Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Ayam Dan Devan


__ADS_3

Mata Nina langsung memanas menahan embun yang tertampung didalam sana. Jujur saja, sebagai seorang istri Nina memang merasa iri dengan wanita masa lalu suaminya itu.


“Dia sempurna, kak” lirih Nina menahan air matanya.


“Dia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Kau mau sepertinya?” Maya menggenggam kedua tangan Nina, “Nyonya Anita memang diberkati dengan kecantikan wajah, tutur katanya yang halus, hatinya yang lembut. Namun, satu hal yang tidak bisa dimiliki oleh Nyonya Anita… status ibu dan istri yang patuh sampai akhir hayat suaminya. Beliau tidak bisa memberikan status ayah untuk Tuan Zain, beliau juga tidak bisa melayani suaminya sampai suaminya tua. Jadi kau harus merasa beruntung dan jangan memikirkan keunggulannya lagi”


Maya melepas kedua tangan Nina dengan sedikit dorongan. Sebenarnya ia juga tidak tahan jika Nina yang sudah dianggap adik ini selalu ingin menjadi seperti orang lain, hanya untuk di lihat suaminya.


“Memangnya, Mbak Anita itu meninggal karena apa?” tanya Nina masih terlihat menangis.


“Ada yang bilang karena penyakit kronis. Entah, aku tidak mau mengingatnya lagi” jawab Maya yang sebenarnya juga sedih jika mengingat wanita itu.


_______


Sementara di kantor Zain terduduk disana dan pandangan tertuju kearah bingkai foto berisi dirinya dengan sang istri yang terletak diatas meja.


“Anita! Dia gadis yang menyusahkan, gadis itu berusaha menggantikan dirimu dengan bergaya sok manis… tapi saat aku melihatnya akhir-akhir ini, kenapa aku tidak mengingat wajah mu. Tadi, dia mengabaikan aku… kenapa aku menjadi seperti ini?” kata Zain seakan curhat dan meminta pendapat dengan mendiang istrinya tentang Nina.


Tok


Tok


“Masuk” jawab Zain meminta seseorang yang ada di lur ruangan untuk masuk kedalam. Pria ini sudah kembali dingin dan membenarkan posisi duduknya yang semula bersandar di meja sekarang tubuhnya tegap.


“Selamat pagi, Tuan” clining service berjenis kelamin pria itu datang membawa sebuket bunga, “Ada yang mengirimkan anda buket bunga mawar oranye untuk anda, Tuan”


“Dari siapa?”


“Tidak ada namanya” jawab pekerja itu setelah mencari-cari alamat si pengirim.


“Berikan kepadaku” Zain memberikan isyarat tangan dan pekerja itu segera memberikannya.


Lagi-lagi Zain mendapat bunga mawar dari seseorang yang misterius dan pasti orang misterius itu selalu meninggalkan surat didalamnya.


...‘Hai! Hari ini aku memberikan bunga ini bukan untuk memberikan dirimu semangat. Tapi aku hanya ingin mengungkapkan rasa bahagiaku pagi ini. Hanya itu! selamat siang’...


Seperti biasa Zain melipat kertas itu dan ia simpan di dalam laci meja kantor. Ia telah menyiapkan satu kotak berisi surat-surat dari pengirim rahasianya.


Drett


Telpon Zain yang ada diatas meja itu berdering. Namun sang pemilik tidak ada niatan ingin mengangkatnya. Ia tahu dari siapa telpon itu.


“Kau boleh pergi”

__ADS_1


“Baik, Tuan” jawab pekerja itu bergegas keluar dari ruangan atasannya.


Dering telpon masih bersuara mengiringi kaki Zain yang mengganti bunga layu didalam vas tergeletak diatas meja.


“Tuan Zain”


“Ketuk dulu sebelum masuk” kata Zain seperti biasa, memperlihatkan mata tajam yang menyeramkan.


Ebil mengangguk sesal, “Maaf, Tuan”


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Zain masih focus dengan bunga mawarnya.


“Tuan Aditama ingin bertemu dengan anda”


“Telpon itu juga dari Aditama?” tanya Zain menunjuk ponsel yang masih cerewet berdering disana.


Ebil pun segera mengecek, “Benar, Tuan”


“Apa dia itu kurang sabar ya? Menelpon, meminta asisten ku untuk melapor. Pria itu juga ada di lobby kan?” tanya Zain hanya menduga dan Ebil mengangguk.


