Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mencari keberadaanmu


__ADS_3

Delapan jam kurang lebih perjalan Kyara lalui hingga ia kembali ke kota yang banyak menggoreskan luka di hatinya. Kyara nampak memperhatikan gedung-gedung menjulang tinggi yang di lewatinya. Hingga pandangannya terhenti pada gedung perusahaan Bagaskara tempat ia bekerja. Tak terasa matanya berkaca-kaca mengingat segala kenangan di perusahaan itu.


Mobil pun terus melaju membelah keramaian. Hingga kini Kyara pun kembali memasuki mansion mewah milik keluarga Bagaskara. Kyara menatap keindahan luar mansion dengan pandangan takjub. Karna saat pertama kali ia menginjakkan kaki di sana ia tidak memperhatikan pemandangan luar mansion yang tak kalah indah dari dalam mansion.


Sopir menghentikan mobil di depan masion. Di sana sudah terlihat Kakek Surya yang tengah berdiri menunggu kedatangan cucu mantu kesayangannya. Mama Riana turun lebih dulu dari dalam mobil kemudian membantu Kyara yang nampak kesusahan menompang berat tubuhnya.


"Terimakasih, Ma." Ucap Kyara tersenyum setelah keluar dari dalam mobil.


"Sama-sama, sayang..."


"Kyara cucu Kakek..." Pria yang tak lagi muda itu merentangkan kedua tangannya menyambut cucu mantunya.


Kyara dengan tangan menyangga pinggangnya berjalan menaiki tangga satu persatu menuju Kakek Surya berada. Kyara pun segera berhambur ke dalam pelukan pria tua yang sangat di sayanginya itu. Dua manusia beda usia itu nampak berpelukan dengan begitu suka cita.


"Perutmu sudah semakin membesar dari terakhir kali kakek melihatmu." Ucap Kakek Surya setelah pelukan itu terlepas.

__ADS_1


Kyara tersenyum kecil. "Iya Kek. Perut Kya juga terasa semakin berat." Balasnya.


Kakek Surya pun menuntun Kyara untuk masih ke dalam mansion.


"Bi Sumi..." Panggil Kakek Surya pada wanita paruh baya yang sedang berdiri menyambut kedatangan nyonya muda keluarga Bagaskara itu.


"Iya, Tuan." Jawabnya kemudian mendekat.


"Tolong bawa Kyara ke kamar Gerry untuk istirahat."


"Istirahatlah terlebih dahulu. Kau pasti kelelahan selama dalam perjalanan." Ucap Kakek Surya mengelus rambut Kyara.


"Baiklah, Kek." Ujarnya.


Bi Sumi pun menuntun Kyara berjalan menuju lift diikuti dua orang pelayan membawakan barang-barang Kyara.

__ADS_1


"Terimkasih, Bi..." Ucap Kyara saat sudah masuk ke dalam kamar Gerry.


Bi Sumi mengangguk seraya melebarkan bibir.


"Jika Nona perlu bantuan silahkan tekan tombol merah yang ada di sana." Tunjuk Bi Sumi pada beberapa tombol yang berada di dekat ranjang.


Kyara pun mengangguk. Setelah kepergian Bi Sumi, Kayra pun menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang.


"Lelah sekali..." Gumamnya mengelus perut buncitnya. Untung saja ia sudah makan saat dalam perjalanan tadi hingga saat ini perutnya masih terasa kenyang.


Pandangan Kyara pun tertuju pada foto yang menggantung di atas kepala ranjang. Kyara tertegun melihat foto pernikahannya dan Gerry di sana. Tiba-tiba saja wajah Kyara berubah sendu. Sejak masuk ke dalam mansion mata Kyara sudah mencari-cari dimana keberadaan suaminya yang tak kunjung terlihat. Ingin sekali Kyara bertanya dimana Gerry berada saat ini. Namun gengsinya yang tinggi membuat Kyara urung melakukannya. Kyara menghela nafasnya yang kian memberat. Karena sudah terlalu lelah, Kyara pun memutuskan untuk tidur mengistirahatkan tubuh lelahnya setelah meminum minuman hangat yang tadi dibawakan oleh pelayan.


Sedangakan di belahan dunia lain, Gerry nampak memperhatikan gerak-gerik istrinya sejak memasuki kamarnya dari rekaman CCTV yang baru dipasang beberapa minggu yang lalu. Gerry nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin sekali ia berada di dekat istri dan anaknya kemudian mendekap wanita itu hingga lelah. Namun pekerjaan menuntutnya untuk tetap tinggal hingga semuanya benar-benar selesai.


***

__ADS_1


__ADS_2