Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Akan menyusul


__ADS_3

Pesawat yang membawa Gerry mulai mengudara meninggalkan bandara. Setelah melalui perjalanan kurang lebih dua puluh jam. Akhirnya pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Gerry menyeret koper di tangannya keluar meninggalkan bandara. Di depan bandara ia sudah ditunggu oleh sopir pribadi keluarganya yang akan membawanya pulang ke mansion.


Mobil mulai berjalan membelah keramaian di sore hari. Pandangan Gerry memudar memandang lurus ke depan dengan kepala berdenyut. Sesekali sebelah tangannya memijit pelipisnya. Sudah dua hari belakangan ini tubuhnya terasa tidak enak. Namun demi melihat buah hatinya Gerry memaksakan tubuhnya untuk pulang.


Dua minggu sudah ia tersiksa karena kerinduan. Dan Gerry sudah tidak sabar untuk melepaskan kerinduannya pada istri dan anaknya. Gerry menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Ke dua kelopak matanya mulai terpejam. Gerry memutuskan untuk tidur sejenak di dalam perjalanan.


"Kau sudah pulang, Gerry?" Mama Riana berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama saat melihat gerry masuk ke dalam mansion.


"Mama..." Gerry berjalan cepat mendekat pada Mama Riana kemudian memeluk wanita yang telah melahirkannya barang sejenak.


"Bukannya kau masih akan lama berada di sana? Mama dengar urusanmu di sana belum selesai." Tutur Mama Riana saat Gerry membimbingnya menuju sofa untuk duduk.


"Jimmy yang akan melanjutkan pekerjaanku, Ma. Lagi pula aku sudah menyelesaikan pekerjaan yang harus aku tangani sendiri sebelum kembali." Terang Gerry.


Mama Riana mengangguk paham. Kemudian bangkit untuk membuatkan minuman untuk putranya.


"Kepalaku sakit sekali..." Lirih Gerry memijit pelipisnya yang semakin berdenyut.


Tring


Deringan bunyi telefon di ponselnya membuat Gerry kembali menegakkan tubuhnya dari sandaran. Kedua sudut bibirnya nampak tertarik saat melihat nama yang menghubunginya.

__ADS_1


"Hallo, Kyara..." Suara Gerry terdengar mengalun menyebut nama pujaan hatinya.


"Hallo, Gerry..." Suara Kyara terdengar meragu di seberang sana.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Gerry penuh selidik.


"Emh... Apa kau sedang sibuk saat ini?" Tanyanya begitu ragu.


"Tidak. Aku sedang tidak sibuk."


"Emh... Bisakah kita melakukan panggilan video call? Aku ingin memperlihatkan wajahmu pada Rey. Sudah tiga hari ini Rey terlalu sering menangis tidak seperti biasanya. Aku rasa Rey merindukanmu. Karna setiap aku menyelimutinya dengan bajumu dia langsung terdiam."


Tanpa pikir panjang Gerry pun mengganti panggilan telefon mereka dengan video call. Panggilan pun beralih. Wajah Kyara nampak memenuhi layar ponselnya saat ini.


Tak lama suara tangisan Baby Rey pun mulai terdengar oleh Gerry. Kyara mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang kemudian mengarahkannya pada Baby Rey.


"Anak Papa kenapa nangis, hem?" Ucap Gerry saat wajah Baby Rey mulai memenuhi layar ponselnya.


Mendengar suara ayahnya, Baby Rey pun melihat pada layar ponsel. Tangisannya pun mulai menyurut.


"Pa, pa, pa." Baby Rey berceloteh dan berusaha menjangkau ponsel Kyara.

__ADS_1


Hati Gerry terasa terenyuh melihat wajah putranya yang basah dan mendengar celotehan putranya untuk pertama kalinya.


"Kengen sama Papa, ya..." Suara Kyara terdengar mendayu di seberang sana.


Obrolan mereka pun terus berlanjut. Hingga tak lama suara tangis Baby Rey pun mulai terdengar kembali saat wajah Gerry tak terlihat sejenak karna meneguk minuman yang diberikan Mama Riana.


Mendengar tangisan putranya yang menyayat hati membuat hati Gerry tersayat. Ia tidak menyangka jika putranya memang begitu merindukan dirinya.


"Aku akan ke sana malam ini." Putus Gerry kemudian mematikan sambungan telefonnya. Ia sungguh tidak tega saat mendengarkan isakan tangis dari bibir mungil putranya itu.


***


Lanjut?


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺


__ADS_2