
Kyara terdiam. Apakah hal itu juga yang ada di pikiran Rania saat ini sehingga sahabatnya itu nampak tidak bersemangat akan pernikahannya.
"Tidak perlu dipikirkan. Aku harap itu semua hanya perasaanku saja." Ucap Gerry melihat wajah Kyara yang murung.
"Aku harap juga begitu." Ucap Kyara menampilkan senyuman manisnya. "Aku harap kau bisa memberi pengertian pada William agar bisa menjaga sahabatku dengan baik." Pinta Kyara penuh harap.
"Tentu saja. Rania itu sudah aku anggap bagian dari keluarga kita. Aku juga ingin yang terbaik untuknya." Mengelus puncak kepala Kyara.
"Semoga saja." Tutur Kyara.
Percakapan mereka siang itu ditutup dengan Kyara yang berpamitan pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan Baby Rey di rumah.
Malam hari pun tiba. Sesuai janjinya dengan William kemarin malam, malam ini Gerry sudah berada di apartemen William bersama dengan Dika. William dan Dika juga sudah cukup lama mengenal semenjak Gerry sering mengajak Dika untuk berkumpul dengan sahabat baiknya di kampus dulu.
Gerry memasuki apartemen William dengan kening mengkerut. Pandangannya tertuju pada asap yang menggempul di udara. Lalu menatap pada William yang tengah memejamkan kedua kelopak matanya sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.
"William..." Gerry mendekat pada William disusul oleh Dika. "Apa yang kau lakukan? Kau merokok?" Gerry menggeleng tak percaya atas apa yang dilihatnya. "Sejak kapan kau jadi perokok seperti ini?" Cecar Gerry menatap dingin pada William.
William membuka kedua kelopak matanya. "Kau baru datang?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Gerry. "Hai, Dika. Sudah lama kita tidak bertemu." Mematikan rokoknya lalu berdiri.
"Jangan mengalihkan pembicaraanku, William." Tegur Gerry.
William terkekeh. Mendekat pada Dika dan melakukan salam perjumpaan. "Semenjak memiliki anak kau terlihat lebih banyak bicara." Ucap William diiringi tawanya.
Gerry mendengus. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa diikuti Dika.
__ADS_1
"Kau bukan seperti William yang aku kenal." Gerry menggelengkan kepalanya melihat banyaknya puntung rokok yang ada di dalam asbak.
"Aku masih William yang dulu. Tidak ada perubahan di dalam diriku." William berucap dengan santai tanpa beban.
Lagi-lagi Gerry mendengus. Sedangkan Dika mengamati wajah William yang tertawa namun terlihat penuh beban di wajahnya.
"Sejak kapan kau jadi perokok seperti ini?" Tanya Gerry lagi.
"Sejak kau masih koma." Jawab William apa adanya
"What?!" Pekik Gerry tak percaya. "Bukankah kau paling anti dengan asap rokok?" Gerry masih tidak percaya dengan perubahan sahabatnya.
"Kau tenang saja. Aku hanya akan merokok jika aku membutuhkannya. Aku masih tidak menyukai baunya jika orang lain yang mengisapnya." Seloroh William.
"Kau seperti memiliki beban di dalam hidupmu saat ini, William." Ucap Dika mengeluarkan isi pemikirannya.
"Apa sangat terlihat?" Ucap William diiringi tawa sinisnya.
"Ada apa denganmu William? Kau bukan seperti yang aku lihat dulu." Ucap Dika menatap William dengan datar.
"Aku tidak apa-apa. Dan saat ini hidupku baik-baik saja."
"Apa karena rencana pernikahanmu yang membuat kau seperti ini?" Tanya Dika mewakili pertanyaan Gerry.
"Salah satunya." Ucap William dengan masih tertawa.
__ADS_1
"Kami sedang tidak bercanda, William!" Gerry yang sudah merasa kesal melihat William yang terus tertawa itu pun menggebrak meja di depannya.
William sedikit terlonjak. Namun tetap menampilkan senyuman manisnya.
"Kau tidak pernah berubah. Masih tetap pemarah seperti biasanya." Seloroh William lagi.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1