Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Lupa untuk menjagamu


__ADS_3

"Baiklah... Terserah kau saja... Asalkan itu tidak memberatkanmu." Tutur William dengan lembut. "Ayo tidur. Tidak baik ibu hamil sepertimu tidur terlalu larut." Perintah William lalu menarik tubuh bulat istrinya ke dalam pelukannya. "Kau semakin menggemaskan saja." William menggigit kecil pipi istrinya merasa gemas.


"Willi... Pipiku sakit!" Gerutu Rania lalu mencubit pinggang suaminya.


William tertawa kecil namun sedikit meringis. "Ayo tidur." Ucapnya lagi lalu mulai memejamkan mata. Karena tubuhnya yang sudah sangat lelah dan mata yang sudah sangat mengantuk, tak membutuhkan waktu lama William pun sudah tertidur sambil memeluk tubuh istrinya.


Sedangkan Rania, wanita itu masih saja sibuk menatap wajah tampan suaminya. "Aku terlalu sibuk bekerja hingga aku lupa jika aku juga harus menjagamu dari banyaknya wanita yang berusaha mengambil dirimu dari diriku." Gumam Rania dengan pelan sambil mengelus wajah tampan suaminya.


*


Di dalam ruangan kerjanya, William nampak tersenyum kecil saat mengingat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan setiap harinya. Steve yang duduk di depannya nampak menatap bingung atasannya yang tersenyum sendiri.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Steve dengan nada datarnya.


William pun menghentikan aksi tersenyum sendirinya. "Saya baik-baik saja. Ada apa?" Tanya William dengan nada datarnya juga.


"Saya merasa khawatir melihat anda tersenyum sendiri, Tuan." Balas Steve dengan jujur.


William kembali tersenyum kecil yang membuat Steve merasa takut. "Apa kau tahu Steve."


"Tidak, Tuan."

__ADS_1


"Kau... aku belum selesai berbicara!" Amuk William pada asistennya.


Steve pun diam menunggu lanjutan ucapan Tuannya. "Apa kau tahu jika semakin hari istriku semakin menggemaskan. Aku rasanya sangat ingin memakan pipinya yang semakin bulat seperti ada telur di dalamnya itu. Dan juga... akhir-akhir ini aku merasa dia begitu mencintaiku." William berkata dengan senyum yang tak luntur dari wajah bulenya.


"Steve... kenapa kau diam saja!" Cetus William sebab Steve tidak menjawab ucapannya.


"Saya bingung harus mengatakan apa, Tuan." Balas Steve dengan jujur.


"Ck. Sebaiknya kau mencari pasangan sehingga kau tahu bagaimana rasanya di posisiku saat ini." Cibir William.


Wajah Steve nampak berubah masam mendengar ucapan William. "Baiklah, saya akan mencarinya, Tuan." Balas Steve menahan rasa jengkelnya.


Tak lama setelah Steve keluar dari dalam ruangannya, pintu ruangan William pun kembali diketuk dari luar.


"Masuk!" Titah William.


Ceklek


Pintu pun terbuka dan menampilkan wajah Citra di sana yang sedang memegang nampan berisi kopi di tangannya.


Tanpa memperdulikan kedatangan Citra, William pun kembali melanjutkan pekerjaanya.

__ADS_1


"Ini kopi yang anda minta, Tuan." Ucap Citra setelah meletakkan segelas kopi di atas meja kerja William.


William mengangguk tanpa bersuara.


"Tuan..." Suara Citra terdengar lembut memanggilnya membuat kepala William terangkat menatap pada sekretarisnya itu. Sepertinya saat ini kesempatan yang bagus untuk aku menarik perhatian Tuan William.


"Ada apa?" Tanya William menatap bingung sekretarisnya.


Citra hanya tersenyum lalu mendekat ke kursi William. "Maaf, Tuan. Tapi sepertinya dasi yang anda kenakan tidak terikat dengan rapi." Ucapnya dengan lembut.


William dibuat terkejut dengan tingkah Citra saat tangan wanita itu tiba-tiba saja sudah berada di lehernya lalu memegang dasinya.


William yang hendak protes pun menghentikan ucapannya saat pintu terbuka begitu saja dari luar dan menampakkan sosok istrinya di sana.


"Rania..." Ucap William lalu dengan kasar mendorong tubuh Citra menjauh darinya.


***


Lanjut?


Berikan komen, vote dan likenya dulu yuk😌

__ADS_1


__ADS_2