Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Tidak Mau Diam


__ADS_3

Kini Nina sudah tidak memikirkan suaminya itu lagi. Entah dia mau meninggalkan dirinya sendiri, dan kembali ke rumah. Terserah!! Nina sudah tidak peduli.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendapati mobil yang dikendarai Zain mundur menemui Nina lagi.


Sepertinya Zain tidak tega meninggalkan dia sendiri di jalanan sepi seperti ini, atau ada alasan lain. Entah hanya dia yang tahu.


Zain membuka kaca mobilnya, "Masuk sekarang juga!!"


"Tidak mau... aku akan pulang berjalan kaki saja" tolak Nina berjalan kembali. Jangan lupa Nina masih mewek dengan air mata.


"Ibu akan berkata apa jika aku tidak membawamu kembali?" Kata Zain didalam mobil.


Kan! Nina tahu itu bukan dari hati Zain sendiri.


"Itu urusan mu... lagipula kau yang tidak peduli denganku" lirih Nina mengabaikan Zain. Itu urusannya dengan bunda Zelofia bukan Nina.


Namun, Zain harus membawa Nina pulang bersama karena ini amanah dari sang ibu.


Dari ekor mata Nina, ia dapat melihat Zain keluar dari mobil dan mengejar dirinya. karena tidak mau ditangkap, ia pun berlari.


"Berhenti disana!!"


Zain berteriak mengejar Nina yang berlari sekuat tenaga menghindari diri. Namun karena kaki Nina yang pendek pasti jangkauannya tidaklah lebar dibandingkan dengan kaki Zain yang panjang.


Grep


"Aarkk"


Suara melengking seperti toak itu terdengar saat Zain menangkap tangannya. Sungguh Zain hampir tuli rasanya.


"Ayo pulang!! Jangan seperti anak kecil! Malu dilihat orang nangis dipinggir jalan" Zain menyeret tangannya hingga tubuh Nina terseret menyapu debu jalanan.


Nina seperti anak kecil yang tidak mau diajak pulang jika sudah ada mainan, dan Zain bagai ibu yang senantiasa marah jika Nina membantah.


"Aku bisa pulang sendiri" Nina kekeh menolak ajakan Zain karena tidak mau semobil dengannya. "Kau... akan memarahiku lagi..."


"Masuk!!"


Brak


Nina menginjak kaki kiri Zain dengan sangat keras. Akibat itu lilitan tangan yang ia rasa tadi langsung terlepas dan memberikan kesempatan Nina untuk kabur.


Zain meringis sakit, "Berhenti!!!!!"


Zain lelah jika harus berlari lagi, apalagi citranya sebagai putra ketiga keluarga Darius itu sedang dipertaruhkan disini. Tidak mungkin kan seorang anggota keluarga Darius berlari seperti berandal jalanan!.


Tapi istrinya itu sudah jauh dari jangkauan. Tidak ada pilihan, Zain segera mengejar saat ia sudah memastikan tempat ini jauh dari perhatian.

__ADS_1


Lama-lama mereka berdua keluar dari jalur hingga menuruni sebuah perbukitan yang penuh dengan rumput-rumput pendek dan pohon-pohon. Tempat itu sudah mirip seperti taman.


Nina menuruni bukit itu tanpa hati-hati. Ia sudah biasa berlari seperti itu namun untuk Zain, ini merupakan hal baru bagi dirinya. Itu juga karena Nina.


"Awas jika kau tertangkap" monolog Zain menuruni bukit dengan sangat hati-hati. Sesekali Zain terpeleset oleh sepatunya sendiri.


"Tidak usah... mengejarku... aku akan pulang sendiri" seru Nina berusaha menjauh dari Zain. Ia berpegangan dengan pohon supaya tubuhnya tetap seimbang.


"Siall" maki Zain saat gagal meraih tangan Nina yang langsung disembunyikan, padahal kurang sedikit lagi.


Kegiatan mereka disaksikan oleh para remaja yang ada didekat sana. Mereka menyaksikan keduanya bagai pasangan yang baru dimabuk asmara. Berlarian seperti dalam sinetron saja.


Lagi-lagi kaki Nina tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kaki Zain. Dua langkah Nina sebanding dengan satu langkah suaminya.


Grep


"Tuan!!"


Tubuh keduanya oleng saat Zain berhasil meraih tangan gadis menyebalkan itu. Mereka pun terguling menuruni bukit dengan keadaan tubuh yang menyatu.


Mereka berguling-guling tiada henti bagai trenggiling dengan pandangan tertuju satu sama lain. Hingga berhentilah mereka di rerumputan yang rata.


Mereka mendarat dengan posisi yang begitu intim, dimana Nina berada dibawah dan Zain berada diatas. Kedua tangan Zain sebagai tumpuan supaya tidak menindih sesak tubuh Nina.


