
Jadi suami Kyara bukan Dika? Batin Dokter Hana karena saat ini kondisi Dika dalam keadaan sehat.
"Bagaimana itu semua bisa terjadi?" Dokter Hana nampak penasaran dengan kejadian yang menimpa teman barunya saat ini.
Kyara pun mulai menceritakan awal mula kejadian yang menimpanya dan suaminya. Air mata Kyara kembali mengalir mengingat pengorbanan Gerry yang saat itu berkorban untuk menyelamatkan nyawanya.
"Astaga..." Dokter Hana menutup mulut dengan kedua tangannya. Akhirnya pertanyaan yang ada di dalam benaknya terjawab sudah. Mengapa Kyara nampak sering datang ke rumah sakit pagi, siang dan sore hari.
"Ternyata Dokter Dika adalah sahabat suamimu?" Tanya Dokter Hana saat Kyara menceritakan siapa Dika di keluarganya.
Kyara mengangguk. "Aku juga baru mengenalnya setelah operasi suamiku."
"Ohh... Seperti itu..."
"Oh iya, Dokter Hana—" Ucapan Kyara terputus karena Dokter Hana dengan cepat menyelanya.
"Kau bisa memanggilku dengan sebutan Hana saja. Bukankah mulai saat ini kita adalah teman?" Ucap Dokter Hana.
"Baiklah, Hana..." Ucap Kyara tersenyum. Ia sungguh bersyukur dipertemukan dengan Dokter sebaik Dokter Hana yang mau mendengar keluh kesahnya selain Rania seperti saat ini.
"Ya, jadi kau ingin berbicara apa tadi?"
"Aku harus kembali ke dalam ruangan suamiku. Karena Mama dan Papa mertuaku sepertinya sudah mau pulang." Ucap Kyara.
__ADS_1
"Baiklah... Semoga suamimu cepat sadar. Dan kau bisa mengunjungiku ke dalam ruanganku jika kau membutuhkan teman cerita." Tawar Dokter Hana.
Kyara mengangguk. "Terimakasih. Aku pergi dulu." Kyara pun bangkit. Mereka pun melakukan perpisahan dengan berpelukan barang sejenak.
"Dia wanita yang manis..." Gumam Hana menatap punggung Kyara.
"Sebaiknya aku cepat menghabiskan cemilan ini sebelum waktu istirahatku habis!" Serunya kemudian membuka bungkus plastik cemilannya.
*
"Dokter Hana..." Mendengar suara seseorang yang cukup dikenalinya memanggil namanya membuat Dokter Hana yang sedang memilih buah-buahan menghentikan aktivitasnya.
"Kyara..." Kedua mata Hana berpusat pada bayi mungil yang saat ini berada di gendongan Kyara. "Bayi ini..." Hana meneliti wajah bayi mungil yang terlihat sangat tampan dan lucu itu.
"Oh astaga... Dia sungguh tampan." Puji Hana dengan mata berbinar.
"Siapa nama bayi tampan ini?" Hana mengelus pipi lembut Baby Rey.
"Rey. Namanya Reynard Abrisam Bagaskara." Jawab Kyara.
"Nama yang bagus..."
Kyara tersenyum.
__ADS_1
"Apakah wanita ini Rania?" Tanya Hana melihat pada Rania mengingat di setiap obrolan mereka, Kyara selalu menceritakan tentang sahabat baiknya itu.
"Ya, dia Rania sahabatku." Ucap Kyara.
"Hallo, Dokter Hana." Rania mengulurkan tangannya yang dengan cepat disambut oleh Hana.
"Hallo, Rania... Panggil saja Hana." Ucapnya tersenyum
Rania membalas tersenyum. "Baiklah, Hana."
"Kalian sedang apa di sini?" Tanya Hana. "Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini." Lanjutnya.
"Kami sedang membeli beberapa kebutuhan Rey yang sudah habis. Sekalian aku ingin mengajak Rey berjalan-jalan sebentar di taman kota sebelum aku kembali ke rumah sakit."
Kepala Hana mengangguk. "Apa kau sudah siap berbelanja?" Tanya Hana melihat pada troli yang dibawa Rania.
"Hanya tinggal mencari buah-buahan saja." Ucap Kyara.
"Baiklah. Aku juga hanya tinggal mencari buah-buahan. Sepertinya aku bisa ikut denganmu mengajak Baby Rey jalan-jalan. Lagi pula hari ini aku tidak bekerja. Akan sangat suntuk jika aku kembali ke apartemen seorang diri." Keluh Hana.
Kyara pun mengiyakan ucapan Hana. Setelah selesai membayar belanjaan mereka, mereka pun berangkat menuju taman menggunakan mobil masing-masing.
***
__ADS_1
Banyakin komen, like dan votenya yuk agar Gerry cepat sadar🤧😂