
Tiga hari sudah William berada di kota A menghabiskan waktu liburannya yang hanya beberapa hari itu dengan memadu kasih bersama istrinya. Dan hari ini, William pun kembali mengajak Rania untuk pulang bersamanya menuju Ibu kota karena esok hari ia sudah harus mulai bekerja. Setelah berpamitan kepada ibu dan ayah Rania, akhirnya mobil pun mulai melaju meninggalkan kota kecil yang menjadi saksi tumbuh kembangnya seorang Rania.
Melewati delapan jam perjalanan menuju Ibu kota, akhirnya mereka pun telah sampai di apartemen yang menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka.
"Aku sangat merindukan tempat ini." Ucap Rania saat memasuki dalam apartenen.
"Aku pun begitu. Sangat merindukan tempat ini jika bersamamu." Ucap William sambil mencium puncak kepala istrinya.
Rania tersenyum. "Apa aku boleh tidur? Tubuhku sungguh lelah." Ucapnya.
"Ya. Istirahatlah. Namun minumlah vitaminmu lebih dulu." Perintah William yang diangguki oleh Rania.
Malam harinya, setelah menikmati makan malam mereka, Rania pun mengungkapkan niat baiknya yang ingin kembali bekerja di perusahaan Sean. Karena wanita hamil itu merasa tidak enak pada Sean yang sudah terlalu baik padanya selama ini.
"Aku tidak mengizinkanmu menjadi sekretarisnya lagi!" Cetus William dengan wajah keki. Ia sungguh merasa amat cemburu membayangkan istrinya berduaan dengan pria yang sudah jelas-jelas menaruh hati pada istrinya itu.
__ADS_1
Rania menghela nafasnya. "Hanya sampai usia kandunganku beranjak delapan bulan. Dan setelah itu aku akan berhenti bekerja. Aku sungguh merasa tidak enak pada Sean. Lagi pula aku masih mau belajar menjadi sekretaris yang baik." Ucap Rania.
"Kau bisa menjadi sekretarisku jika kau mau." Pungkas William.
"Namun aku tidak mau. Aku hanya ingin menjadi sekretaris Sean! Lagi pula Sean akan menikah satu minggu lagi, dan tidak mungkin aku dengan perut buncitku ini masih membuatnya terpesona denganku sedangkan ia sudah memiliki seorang istri!" Cetus Rania seolah mengerti jalan pemikiran suaminya.
William menghembuskan nafas panjang. Ia sungguh dilanda kekesalan saat melihat wajah galak istrinya saat ini. Jika aku menolak keinginannya, bisa saja dia akan kembali merajuk padaku dan acara menjenguk bayiku akan tertunda. Batin William menimbang-nimbang. Namun tiba-tiba seringaian licik nampak tercetak di sudut bibirnya saat memikirkan ide yang menguntungkan dirinya.
"Baiklah... Aku akan mengizinkanmu untuk kembali bekerja." Balas William sambil tersenyum penuh arti.
Kepala William mengangguk. "Ya. Namun kau harus mengikuti syarat yang aku ajukan." Ucap William dengan tatapan licik pada istrinya.
Rania bergedik ngeri. Sepertinya ia sudah paham arah pembicaraan suaminya itu. "Apa kau tidak melihat jika saat ini perutku semakin membesar. Aku sungguh lelah jika kau terus menghukumku seperti biasanya." Ucap Rania dengan memelas.
William menggelengkan kepalanya. "Kau mengikuti keinginanku atau tidak ada izin dalam bentuk apa pun!" Ucap William dengan tegas.
__ADS_1
"Kau selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, ya!" Gerutu Rania bersungut-sungut.
William melebarkan senyumannya. "Itu adalah hukuman karena rasa cemburuku harus menerima kau berada dekat dengan pria tengil itu untuk beberapa bulan ke depan." Ucap William sambil menahan kekesalannya saat mengingat wajah Sean.
"Kau selalu saja cemburu buta padanya. Padahal aku dan dia jelas-jelas hanya sebatas rekan kerja dan teman lama." Sembur Rania menatap sebal suaminya.
***
Lanjut malam ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
__ADS_1
- Oh My Introvert Husband (End)