
"Jika tuhan saja mampu memaafkan kesalahan umatnya, lantas mengapa kita yang hanya hambanya tidak mau memaafkan kesalahan sesama manusia." Lanjut Dokter Dika kemudian.
Kyara semakin larut dalam tangisannya. Apa yang dikatakan Dokter Dika semuanya benar. Dirinya adalah wanita egois yang terlalu mementingkan perasaannya sendiri. Ia bahkan begitu enggan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada suaminya .
"Sudahlah. Kau tak perlu menyesalinya. Menyesal pun tiada guna. Saat ini kau hanya perlu berdoa untuk kesembuhan Gerry. Semoga ia dapat melewati masa kritisnya."
Kyara diam. Namun kepalanya mengangguk mengiyakan ucapan pria itu. Ia tidak boleh menjadi wanita lemah. Ada Baby Rey yang saat ini membutuhkan sosok ibu sekaligus ayah untuknya.
"Aku dengar kau dan Gerry sudah memiliki seorang seorang anak. Jika sempat, aku akan mengunjungi keponakanku di mansion Kakek."
"Maaf, sebelumnya aku belum pernah melihatmu." Kyara merasa penasaran tentang siapa pria ini di keluarga Gerry
"Seperti yang kau ketahui. Namaku adalah Dika. Dan aku adalah salah satu sahabat Gerry. Kami memang sudah lama tak berjumpa sejak aku memutuskan untuk menetap di luar negeri dan bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta di sana."
"Gerry adalah salah satu sahabat terbaikku. Kami saling mengenal sejak Tante Riana membawa Gerry kecil ke mansion keluargaku. Walau pun sikap Gerry sangat menyebalkan, namun itu menjadi salah satu daya tarik bagiku untuk berteman dengannya. Dan setelah lama aku mengenal Gerry, aku baru mengetahui jika Gerry tidak seburuk yang dipikirkan orang lain." Pikiran Dokter Dika mengelana jauh kebeberapa tahun silam.
Telefon Dokter Dika berdering. Dokter Dika pun mengambil ponsel yang ada di dalam saku jas kebesarannya. "Maaf aku angkat telefon dulu."
__ADS_1
Kyara mengangguk. Dokter Dika pun sedikit menjauh untuk melakukan percakapan yang sedikit privasi. Tak lama Dokter Dika pun kembali.
"Aku harus segera kembali ke dalam. Ada pasien yang harus aku tangani." Pamitnya.
Kyara mengangguk. "Terimakasih atas masukannya."
Dokter Dika mengangguk. Pria itu meninggalkan tepukan lembut di bahu Kyara. "Jadilah wanita yang kuat. Aku tahu kau pasti bisa melewati ini semua." Dokter Dika segera berlalu. Meninggalkan Kyara yang terdiam akan ucapannya.
***
Kyara menatap mansion mewah keluarga Bagaskara dari pagar yang mulai terbuka otomatis. Mobil BMW hitam yang membawanya mulai memasuki perkarangan mansion. Kyara menghela nafas panjang sebelum keluar dari dalam mobil.
Ceklek
Pintu kamar Rania terbuka menampakkan wajah Kyara di sana. Kyara melangkah pelan menuju ranjang. Di atas Ranjang Rania nampak sedang memberikan susu pada Baby Rey yang hampir terlelap. Kyara menaruh jari telunjuknya di atas bibir agar Rania tak bersuara.
"Biar aku lanjutkan." Kyara mengambil alih pekerjaan Rania.
__ADS_1
Rania mengangguk. Pandangannya tak lepas dari Kyara yang sedang menggendong Rey sambil memberikan susu pada Rey. Rania dapat melihat wajah sendu Kyara. Sedikit banyaknya Rania sudah mendapatkan informasi tentang keadaan Gerry saat ini. Dan Rania sangat paham jika Kyara pasti sangat terpukul saat ini.
"Ayo ikut aku." Rania menarik tangan Kyara menuju balkon kamarnya setelah Kyara meletakkan Baby Rey ke dalam box bayi.
"Ada apa?" Tanya Kyara merasa heran karena Rania hanya diam saja dan memandang lekat wajahnya.
"Kau ingin menangis bukan? Menangislah. Tidak perlu ditahan. Ada bahuku yang bisa kau jadikan sandaran untuk menumpahkan segala kesedihanmu saat ini." Rania menarik lembut tubuh Kyara ke dalam pelukannya. Walau pun Kyara memperlihatkan jika ia baik-baik saja, namun Rania sangat mengetahui jika sahabatnya itu kini tengah terluka.
***
Udah baca karyaku yang dua lagi belum?
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa mampir ya....
__ADS_1
Banyakin komen, like dan votenya yuk agar author up lagi... hihi☺
Cerita Gerry dan Kyara akan terus berlanjut. Aku harap kalian tidak bosan ya.... Karena sosok Dika akan menemani cerita Kyara yang sedang menunggu Gerry di masa komanya❤