
William pun segera menggendong tubuh Rania dengan hati-hati lalu membawanya keluar dari dalam kamar mandi. Tidak seperti biasanya. Rania hanya menurut di dalam gendongan William karena tubuhnya sangat lemah saat ini.
"Minum dulu..." Ucap William menyerahkan segelas air putih yang ada di atas nakas pada Rania.
"Terimakasih." Ucap Rania lalu meneguk air putih hingga tandas.
"Tubuhku lemas sekali." Keluh Rania menyandarkan tubuhnya ke headboard.
"Hari ini tidak usah bekerja saja. Wajahmu pucat sekali." Titah William mengelap keringat yang membasahi dahi Rania dengan tisu.
"Aku harus tetap bekerja. Pagi ini ada pertemuan penting dengan perusahaan Pak Gerry." Tolak Rania.
"Tidak ada bekerja hari ini atau kau tidak boleh bekerja selamanya." Ucap William dengan tegas.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian. Lihatlah wajahmu sangat pucat dan tubuhmu juga lemas. Bagaimana kau bisa bekerja dalam kondisi seperti ini."
Rania menghela nafas panjang. "Baiklah." Putusnya tak ingin berdebat.
"Nanti kita ke dokter, ya. Aku sungguh mengkhawatirkanmu." Ajak William.
Rania dengan cepat menggeleng. "Tidak... Aku tidak ingin ke dokter. Aku hanya sakit biasa."
"Sakit biasa bagaimana? Lihatlah wajahmu—"
__ADS_1
"Tolong jangan memaksaku. Aku sungguh tidak apa-apa " Ucap Rania yang tiba-tiba saja menangis.
"Rania... Loh..." Kening William tiba-tiba mengkerut dalam saat melihat istrinya menangis. "Kenapa kau menangis?" Tanya William dengan wajah bodoh.
"Karena kau meneriakiku dan melarangku sesuka hatimu. Dan kau juga menyuruhku ke Dokter sedangkan aku tak ingin!" Ucap Rania semakin menangis kencang.
"Oh astaga..." William mengusap kasar wajahnya. "Aku hanya meminta yang terbaik untukmu dan kau menangis." William merasa sangat bingung.
"Jadi menurutmu aku ini tidak boleh menangis?" Rania semakin menangis menjadi-jadi. "Aku tidak mau ke dokter. Aku tidak mau!" Tolaknya lagi.
William yang merasa panik pun membawah tubuh lemah istrinya ke dalam dekapannya. "Iya, iya... Aku tidak akan membawamu ke dokter." Putus William pada akhirnya.
Dia ini kenapa? Kenapa tiba-tiba cengeng begini? Amuk batin William.
Akhirnya pagi itu William pun memutuskan untuk tidak berangkat bekerja dan lebih memilih menemani istrinya yang tengah sakit itu di apartemen.
"Aku tidak berselera..." Tolak Rania dengan lirih.
William menghela nafasnya lalu meletakkan nampan di atas nakas. "Jika kau tidak mau makan bagaimana kau bisa cepat sembuh, hem..." Ucap William memberi pengertian.
"Sedikit saja." Ucap Rania yang akhirnya merasa tidak tega menolak makanan yang sudah dibawakan suaminya.
William mengangguk dan dengan cekatan menyuapi Rania makanan sedikit demi sedikit.
Sedangkan di perusahaan Wilson, Sean nampak memijit pelipisnya yang terasa sakit akibat mendapat amukan dari Mommynya setelah mengetahui kebohongan hubungannya dan Rania.
__ADS_1
"Jika kau memang tidak ingin menerima perjodohan yang Mom rencanakan, kau bisa menolaknya dengan baik-baik tidak dengan cara yang seperti ini, Sean." Ucap Mom Chelsea dengan wajah penuh kekecewaan.
Siang itu di saat Mom Chelsea sedang berkunjung ke perusahaan putranya ia harus dikejutkan dengan penjelasan Sean jika ia dan Rania hanyalah pasangan palsu saat Momnya ingin mengajak Rania untuk kembali datang ke acara keluarganya.
"Maafkan aku, Mom..." Sean merasa bersalah melihat wajah wanita yang sangat menyayanginya itu nampak bersedih.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...