“Tuan Aditama sudah menunggu anda di lobby. Beliau bilang dia sudah meminta Alina untuk memberi laporan anda tapi, anda mengusirnya sebelum memberikan laporan” kata Ebil mendapatkan informasi ini dari Alina sendiri.


“Siapa suruh meminta wanita untuk datang” Zain berucap sangat santai. Mungkin jika seandainya pria itu mengutus seorang pria, mungkin Zain masih bisa mentolerir.


“Jangan!” sela Zain mengangka satu tangannya, “Aku akan menemuinya”


Sebelum itu Zain harus bersiap diri, seperti merapikan dasinya, toxedonya, tatanan rambutnya untuk melawan pria yang sedang emosi di lobby sana.


Setelah siap, ia pun keluar.


_______


Lobby


“Panggil atasanmu sekarang juga. Katakan kepadanya aku menunggu!!” perintah Aditama berkacak pinggang. Ia sudah kesal dengan tingkah Zain yang terus mengabaikannya.


Aditama sudah tahu jika Devan menculik Nina dan sekarang polisi menjadikan anaknya sebagai buronan atas kasus penculikan. Hal itu membuat Aditama geram dan ingin berbicara dengan Zain.


“Tolong tenang, Tuan. Saya sudah mengirim sekertaris Aldinu kesana namun sekertaris itu bilang Tuan Zain sedang tidak mau diganggu untuk saat ini. Mohon anda mengerti dan silahkan kembali” kata pekerja Reno dengan halus dan hati-hati.


Namun percuma menggunakan nada lembut kepada pria yang sedang emosi tinggi. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.


“Saya tidak mau tahu, segera panggil atasan kalian!!” Aditama masih menggunakan nada tinggi dan mata mematikan melihat para pekerja berdatangan serasa diganggu, “NGAPAIN KALIAN DISINI?”

__ADS_1


Para pekerja Zain segera bergosip seraya melintas dengan wajah khas orang ilfil. Mereka merasa tidak suka dengan Aditama yang datang dan marah secara tiba-tiba.


“Mohon maaf Tuan. kembalilah” Reno kembali meminta, “Se—”


“Hentikan”


Reno tidak melanjutkan ucapannya dan memilih menepi memberi jalan atasannya yang sudah datang.


“Duduklah” pinta Zain dengan sopan mempersilahkan duduk, “Kalian semua bisa melanjutkan pekerjaan kalian. Jangan merasa diganggu walau ada benalu”


Jika bukan karena reputasi keluarganya, ia pasti akan menonjok wajah Zain karena sudah menghinanya.


Aditama membuang nafas lalu duduk.


“Apa? Aku hanya memiliki waktu 5 menit saja” kata Zain bersidekap dada dan kedua kaki menyilang berani didepannya.


“Kau sudah tahu putraku yang berniat menyakiti istrimu, kan?”


“Oh benarkah? Devan si psikopat itu benar anakmu? Pantas saja mirip” Zain menyeringai miring.


“Kau bisa dengan mudah menyuruh orang untuk mencari latar belakang pria yang mengganggunya. Jadi jangan pura-pura tidak tahu”


“Lalu?”


“Tarik laporan yang kau putuskan di kantor polisi”


“Dalam rangka apa?” tanya Zain masih diposisi yang sama.


“Aku akan menyekolahkan dia di luar negeri, bahkan jauh sejauh-jauhnya tapi jangan menjadikan putraku buronan” kata Aditama dengan nada lembut.


“Sepenting itu citramu sampai kesalahan anakmu kau biarkan menghilang” Zain mencondongkan tubuhnya mendekat, “Itu adalah sifat buruk yang susah untuk di hilangkan. Karena didikan keluarga memang membiarkan itu berkembang”


“Tolong Zain. Aku akui putraku salah karena berniat melecehkan dan menculik istrimu, tapi---”


“Kau mendukungnya”


“Bukan mendukungnya” bantah Aditama. “Aku hanya lalai dengan tugasku sebagai seorang ayah yang harus mendidik dengan baik. Ini kesalahanku… tolong jangan hukum putraku”


Zain segera beraanjak dari duduknya, “Waktumu sudah habis”


“Zain tunggu” panggil Aditama menahan tangan Zain.


Namun Zain segera menepisnya, “Ini adalah kesalahanmu yang mendidik putramu dengan liar seperti hewan, seperti ayam jantan yang mengawini betina dijalanan. Jangan harap orang seperti itu dibiarkan”

__ADS_1


__ADS_2