Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Dalam keadaan tidak baik


__ADS_3

Pagi ini Kyara terbangun dengan kondisi tidak baik. Kyara melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 6.30. Tidak biasanya ia bangun ketika matahari sudah terang menyinari Bumi. Wajah putihnya nampak pucat seakan tidak teraliri darah sama sekali. Kepalanya pun terasa berdenyut. Hampir saja Kyara terjatuh ketika menuruni ranjang jika tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Kyara bergegas berlari sempoyongan ke kamar mandi ketika merasa mual yang teramat sangat.


Tiba di kamar mandi, Kyara langsung memuntahkan isi perutnya. Namun tidak ada yang keluar selain cairan kuning yang terasa pahit di lidahnya. Menghadap cermin, Kyara melihat wajahnya yang begitu pucat. Kepalanya pun semakin berdenyut.


"Aku ini kenapa?" Lirihnya kemudian luruh di atas lantai. Sedari tadi malam ia memang sudah merasakan hal aneh dalam tubuhnya. Tadi malam pun ia sempat muntah-muntah. Bahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya berhasil keluar semua.


Mengingat waktu yang semakin naik, Kyara pun dengan sekuat tenaga bangkit dari posisinya. Dengan tenaga yang masih tersisa Kyara mencoba membersihkan tubuhnya walau sesekali perlengkapan mandi yang dipegangnya jatuh begitu saja.


Merasa tubuhnya yang sepertinya tidak kuat membawa kendaraan. Apalagi kepalanya yang masih pusing. Kyara memutuskan untuk menaiki taksi online yang sudah ia pesan menuju perusahaan.

__ADS_1


"Berhenti di sini saja, Pak!" Ucap Kyara pada sopir taksi ketika sudah berada di ujung jalan menuju perusahaan.


Sopir itu menurut tanpa banyak tanya. Setelah membayar ongkos pada sopir taksi, Kyara pun turun. Kyara memilih berjalan kaki menuju perusahaan yang hanya berjarak 100 meter dari tempat ia berada. Ia hanya menghindari gosip-gosip tidak penting karena rekan kerjanya melihat dirinya menggunakan taksi. Karena biasanya ia hanya menggunakan kakinya sebagai alat transfortasi sebelum Kakek Surya memberikannya motor.


Kyara menelungkupkan wajahnya di meja kecil yang ada di dalam pantry. Secangkir teh hangat yang baru saja ia buat tidak mampu meredakan rasa mual yang semakin menjadi. Perutnya terasa diaduk-aduk ketika mencium berbagai aroma parpum rekan kerjanya. Kyara merasa aneh dengan respon tubuhnya. Biasanya ia biasa-biasa saja ketika mencium aroma merk parfum apapun itu.


"Kyara... Kau kenapa?" Tanya Rania yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam pantry dan melihat Kyara yang sedang menelungkupkan wajahnya. Tadi pagi Rania memang ditugaskan Bu Retno untuk langsung membersihkan ruangannya terlebih dahulu.


"Hey... Kau tak apa??" Rania mulai panik ketika melihat wajah pucat Kyara. "Kenapa kau sering pucat akhir-akhir ini?" Tanya Rania. Tangannya dengan cepat sudah berada di kening Kyara memeriksa kondisi tubuh Kyara.

__ADS_1


"Tidak panas..." Gumamnya merasa aneh.


"Aku tidak apa-apa, Rania..." Ucap Kyara menenangkan Rania yang sudah menurunkan kembali tangannya.


"Kau ini selalu saja berkata seperti itu! Kemarin-kemarin kau juga berkata baik-baik saja, tapi apa? Akhirnya kau pingsan juga 'kan?" Decak Rania.


"Aku hanya merasa pusing dan perutku terasa tidak enak dari tadi malam." Akunya pada Rania. Bahkan Kyara merasa tubuhnya tidak kuat lagi untuk bekerja.


"Ya ampun, Kya... Jika kau sudah merasa tubuhmu tidak kuat untuk bekerja kenapa kau memaksakannya!" Omel Rania. Tangannya kini terayun memegang tangan Kyara. "Ayo ikut aku!" Perintahnya membantu Kyara berdiri.

__ADS_1


*


__ADS_2