu10 juta' monolog Fulan mengiringi langkah Zain yang masuk kedalam.


Sesampainya mereka disana, Zain tidak melihat gadis yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu. Seharusnya gadis itu mondar-mandir disini.


"Dimana Aynina?" tanya Zain kepada Fulan yang baru saja lelah mengangkat koper milik Nina dan Zain.


"Aynina lagi ke pasar"


"Oh" singkat Zain membuat Fulan merasa kesal.


Rupanya ia telah memiliki menantu yang begitu dingin dan angkuh. Nyesel dia bantuin Zain ngangkat koper.


Beberapa jam kemudian.


Saat Zain disibukkan dengan permainan gadgetnya di ruang tamu. Ia melihat gadis yang di tunggu-tunggu pulang membawa barang belanjaan.


Zain segera bersiap menemui gadis itu, bahkan tidak sabar karena selain wajah Nina, ia juga melihat wajah pemuda yang tampan mengantar Nina menggunakan motor.


"Siapa pria itu?" Zain berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersidekap didepan dada. Ia akan memarahi Nina habis-habisan karena berani membonceng pria yang bukan muhrim.


Nina sudah berjalan memasuki rumah tanpa sadar dengan keberadaan mobil Zain yang begitu besar.


"Assalam----"

__ADS_1


Potong Nina tidak meneruskan salamnya saat mendapati Zain berdiri diambang pintu menghadangnya.


"Berbelanja bersama pria lain hingga diantar menggunakan motor pespa memang rawan di sebuah desa. Terlebih, aku lihat banyak pemuda dari pertama masuk gang sampai rumahmu. Mungkin, mereka memang sedang menunggu giliran untuk mengantarmu" sindir Zain.


__ADS_2