
Gerry menatap tajam pada Asisten Jimmy yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi yang berada di depannya. Tangan Asisten Jimmy kini berselancar di atas layar ponselnya membuka file yang sudah ia persiapkan untuk tuannya.
"Semua informasi yang saya dapatkan sudah saya kirimkan ke email, Bapak."
Kini fokus Gerry beralih pada layar tabnya yang menampakkan informasi yang ia butuhkan. Kini kedua matanya membola sempurna saat mengetahui sesuatu yang sudah ia duga.
"Sudah berapa bulan?"
"Mungkin saat ini sudah memasuki bulan ke enam mengingat Nona Kyara melakukan pemeriksaan terakhir di usia kandungannya memasuki empat bulan dan ini sudah dua bulan sejak kepergian Nona Kyara." Jelas Asisten Jimmy.
Entah mengapa perasaan bahagia itu tiba-tiba hadir menyeruak dalam dada Gerry saat mengetahui jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Padahal sejak awal dirinyalah yang menolak kehadiran seorang anak dalam rumah tangga mereka.
"Dan susu itu?" Ucap Gerry yang juga sudah menyuruh Asisten Jimmy untuk mengecek susu apa yang selalu Kyara minum.
__ADS_1
"Salah satu merk susu untuk ibu hamil."
Gerry membuang nafasnya secara kasar. Kepalanya terasa berdenyut mengetahui fakta demi fakta yang mulai terungkap.
"Dan selama menjadi istri Bapak, Nona Kyara tidak pernah sama sekali menggunakan kartu yang sudah Bapak berikan. Nona Kyara menggunakan uang gaji dan tabungannya untuk kebutuhannya sehari-hari."
"Saya juga sudah mendapatkan informasi dari Nisa, jika sebelum Nona Kyara mengundurkan diri dari pekerjaannya, ia sempat mendapatkan gosip yang tidak baik dari sesama rekan kerjanya."
"Gosip?"
"Katakan!" Bentak Gerry yang sudah merasa sangat penasaran.
"Nona Kyara harus dilarikan kerumah sakit karena mengalami pendarahaan karena perdebatannya dengan Nona Ketty waktu itu di apartemen anda. Untung saja Nona Rania segera membawanya Nona Kyara ke rumah sakit sehingga janin itu masih bisa diselamatkan."
__ADS_1
Bagaikan petir di siang bolong. Gerry terhenyak dalam diamnya mendengar jika ialah termasuk orang yang sudah hampir menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Gerry ingat saat itu Kyara tengah merintih kesakitan setelah perutnya tersandung dengan ujung meja sofa. Saat itu ia memang sangat ingin membantu Kyara. Namun karena kondisi Ketty yang juga memprihatinkan, Gerry lebih memilih mendahulukan wanita ular itu. Selain gengsi, ia juga sangat marah dengan tingkah Kyara yang dengan sengaja menumpahkan minuman panas di tubuh kekasihnya.
"Dan satu lagi, Pak..." Asisten Jimmy nampak ragu-ragu mengatakannya.
"Nona Rania tidak sendiri saat membawa Nona Kyara ke rumah sakit. Pak William juga ikut mengantarkan Nona Kyara. Dan kemungkinan saat ini Pak William sudah mengetahui jika anda adalah suami dari Nona Kyara."
"Apa?!"
Pantas saja satu bulan belakangan ini William tak lagi membalas pesan-pesan yang ia kirimkan. Ia mengira jika William masih sibuk mengurus ibunya yang sakit. Namun dugaan Gerry salah. Jika Kyaralah yang menjadi faktor utama William tak lagi mau berkomunikasi dengannya.
"Apakah William juga ikut serta membawa Kyara pergi dari kota ini?"
"Benar, Pak. Pak Williamlah yang mengantarjan Nona Kyara dan sahabatnya pergi meninggalkan kota ini."
__ADS_1
"Jadi dimana istriku saat ini?" Geram Gerry merasa panas mendengar kenyataan yang abru ia ketahui.
"Di kota kecil tempat kelahiran sahabat Nona Kyara."