Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Obat tidur sebagai solusi


__ADS_3

"Jika anda saja tidak tahu bagaimana dengan saya? Apa anda tidak melihat jika saya sejak pagi belum bertemu dengan Tuan Sean." Balas Asisten Felix dengan ketus.


"Kalau kau tidak tahu ya sudah!" Balas Rania tak kalah ketus. Rania pun segera keluar dari dalam ruangan rapat sebelum emosi ibu hamilnya semakin meningkat. "Dia itu memang menyebalkan sekali!" Gerutu Rania sambil berjalan menuju meja kerjanya


"Ada apa dengan wajahmu, Rania?" Tanya Deby saat melihat wajah masam Rania.


"Aku itu sungguh kesal dengan Felix!" Ucap Rania dengan nada tak suka.


Deby menggeleng. "Kau bertengkar lagi dengannya?" Tanya Deby.


Kepala Rania menggeleng. "Tidak. Hanya sedikit berdebat." Balasnya membenarkan.


"Ingat saat ini kau sedang hamil, Rania. Apa kau mau jika wajah anakmu nanti akan mirip dengan Felix." Ucap Deby memperingatkan.


Rania mendengus. "Tentu saja tidak." Balasnya merasa malas dengan peringatan Deby untuk kesekian kalinya.


*


Jarum jam sudah menunjukkan waktu pulang bekerja, namun Sean lebih memilih melanjutkan pekerjaannya dari pada pulang dan bertemu dengan istrinya.


"Apa Tuan Sean tidak pulang? Kenapa dia belum keluar juga dari dalam ruangannya?" Tanya Deby yang belum bisa pulang karena menunggu Sean keluar dari dalam ruangannya.

__ADS_1


"Mungkin Tuan Sean masih memiliki sedikit pekerjaan." Tebak Rania. Ponsel di telinganya ia jauhkan agar William yang sejak tadi menunggunya di dalam mobil tidak mendengar percakapan mereka.


"Mungkin saja." Balas Deby.


Percakapan mereka pun terhenti saat Felix berjalan ke arah mereka.


"Pulanglah. Tuan Sean masih memeriksa beberapa laporan lagi." Ucap Felix yang sudah diberitahu Sean jika ia akan pulang lebih malam malam hari ini.


"Baiklah. Terimakasih informasinya Tuan Felix." Ucap Deby dan Rania berbarengan.


Felix mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan Presdir.


"Pulanglah. Aku akan pulang sebentar lagi." Ucap Sean pada Felix yang masih menunggunya duduk di sofa.


Satu setengah jam menunggu, akhirnya Sean pun bangkit dari kursi kebesarannya. "Ayo!" Ajaknya sambil memakai kembali jas yang menggantung di sandaran kursi kebesarannya.


Felix mengangguk patuh. Berjalan mengikuti langkah Sean dari belakang.


"Felix... Nanti berhentilah di apotek dan belikan obat tidur untukku." Titah Sean saat mobil sudah melaju di jalan raya.


Felix nampak bingung. "Baik, Tuan." Balasnya tak ingin bertanya.

__ADS_1


Saat sudah berada di dekat apartemen, Felix pun memberhentikan mobilnya di depan sebuah apotek.


"Sepertinya aku benar-benar memerlukan obat tidur itu agar aku bisa tidur lebih cepat dan tidak merasa tergoda oleh tubuh Keyla." Gumam Sean sambil memijit pelipisnya yang sakit.


Setelah membelikan obat pesanan Sean, Felix pun kembali melajukan mobilnya menuju apartemen.


"Besok tidak perlu menjemputku. Karena aku akan membawa mobil sendiri besok pagi." Ucap Sean sebelum turun dari dalam mobil.


"Baik, Tuan." Balas Felix tak banyak bertanya.


Kaki Sean melangkah dengan malas memasuki apartemennya di lantai satu yang nampak kosong malam itu.


"Kemana wanita itu?" Gumam Sean sambil menghidupkan lampu apartemennya. Tak melihat tanda-tanda istrinya di lantai satu, kaki jenjang Sean pun melangkah menuju kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya. Dan saat sudah berada di dalam kamar, Sean membulatkan kedua bola matanya saat melihat pemandangan di depannya.


***


Lanjut malam ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)

__ADS_1


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


__ADS_2