Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Merasa gugup


__ADS_3

"Selamat ya, Rania... Akhirnya kau sudah sah menjadi istri William." Kyara tak dapat membendung rasa harunya. Ibu dari satu anak itu nampak menangis di dalam pelukan Rania.


"Terimakasih, Kya." Rania ikut menangis. Tangannya mengelus punggung Kyara yang bergetar.


"Aku harap kau akan bahagia dengan pernikahanmu." Pinta Kyara menghapus air mata di sudut matanya.


Rania tersenyum. "Aku harap juga begitu."


Setelah acara akad pagi itu, keluarga Rania pun mengajak saudara dan kerabatnya yang lain untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan. Para tetangga Rania yang didominasi oleh kaum wanita nampak berdecak kagum dengan pemandangan menyegarkan matanya mereka saat ini. Empat orang pria yang memiliki kadar ketampanan yang melalui batas itu nampak berbicang dengan tertawa dan tidak menyadari jika saat ini mereka menjadi objek kekaguman orang-orang sekitar mereka.


Acara hari itu pun terus berlanjut. Hingga tak terasa malam pun mulai menyambut. Rania yang sudah sangat lelah seharian menyambut para tamu pun akhirnya memilih untuk pamit ke kamar lebih dulu setelah melepas kepulangan keluarga William. Sedangkan William masih asik berbincang dengan tiga sahabatnya di teras rumah.


"Lelah sekali..." Gumam Rania menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Rasanya aku sungguh malas untuk membersihkan tubuhku. Mataku sungguh mengantuk." Keluh Rania sambil menguap lebar. "Baiklah... Sebaiknya aku mandi dulu. Badanku benar-benar lengket!" Gumam Rania kemudian merasa tidak nyaman.


Malam pun semakin larut. Gerry, Dika dan Reno pun pamit undur diri untuk beristirahat di hotel yang sudah mereka pesan. Setelah melepas kepergian ketiga sahabatnya, William pun memilih masuk ke dalam rumah.


"Nak Gerry dan yang lain sudah pulang?" Tanya Bu Mela yang baru saja keluar dari dapur.


William mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Sudah, Bu. Mereka sudah pulang beberapa menit yang lalu." Balasnya.

__ADS_1


Bu Mela mengangguk paham. "Masuklah ke kamar. Sepertinya kau cukup lelah hari ini." Ucap Bu Mela melihat guratan lelah di wajah William.


William tersenyum. Bu Mela yang ia lihat saat ini terlihat lebih pendiam dari yang ia lihat sebelumnya. Tampang jenaka dari wajah Bu Mela pun nampak menyurut dari biasanya. Entah apa yang membuat Bu Mela berubah seperti itu.


"Ibu juga istirahatlah. Jangan terlalu lelah." Pesan William yang juga melihat Bu Mela yang sudah lelah.


Bu Mela balas tersenyum. "Baiklah. Ibu masuk ke dalam kamar dulu." Pamit Bu Mela yang diangguki William.


William memasuki kamar Rania yang terlihat gelap gulita. Ponsel yang ada ditangannya pun ia nyalakan agar dapat menjadi sumber cahaya untuk mencari dimana letak saklar.


Ceklek


Kepala William menggeleng beberapa kali. Di ranjang yang masih kosong William dapat melihat selimut dan bantal yang sepertinya sudah Rania persiapkan untuknya.


William pun berlalu untuk mencari letak kopernya. Setelah menemukannya, William pun mengambil setelan baju tidurnya kemudian keluar kembali dari dalam kamar untuk ke kamar mandi yang ada di ruangan belakang rumah karena di dalam kamar Rania tidak tersedia kamar mandi.


Rania yang belum sepenuhnya tertidur itu pun membuka kedua kelopak matanya saat suara pintu kamarnya sudah kembali tertutup.


"Dia sudah keluar?" Rania menurunkan selimut yang menutupi kepalanya lalu menatap pada pintu. "Aku sungguh merasa gugup saat ini. Bagaimana jika William memintanya?" Lirih Rania memikirkan apakah ia harus menjalankan kewajibannya sebagai istri malam ini atau tidak.

__ADS_1


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...

__ADS_1


__ADS_2