
Mobil Ferrari bewarna hitam itu nampak menyalip banyak mobil dan motor yang menghalangi jalannya. Bahkan melewati lampu merah begitu saja tanpa memperdulikan keselamatan mereka. William tetap memacu kecepatan mobilnya dengan penuh.
Rania yang berada di dalam mobil itu pun sudah nampak pucat mengikuti aksi ugal-ugalan William. Rania hanya bisa menggenggam erat seat bellnya dengan erat sembari memejamkam erat matanya.
Di tengah kekalutan pemikirannya akan Kyara, William pun tersadar jika arah yang mereka tuju saat ini adalah alamat apartemen Gerry.
"Kau yakin alamatnya di sini?" Tanya William saat mereka sudah sampai di gedung apartemen.
Rania mengangguk.
William pun teringat akan pertemuannya dengan Kyara tempo hari di pusat perbelanjaan apartemen ini. Dan Kyara berkata jika sepupunya tinggal di salah satu unit apartemen yang ada di sini.
"Apa Kyara sedang berada di apartmen sepupunya?" Tanya William saat mereka sudah berjalan menuju lift.
Rania menggeleng. Menghela nafas berat.
"Ikuti saja saya. Bapak akan tau nantinya." Balas Rania. Ia sudah tidak peduli jika Kyara akan memarahinya nanti karena secara tidak langsung membongkar rahasia pernikahannya.
__ADS_1
"Di sini?" Suara William terdengar tinggi saat mengatakannya. Saat ini mereka sudah berada di depan apartemen Gerry.
William menggeleng. Mungkin ini hanya halusinasinya saja. Bahkan ia mencoba memastikan memasukkan digit demi digit kode apartemen di depannya.
Dan sial. Apartemen itu benar-benar milik sahabatnya!! Siapa lagi jika bukan Gerry.
"Kau berhutang penjelasan padaku!" Hardik William yang kini sudah tidak bisa menggunakan akal sehatnya.
William dan Kyara berjalan tergesa-gesa memasuki apartemen Gerry. Pandangan mereka mengedar mencari keberadaan Kyra.
"Kya... Kyara... Kau dimana?" Pekik Rania ketika tidak melihat keberadaan Kyara dimana-mana di lantai satu.
Setelah memastikan Kyara tidak berada di kamarnya, Rania pun kembali turun ke lantai satu. Tujuannya kini adalah ke dapur. Karena ia melupakan mungkin saja Kyara masih berada di sana.
Tiba di ambang pintung. Pekikan Rania pun tertahan ketika melihat tubuh Kyara yang kini sudah berada di pangkuan William.
"Kyara...!!" Pekik Rani lagi ketika melihat wajah Kyara yang kini sudah pucat seakan tidak teraliri darah di sana.
__ADS_1
"Ara... Hei... Sadarlah..." William tak kalah panik. Pria itu menepuk-nepuk pipi Kyara berharap bisa menyadarkan wanita itu. Setelah melihat reaksi Kyara yang tak kunjung menunjukkan kesadaran, tanpa aba-aba William pun mengangkat tubuh Kyara dalam gendongannya.
Seketika kedua bola mata Rania membulat sempurna tatkala melihar darah yang berceceran di atas keramik.
"Da-darah." Ucap Rania terbata.
William pun sontak melihat pada arah pandangan Rania.
"Ayo kita segera ke rumah sakit!" Titah William dengan segera berjalan cepat keluar dari dalam apartemen Gerry.
"Kya... Bangunlah... Jangan buat aku semakin khawatir seperti ini!! Hiks..." Rania menangis tersedu-sedu menyaksikan wajah Kyara yang masih pucat. Tangannya kini mengelus rambut Kyara yang berada di pangkuannya.
Dan lagi, William kembali mengedarai mobilnya seperti orang kesetanan. Bahkan William beberapa kali mengumpat kendaraan lainnya yang menghalangi jalannya.
"Kya bangunlah... Hiks... Hiks..." Tangisan Rania semakin menyayat hati. Dirinya begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada sahabat baiknya itu.
William pun tak kuasa menahan sesak di dadanya melihat wanita yang dicintainya kini terbaring lemah.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ara??