![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Tok Tok Tok
Nina mengetuk kaca mobil supaya Zain segera keluar, karena pergelangan kakinya sudah mulai berdenyut nyeri. Ia harus segera masuk supaya perbannya tidak basah kuyup.
Srett
Zain membuka kaca jendelanya saat tahu jika itu Nina, “Apa?”
“Kapan kau akan keluar? Aku diminta Aya untuk menjemputmu… hujan sangat deras. Jangan menerobos hujan tanpa payung”
“Kau membawa payung untukku?”
“Ini” balas Nina menggerakan payung yang ia gunakan.
“Lalu kau bagaimana?”
“Kita kongsi” balas Nina menarik perhatian Zain.
Pria itu langsung menghentikan kegiatannya dan bergegas keluar mobil dan Nina memayungi.
Akhirnya mereka berbagi payung bersama, menghindar dari hujan dengan saling berhimpitan, kepala Zain harus ekstra menunduk jika tidak ingin kejedat payung yang Nina bawa semakin menurun.
Dia ini niat berbagi atau tidak sih!
“Tinggikan sedikit payungnya”
“Iya” balas Nina menuruti kemauan pria bawel ini.
Namun seiring berjalannya mereka masuk kedalam, payung itu kembali turun dan mengenai puncak kepala Zain lagi.
Zain hanya melirik jenuh dan membiarkan.
Sampailah mereka didalam rumah.
“Assalamualaikum” keduanya memberi salam dan Zain segera memijat leher bagian belakang karena pegal.
“Walaikumsalam, Nin” jawab Helena segera menemui Nina yang mengembalikan payungnya ke dalam wadah.
“Iya, kak”
“Nin, ini tadi ada telpon dari keluarga kamu. Katanya Ibu kamu baru aja kena musibah dikerjaannya” kata Helena dengan halus mengusap bahu Nina untuk tetap tenang.
Namun untuk seorang putri yang jauh dari orang tua, tentu tidak bisa tenang dan tidak jauh dari kata gelisah.
“Kena musibah gimana kak?”
“Kaki Ibu kamu katanya kesiram air panas, Nin”
“Terus sekarang dimana kak?” gelisah Nina.
“Ibu kamu udah dibawa ke rumah sakit dan sekarang udah di rumah”
“Ya udah Nina ijin pulang ya kak. Nina takut nggak ada yang ngurus di rumah, bapak kan juga mungkin kerja”
__ADS_1
“Iya Nin” Helena berganti melihat pria yang sedari tadi hanya menguping tanpa memberi pendapat, “Zain, kau antar Nina pulang”
“Nggak usah kak! Nina naik angkot aja, soa---”
“Aku antar” potong Zain bergegas menaiki tangga. Ia segera naik karena tahu Nina akan membantahnya.
“Tuh kan Nin… udah kamu buruan siap-siap terus pulang ke rumah… kasian ibu kamu pasti nungguin, nanti biar kakak yang bilang sama anggota yang lain” Helena tidak henti-hentinya mengusap bahu Nina.
“Ya udah kak, Nina siap-siap dulu ya”
“Jangan lupa itu perban diganti dulu” Helena menunjuk kaki Nina yang diperban. Perban itu sudah terlihat buluk dan butuh pengganti.
“Iya kak”
________
Setelah itu Zain mengantar Nina pulang ke rumah. Karena habis hujan dan jalanan agak berlubang penuh kubangan air menyulap mobil Zain yang semula mewah kini penuh dengan lumpur.
Sebenarnya Zain hampir frustasi karena terus berusaha menghindar dari lubang namun jalan yang sempit membuatnya susah untuk bergerak, apalagi kalau ada mobil yang lewat dari arah berlawanan. Pasti menyusahkan.
Tidak lama setelah melewati jalanan itu, mereka pun sampai.
“Aku tung—” Zain tak melanjutkan ucapannya saat Nina langsung keluar begitu saja.
Zain yang merasa diabaikan itu segera keluar dan mengecek keadaan mobilnya. “Sangat buruk”
Namun Nina segera berlari masuk kedalam kamar Marta yang sudah ada Artur dan bapaknya yang terus mengomel dengan istrinya.
“Inilah!! Ini semua kesalahanmu karena ceroboh!! Dasar tidak hati-hati… kalau begini siapa yang repot??” omel Fulan dengan kedua tangan terkepal di pinggang.
“Hallah ibumu aja yang suka ceroboh” tidak sengaja Fulan melihat luka di kaki Nina, “Itu juga kenapa kakimu? Emang dasar anak sama ibu sama aja. Suka ceroboh semua!!”