Mata mereka saling pandang disertai Jantung yang berdetak tidak karuan. Deru keduanya saling bersahutan ditambah kedua hidung yang hampir menempel ingin memberi salam.


Nina yang sudah menyadari posisi ini segera menepis tangan Zain yang hampir menyentuh wajahnya. Ia harus segera kabur sebelum pria ini sadar.


Namun tidak disangka jika Zain sangat sigap tanpa memberikan Nina kesempatan untuk berlari lagi.


"Mau kemana, kau?" Zain melilit kuat pergelangan tangan Nina. Kali ini ia tidak boleh ceroboh dan kalah dengan gadis ini lagi.


"Tu-tu...aarkk"


Pekik Nina tubuhnya malah diangkat seperti karung beras yang ada di pasar. Tangan kanan Zain memegangi paha Nina dan lainnya menenteng tas punggung istrinya.


"Tu-tuan... tolong turunkan!!!!" ronta Nina memukuli punggung kokoh pria temperamen itu.


Para remaja masih setia memperhatikan keduanya. Sepertinya mereka belum sadar apa-apa.


_________


Kediaman Aditama.


Pria dan wanita setengah baya ini sedang menunggu putra tunggalnya kembali dari kampus. Aditama beserta sang istri, Cristina Anggita Aditama.


"Dasar anak bodoh!! Bagaimana bisa dia dipanggil ke ruangan rektor. Awas saja dia!! Sangat memalukan" kesal Aditama mengeratkan kepalan tangannya.

__ADS_1


"Hai pah!!"


Plak


Wajah putranya itu langsung mendapatkan pukulan Aditama dengan sangat keras hingga menoleh kearah samping.


Devan, merupakan putra tunggal keluarga Aditama. Ia tidak tinggal di kontrakan buruk seperti dulu lagi karena kedua orangtuanya memberikan iming-iming perusahaan jika mau tinggal bersama, karena harta Devan pun mau menerima tawaran tersebut.


Terlebih, Devan sudah merasa dewasa hingga ia tidak lagi sembunyi-sembunyi dari kedua orangtuanya mengenai ****. Mereka memaklumi dengan catatan, hal kotor seperti itu tidak tersebar.


Dan hari ini, Aditama mendengar jika Devan dipanggil karena berniat melecehkan seorang gadis, walaupun ia sudah berhasil memanipulasi tapi tetap saja ia sangat murka.


"Kau bisa menyewa wanita murahan di bar atau di tempat kotor yang biasa kau datangi asal mereka tidak menuntut mu. Tapi ini? Kau berniat memperkosa gadis yang tidak menyukai dirimu..." omel Aditama mendaratkan pukulan berat di tubuh putranya lagi.


"Pah, udah jangan sakiti Devan... papah nggak lihat ini dahinya udah merah. Ini kenapa sayang?" tanya Cristina begitu khawatir.


"Kena pukul tadi mah" jawab Devan dengan polosnya.


"Oh sayang" Cristina mengusap pelan dahi Devan hingga membuat sang ayah semakin murka. "Nanti mamah obati ya"


"Kalau mau enak itu mikir-mikir" Aditama menoyor kepala putranya, "Bagaimana kalau gadis itu melaporkan dirimu ke kantor polisi? Martabatku turun hanya karena kasus yang kau lakukan"


"Lagian itu juga gagal pah" bantah Devan karena sudah kesal disalah-salahkan.


"Iya pah" sahut Cristina membela sang anak.


"Beruntung papah menyogok rektor itu supaya mau memanipulasi keadaan. Sekarang bagaimana dengan pria yang menjadi kambing hitam mu?" tanya Aditama.


"Dia dikeluarkan dari kampus. Dia tidak mau meminta maaf dan memilih keluar saja" Devan merapikan puncak rambutnya yang sempat berantakan.


"Aih sombong sekali anak itu... dia lebih memilih keluar dari kampus daripada meminta maaf dengan putraku ini" Cristina tersenyum manyun melihat gemas wajah putranya.


"Anak itu merasa sok suci mah! Dia mengatakan kalau kampus ini memang besar tapi tidak ada keadilan"


Hahahhaa


Devan dan sang ibu pun tertawa bersama, seakan menganggap itu semua hal yang lucu.


"Salah dia lahir di keluarga miskin" ejek Cristina dengan tawa bersama putranya.


Sementara sang ayah, dia tetap stay cool. Pria setengah baya itu tidak menanggapi gurauan istri dan anaknya. Ia sedang memikirkan sesuatu dengan sifat tenang yang ia punya.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu, Devan?"


To be continued


Cuma bisa 1 bab bebss🙏 Kasih dukungan dulu dong!! Absen dulu biar aku semangat nglajutin ceritanya... Yuk absen yuk!!

__ADS_1


__ADS_2