
William dan Reno memasuki apartemen Gerry dengan langkah lebar. Pandangan mereka mengedar mencari keberadaan Gerry. Melihat tidak adanya keberadaan Gerry di lantai satu, mereka menyimpulkan jika Gerry masih berada di kamarnya saat ini. Jangan tanyakan kenapa mereka bisa masuk ke dalam apartemen Gerry dengan mudah. Tentu saja mereka sudah mengetahui kode pin apartemen Gerry dari dulu. Dan memang sampai saat ini Gerry tidak pernah menggantinya.
"Kau pergilah ke kamarnya. Sepertinya dia melanjutkan tidurnya di kamar." Ucap William menyimpulkan ketika melihat selimut yang tenggorok begitu saja di lantai dekat sofa. "Aku ingin ke kamar mandi terlebih dulu." Ucap William pada Reno.
Reno menganggukkan kepala sebagai jawaban. Segera ia langkahkan kakinya ke lantai dua.
"Dia memasak?" Kening William nampak berkerut melihat satu piring bekas makanan di atas meja makan. "Sangat aneh..." Gumamnya memasuki kamar mandi.
"Gerry, bangunlah!" Reno menggoyangkan tubuh Gerry yang masih bergulung di dalam selimut.
"Berisik! Siapa yang mengijinkan kau masuk ke dalam apartemenku?!" Umpat Gerry merasa terganggu dalam tidurnya.
"Untuk apa aku meminta izin terlebih dahulu kepadamu. Sungguh tidak penting!" Kelakarnya. Melihat Gerry yang masih tidur membuat Reno menghempaskan tubuhnya di ranjang yang masih kosong.
"Si4lan! Kau sungguh menganggu!" Muak dengan kelakuan Reno, Gerry menyibakkan selimutnya ke sembarang arah. Kepalanya masih sakit, itulah sebabnya Gerry kembali melanjutkan tidurnya setelah makan berharap bisa menghilangkan sedikit sakit di kepalanya.
"Apa tujuanmu datang mengangguku kemari?" Tanya Gerry pada akhirnya. Mengacak rambutnya frustasi. Dengan rambut yang masih berantakan tidak membuat ketampanannya memudar.
__ADS_1
"Tentu saja untuk mengajakmu bermain basket. Apa kau tidak rindu bermain dengan anak-anak yang lain? Mereka sudah menunggu kita di lapangan dari tadi." Jelas Reno.
"Aku tidak berminat! Sekarang pergilah!" Usir Gerry.
"Ayolah, bro... Kau tahu jika aku tidak lama berada di Indonesia."
Mendengar ucapan Reno, Gerry pun akhirnya mengiyakannya.
"Lalu dimana bocah tengik itu?" Tanyanya ketika tidak melihat keberadaan William di kamarnya.
"Apa kau mencariku, Gerry? Apa kau merindukanku? Hem?" Ucap William dengan wajah tengilnya memasuki kamar Gerry. William pun mendekat ke arah Reno yang masih berbaring lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Reno. Sedangkan Gerry, ia sudah duduk di sofa.
"Aku melihat piring bekas makanan di meja makanmu, Gerry. Sepertinya makanan itu dimasak di apartemenmu melihat tidak ada bungkusnya di sana dan ada sampah bekas bahan masakan di tong sampah. Apa sekarang kau sudah pandai memasak?" Ledek William pada Gerry.
Seketika ingatan Gerry beralih pada Kyara. Agh, wanita itu. Kyara belum kembali ke apartemennya. Bagaimana jika dua sahabat tengilnya melihat keberadaan Kyara ketika wanita itu sudah kembali ke apartemen. Bisa gawat! Rahasianya bakal terbongkar. Apalagi ia tidak tahu kemana Kyara pergi melihat Kyara juga tidak ada di kamarnya waktu saat ia mengeceknya tadi.
"Tentu saja tidak. Makanan itu dimasak oleh pelayan mansion rumah Kakek yang biasa membersihkan apartemen." Dusta Gerry.
__ADS_1
"Gerry, apa kau tahu jika Ara memiliki sepupu yang tinggal di salah satu unit apartemen di sini?" Tanya William. Kini tubuhnya sudah duduk di tepi ranjang. "Tadi aku bertemu dengan Ara di supermarket di bawah sebelum ke apartemenmu."
Raut wajah Gerry seketika menegang. Tetapi Gerry dengan cepat merubah ekspresinya kembali. "Mana aku tau. Sungguh tidak penting!" Ketusnya.
*
*
*
*
Lanjut? Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain yang berjudul "OH MY INTROVERT HUSBAND"
__ADS_1
Terimakasih tersayang💗