Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Aku Udah Kapok


__ADS_3

Mata Nina terbuka lebar. Bukan karena Zelofia menyadari lingkaran hitam disekitar matanya, melainkan ia yang beranggapan jika keduanya sudah melakukan hubungan suami istri.


Nina membuang nafas halus, "Ni-nina tadi malam tidur nyenyak kok Bun... Tuan Zain juga--"


"Eh kok Tuan Zain... panggil Mas coba" Zelofia tersenyum lembut meminta Nina memanggil suaminya dengan panggilan yang biasa digunakan oleh seorang istri kepada suami.


Dari ekor matanya Nina bisa merasakan jika Zain mengumpat untuk ia segera membalas ucapan ibunya karena Zain merasa pegal harus memegangi ponselnya terus-terusan.


"I-iya... Mas Zain!!" kikuk Nina menundukkan kepalanya kebawah dengan rasa malu sekaligus takut.


Alzam mendengar panggilan dari Nina untuk kakaknya, dan itu memang sudah sepantasnya seorang istri memanggilnya demikian, namun mengapa Alzam yang hanya sebatas adik ipar merasa sakit.


"Nah gitu dong sayang..." Zelofia tersenyum puas melihat kedua anaknya ini akrab dan semakin dekat. Akhirnya Zain mau membuka hati lagi setelah kepergian menantunya 5 tahun yang lalu, hampir saja itu membuatnya frustasi.


"Nina pergi kebelakang dulu, Bun... ada kerjaan kecil" Nina menyeringai lebar namun itu hanya ia paksakan, supaya wanita tua ini tidak curiga.


"Oh iya sayang... biar bunda bicara sama Zain saja"


Nina mengangguk hormat lalu segera keluar dari kamar Zain. Ia akan pergi mandi di kamar mandi bawah saja. Ia terlalu takut dengan Zain yang kapan-kapan bisa menyakitinya.


"Zam... biar bunda yang bicara Alzam... kau pergi ke rumah sakit saja. Bunda rasa kau sudah sering absen..." usir Zelofia dengan bahasa yang halus dan putranya tidak merasa terusir sama sekali.


"Baiklah Bun... assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


Alzam mengecup pipi berkerut Zelofia sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan keduanya yang kembali melanjutkan obrolan di ponsel mereka.


Hening...


"Zain... apa yang kau lakukan dengan Nina tadi malam?"


Mata Zain sedikit melebar dan terkejut, namun Zelofia tidak melihat itu karena putranya ini lihai dalam menyembunyikan ekspresi wajah.


"Zain... bunda lihat kamu menarik-narik tangan Nina ke luar balkon... bunda lihat semuanya... tapi apa salah Nina yang ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, Zain?"


Zain mengangguk kepalanya sedikit paham saat matanya liar mencari-cari kamera. Ahaa ia sudah tertangkap basah rupanya.


"Aku tidak melakukan apa-apa... mungkin kamera milik ibu terlalu berlebihan kecepatannya jadi agak dilebih-lebihkan" Zain mengeles.

__ADS_1


"Agak dilebih-lebihkan bagaimana... bunda lihat kamu mendorong Nina dan Nina terjatuh ke lantai. Kasian dia Zain..."


Zain memperlihatkan tatapan dingin, "Kalau begitu ibu mau bagaimana, Zain harus gimana kepada gadis itu?"


"Bunda tidak mau minta banyak kepadamu Zain, cukup kau buka hatimu untuk Nina dan biarkan istrimu itu memasukinya sedikit saja...Jangan terus mencintai kepada orang yang sudah tiada"


Zain membuang nafasnya dalam-dalam, "Bu, ibu yang minta Zain menikah dengannya...bukan membuka hati untuk dia... Jadi jangan salahkan Zain kalau nama dia sama sekali tidak akan pernah menggantikan nama Anita... Zain juga tidak akan pernah menganggapnya seperti seorang istri. Bagi Zain, hanya ada nama Anita dan istri Zain hanyalah Anita"


Zelofia menggeleng lemah saat putranya kekeh tidak mau menganggap Nina sebagai istrinya dan itu membuat dirinya kecewa sekaligus menyesal.


Kenapa dia menjodohkan gadis itu kepada putranya? Astaghfirullah!!


