Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mematahkan hati


__ADS_3

"Maafkan aku, William..." Air mata Kyara semakin mengalir begitu deras. Mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan William. Namun lelaki itu menahannya. Kyara terisak. "Maafkan aku... Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa membalas perasaanmu."


Deg


Jantung William terasa bagai tertusuk duri yang begitu tajam. Ia tidak menyangka jika Kyara akan menolak perasaannya.


"Tapi kenapa, Ara? Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk ada di hatimu?" Walau pun sudah menebak jawaban wanita itu. Namun William tetap merasa sesak di dadanya ketika mendengar penolakan Kyara.


"Aku tidak bisa memberikan alasannya untuk saat ini, William..." Lirih Kyara.


"Aku membutuhkan sebuah alasan untuk kata penolakanmu, Ara..." Pinta William.


"Tidak untuk saat ini, William... Suatu saat kau pasti akan mengerti..." Kyara tertunduk bersamaan dengan air matanya yang semakin deras mengalir.


William menarik genggaman tangannya dari tangan Kyara. Kemudian mengusap kasar wajahnya. "Apa kurangnya aku, Ara? Coba katakan dimana kurangnya aku? Aku akan mencoba merubahnya untukmu... Aku sungguh mencintaimu..." Gumam William begitu lirih.

__ADS_1


Ucapan William begitu menyayat hati Kyara. Jujur saja tidak ada satu pun kekurangan pada pria itu. William begitu baik padanya. Bahkan juga pada Rania. Ia memang sudah merasa nyaman ketika berada di dekat William. Namun perasaan nyaman itu tidak lebih dari nyaman dari sebuah pertemanan. Seperti yang ia rasakan pada Rania.


William tidak tahu, jika selama ini hatinya sudah ia kunci rapat-rapat untuk pria lain. Selama ini Kyara hanya mencoba untuk belajar mencintai orang yang seharusnya ia cintai.


"Kau tidak memiliki kekurangan satu apa pun. Di sini akulah yang sangat begitu banyak kekurangan. Aku yang tidak pantas untukmu, William."


Tangan William terulur menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipi Kyara. Hatinya merasa sakit ketika melihat Kyara menangis karena dirinya.


"Maafkan aku..."


"Jangan menangis... Aku sungguh sakit ketika melihat air matamu..." Ucap William. Dengan perlahan wajah William semakin maju mendekat pada wajah Kyara.


Cup


Kyara seketika tertegun mendapatkan ciuman cukup lama di keningnya oleh William. Perlahan Kyara menutup kedua kelopak matanya menghayati kehangatan yang diberikan William karena saat ini ia sudah berada di dalam pelukan pria itu.

__ADS_1


William kembali membenamkan ciuman cukup lama di kening Kyara. William sedikit merasa lega karena Kyara tidak menolak ciumannya.


Tak lama Kyara pun kembali ke alam sadarnya. Ia sudah menjadi seorang istri. Tidak seharusnya ia menerima pelukan dari pria lain selain suaminya. Walau suaminya itu tidak pernah mencintainya.


Kyara melepas pelukan William. "Bisakah kita tetap menjadi teman untuk selanjutnya?" Tanya Kyara hati-hati. Dari pengalamannya yang sudah-sudah, pria yang ia tolak cintanya pasti akan menjauh setelah mereka mengungkapkan perasaanya.


William terkekeh. "Seharusnya akulah yang berkata seperti itu. Jangan karena perasaanku padamu, kau jadi menjauh karena tidak enak padaku." Ucap William. Mengelus salah satu pipi Kyara.


"Namun izinkan aku untuk terus berjuang memenangkan hatimu, Ara. Jangan pernah mencoba melarangku untuk berhenti mencintaimu dan juga memperjuangkanmu." Lanjutnya.


"Belajarlah untuk melupakan perasaanmu padaku, William. Karena sampai kapan pun, kita tak mungkin bersama." Ucap Kyara kembali mematahkan William.


"Sudah ku katakan untuk tidak mengatakan hal itu, Ara. Bagaimana pun itu, aku akan tetap berjuang untuk memenangkan hatimu. Bagaimana pun keadaannya."


***

__ADS_1


Siapa yang udah ga sabar Kyara pergi dari hidup Gerry? Angkat suaranya dong, hihi.


__ADS_2