
Mendengarkan keinginan sahabatnya, Kyara hanya tersenyum menanggapinya.
"Oh iya, Kya. Sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan kepadamu." Ucap Rania dengan nada serius.
"Apa itu?" Tanya Kyara merasa penasaran.
"Aku memiliki firasat yang tidak baik pada sekretaris William yang baru. Entah mengapa sejak pertama bertemu dengannya aku langsung menangkap jika dia memiliki niat tidak baik bekerja dengan William."
"Niat tidak baik seperti apa? Apa itu tidak perasaanmu saja, Rania?"
"Itu bukan perasaanku saja, Kya. Karena pernah sekali aku melihatnya dengan berani menyentuh tubuh William." Rania merasa geram saat menceritakannya.
"Apa? Menyentuh tubuh William?" Pemikiran Kyara melayang.
"Tidak sejauh yang kau pikirkan. Tapi dia berusaha menarik perhatian William dengan ingin memperbaiki dasi William." Rania pun turut menceritakan apa yang dijelaskan William kepadanya.
"Bagaimana bisa dia selancang itu memegang William sedangkan dia bukan istrinya." Kyara tak habis pikir dengan tingkah sekretaris William.
"Bisa saja aku mencekik atau mencakarnya waktu itu. Tapi aku masih memikirkan jika saat ini aku sedang hamil. Dan aku tidak ingin karena kebar-baranku akan membuat bayiku kenapa-napa nantinya. Untuk saat ini aku masih akan mengikuti permainannya sejauh apa. Dan apa kau tahu, Kya?" Rania menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Apa?" Kyara semakin dibuat penasaran.
"William memberikan padaku akses padaku untuk melihat rekaman CCTV yang ada di ruangannya agar aku tidak mencurigainya. Walau pun aku percaya padanya, namun aku tidak bisa percaya dengan wanita itu."
"William sungguh benar-benar menjaga hatimu agar tak berpikiran buruk padanya, Rania." Ucap Rania memuji.
"Walau pun begitu, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan jika tidak berada di ruangannya bukan?" Rania kemudian mendesahkan nafas kasar di udara.
"Kau cukup percaya padanya karena aku yakin William adalah pria yang setia dan akan menjagamu dengan baik. Dan untuk wanita itu, kau tidak bisa terlalu gegabah mengatakan jika dia adalah wanita tidak baik sebelum kau mengumpulkan banyak bukti untuk menjeratnya. Karena bisa saja isi hatimu itu tidak sesuai kebenarannya." Saran Rania.
"Aku sudah berusaha melakukannya, Kya. Aku harap William selalu bisa menjaga kepercayaanku." Harap Rania.
"Semoga saja."
*
"Steve... apa kau tidak menyelidiki latar belakang Citra sebelum kau menerimanya sebagai sekretarisku?" Tanya William pada Steve. Saat ini mereka tengah berada di ruangan Steve untuk melakukan perbincangan singkat di sana.
"Saya sudah menyelidikinya, Tuan. Dari banyaknya kandidat, hanya dialah yang cukup memenuhi kriteria. Dan kinerjanya selama bekerja juga cukup bagus selama ini." Balas Steve.
__ADS_1
"Untuk saat ini terus awasi pergerakannya. Jangan sampai dia kembali berusaha menggodaku seperti waktu itu." Titah William.
"Baik, Tuan. Tapi untuk saat ini saya lihat Citra tidak melakukan hal yang di luar batas seperti beberapa hari yang lalu." Ucap Steve.
William mengangguk menyetujui, setelah perbincangan singkatnya dengan Steve selesai, William pun memilih kembali ke dalam ruangannya karena sudah banyak berkas yang sudah menunggunya di sana.
"Sepertinya aku harus lembur malam ini." Ucap William menatap setumpuk dokumen di depannya.
Jam pulang bekerja pun telah tiba, namun Citra tidak memilih untuk pulang dan lebih memilih untuk tetap berada di belakang meja kerjanya karena ia mengetahui jika hari ini William akan lembur.
Saat inilah kesempatan agar aku bisa menjalankan rencanaku. Ucap Citra dalam hati dengan penuh maksud.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
__ADS_1
Serpihan Cinta Nauvara (End)
Oh My Introvert Husband (End)