"Tapi Zain... bunda mohon untuk jangan menyakiti Aynina... dia gadis yang baik..." Zelofia mengusap air matanya yang tidak ia sadari sudah tumpah menyusuri kedua pipinya.


"Itu tergantung bagaimana sikap dia... Zain ada urusan Bu, assalamu'alaikum"


"Zai----"


Potong Zain menutup telponnya saat ibunya masih ingin bicara dengan putranya. Zelofia menjatuhkan dirinya di kursi dengan perasaan kecewa. Tak sengaja Helena melihatnya, ia langsung menghampiri ingin menangkap.


"Bunda... bunda tidak apa-apa? Bunda bicara sama siapa? Apa ada no yang tidak dikenal menghubungi bunda?"


Kedua mata mereka bertaut sedih.


"Helen... apa bunda salah ya menjodohkan gadis seperti Nina dengan Zain? Apa tuhan tidak meridhoi Zain menikah lagi?" tanya Zelofia kepada Helena yang bingung dengan pertanyaan itu.


Astaghfirullah apa yang sebenarnya terjadi dengan mertuanya ini?


"Bunda... jika tuhan memang mentakdirkan Nina mendampingi hidup Zain... insyaallah rintangan apapun, penolakan sekeras apapun itu... Nina tetap akan menjadi istri Zain... bunda tidak usah khawatir kan itu"


Helena memeluk Zelofia dengan hangat. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka tapi sepertinya jawaban itu tidak salah.


________


Villa


Nina sudah selesai mandi. Saat ini ia tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ia memikirkan kejadian semalam, dimana ia sangat takut berada di luar rumah saat malam-malam.


Tap

__ADS_1


Nina langsung bangkit saat kedua matanya menangkap sosok pria bertubuh jangkung yang tidak lain adalah suaminya.


Zain melirik sebentar dan kembali berjalan melewati Nina yang menunduk takut didepannya.


'Aihh dia itu menakutkan sekali...' gumam Nina mengelus dadanya saat jantungnya berdetak kencang.


Ia melihat Aysil yang sibuk bekerja di dapur. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Selamat pagi bibi Aysil..." Nina menyapa dan duduk di kursi bar.


"Selamat pagi..." Aysil tersenyum seraya mengelap kedua tangannya yang basah dengan kain serbet lalu duduk disamping Nina.


"Bagaimana dengan semalam?"


"Ahh bibi... aku tidak mau membicarakan hal itu... rasanya aku sangat malu dengan diriku sendiri... semuanya hancur dan aku tidak mau melakukannya lagi" wajah Nina terlihat sendu dan malas membicarakan kejadian itu. Ia ingin melupakannya saja.


Dan Aysil membuang nafas pasrah.


"Maafkan Bibi ya... pasti rencananya kurang manjur ya" Aysil agak memelas dan Nina merasa kasian.


"Enggak kok bi... bibi Aysil udah bantu Nina itu aja Nina udah bersyukur banget. Makasih ya" Nina tersenyum kepada Aysil yang juga memperlihatkan senyumnya.


Tiba-tiba Ebil datang dan menyapa Nina yang duduk di kursi bar sana. Semenjak Nina menjadi menantu keluarga Darius, perilaku Ebil berubah sembilan puluh derajat.


Mungkin karena status Nina yang sudah berubah.


"Bi Aysil... Tuan Zain meminta secangkir kopi... tolong dibuatkan segera ya"


"Baiklah"


Setelah itu Ebil keluar saat Aysil sudah menyanggupinya.


Aysil segera membuat kopi yang biasa Zain minum. Sebelum mengantar, ia melihat keberadaan Nina yang sedang mengaduk teh buatannya.


Aysil memiliki rencana.


"Nona... apa Nona bisa bantu saya untuk mengirimkan kopi ini ke Tuan Zain? Saya harus membersihkan dapur ini supaya nantinya bisa di pakai lagi" Aysil mengulurkan kopinya.


Bukan Nina menolak membantu Aysil, namun ia masih takut jika Zain marah lagi padanya.

__ADS_1


"Bi Aysil aja deh... Nina nggak berani. Aku udah kapok bikin Tuan Zain marah... maaf ya Bi..." Nina nyengir lalu melenggang pergi.


__ADS_2