“Pak kalau ibu kena musibah tolong bapak jangan nambah-nambahin pikiran dong! Ini ibu lagi ketumpahan air panas lohhh”
“Udah Nin…. Udah… ibu udah biasa denger kata-katanya” lirih Marta meminta Nina untuk bersabar dan mengusap bahu anaknya.
“Hallah keluarga bikin pusing” kata Fulan mengobrak abrik rambutnya kesal dan keluar.
Nina membuang nafas lelah, wajahnya memanas, matanya mengembun dan dadanya sesak.
“Bu… ini tadi udah di periksa ke Dokter kan?” Nina mencoba menahan amarah.
“Udah”
“Terus kata Dokter gimana?”
“Dokter bilang untuk beberapa hari ini jangan dibuat kerja dulu dan Dokter juga bilang untuk meminum obat, tuh obatnya” kata Marta dan Nina segera mengambil obat yang ada diatas nakas.
“Ibu udah minum?”
“Belum, ini mau ambil air putih dulu…” kata Marta. Wanita ini ingin bangkit namun Nina menahannya.
“Ibu istirahat saja. Nina akan ambil, sebentar”
__ADS_1
“Tung---” Marta ingin meraih tangan Nina namun gadis itu sudah berlari keluar mengambil air putih, padahal ia ingin bertanya tentang luka di kakinya.
Saat Nina keluar kebetulan ia melewati Zain yang sudah masuk kedalam. Pria ini terlihat tidak nyaman dengan bentuk rumah pengap dan kecil ini.
“Ay---” kata Zain terpotong saat melihat Nina yang terburu-buru pergi. Lagi-lagi gadis ini mengabaikannya. Ia menjadi bingung harus melakukan apa ditempat kecil seperti ini.
Tidak lama ia melihat Nina lagi, namun untuk kesekian kalinya Nina mengabaikannya. Sesibuk itukah sampai tidak memperhatikan suaminya!.
Nina sudah menemui ibunya lagi.
“Ini, bu” Nina memberikan segelas air putih dan obat.
Marta segera meminumnya dengan tandas dan Nina meletakan segelas air itu kembali ke atas nakas.
“Nina, kakimu kenapa?” tanya Marta melihat kaki Nina yang mengganjal di pikirannya.
Nina jadi ingat dimana Devan menculik dan melukai kakinya. Ia begitu takut, lebih takut lagi jika Marta tahu. Wanita ini akan khawatir dengannya.
“Cuma kesandung” Nina tersenyum, “Sudahlah ibu! Ibu tidak usah memikirkan Nina karena putri ibu ini sudah merasa besar dan bisa menjaga dirinya sendiri”
“Hem, kalau jalan itu hati-hati”
“Ibu juga kalau kerja itu hati-hati. Nina khawatir loh bu” timpal Nina memukul pelan paha Marta dan wanita ini hanya tersenyum.
"Iya, Maaf ya"
Nina menolak dengan menggelengkan kepala, "Nggak usah bilang begitu, Bu. Sudah tugas Nina sebagai anak untuk direpotkan"
"Oh iya, tadi waktu ke rumah sakit pinjem uangnya mbak Ajeng samping rumah. Terus, tadi juga ganti rugi kuah sotonya ibu Erlina. Maaf ya nak" sesal Marta dengan wajah sendu.
"Nggak apa-apa, nanti Nina yang urus" kata Nina tidak mempermasalahkan, “Ngomong-ngomong, dimana Artur?” clingak-clinguk mencari adik tengilnya itu pergi.
“Artur main sama temennya. Ibu kasian kalau dia ngelihat ibunya kayak gini, Nin”
“Benar juga” Nina tersenyum memeluk Ibunya dengan penuh sayang.
Namun tiba-tiba Marta mengingat sesuatu, “Kau datang sendiri?”
“Assalamualaikum”
Zain yang sudah lama mendengar obrolan mereka pun segera menampakan dirinya. Ia takut jika Nina memergokinya sedang menguping atau bisa jadi gadis itu tidak menganggapnya ada.
“Walaikumsalam” jawab Marta membiarkan Zain mencium punggung tangannya. Untuk lebih akrab, Marta mengusap bahu kekar suami putrinya ini. “Maaf ya ibu merepotkanmu”
“Iya” jawab Zain dingin dan datar.
“Hem, Nin… kau akan menginap?” tanya Marta melihat Nina dan Zain bergantian.
Nina berpikir sejenak, “Nina akan menginap di rumah ini. Untuk Tuan Zain, kau bisa pulang jika ingin pulang. Lagipula, kau akan merasa kurang nyaman tinggal di rumah sekecil ini”
“Apa kau sedang mengusirku?”
To be continued
__ADS_1
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak ya bebsss 😘