
Perusahaan Bagaskara
Pagi itu suasana kantor cukup ramai dengan lalu lalang para karyawan dan OB yang baru saja memulai kegiatan bekerja mereka. Gerry dan Asisten Jimmy memasuki lobby dengan wajah dingin dan langkah kaki lebar. Para karyawan yang melihat kedatang presdir dan asitennya pun sontak menundukkan pandangan seraya mengucapkan salam. Gerry hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Sedangkan Asisten Jimmy sedikit mengangguk untuk membalas sapaan para karyawan.
"Apa pembangunan jembatan di kota S sudah berjalan normal?" Tanya Gerry saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Sesuai yang diinginkan, Tuan. Proses pembangunan kali ini sudah berjalan lancar dan dipantau ketat oleh orang suruhan Tuan di sana. Sudah saya pastikan tidak ada lagi pengkhianat kali ini." Tutur Asisten Jimmy.
Gerry mengangguk paham. "Kerja yang bagus. Terus pantau kinerja mereka jangan sampai kejadian yang tak terduga kembali terulang!" Titahnya.
Pintu lift terbuka. Gerry dan Asisten Jimmy melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift sambil membahas hal yang belum selesai mereka bicarakan.
"Selamat pagi Asisten Jimmy!" Sapa Nisa saat Asisten Jimmy hendak masuk ke dalam ruangannya. Di tangannya saat ini sudah berisi secangkir kopi hitam lengkap dengan roti tawar di sebelahnya.
"Saya sudah membawakan kopi dan roti untuk Tuan Jimmy. Saya tahu pasti Tuan Jimmy tidak sempat sarapan di rumah tadi mengingat Tuan Jimmy masih sendiri!" Celetuk Nisa sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
Kening Asisten Jimmy nampak mengkerut. Pandangannya menatap tajam pada Nisa yang dengan santainya mengatakan tentang statusnya saat ini. "Apa maksudmu?! Dan untuk apa kau membawa kopi ke ruanganku sedangkan kau belum membuatkan kopi untuk presdir!" Sentaknya.
Bukannya takut, Nisa justru melebarkan senyuman. "Agh kalau itu tenang saja. Untuk Presdir sudah dibuatkan oleh Bobby. Nah, itu Bobby!" Celetuknya saat melihat Bobby berjalan mendekati mereka dengan nampan berisi kopi di tangannya.
"Selamat pagi, Asisten Jimmy!" Sapa Bobby sedikit kikuk. Bobby menatap pada Nisa yang nampak santai dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Asisten Jimmy mengangguk.
"Anak itu..." Gumam Bobby menggelengkan kepala melihat tingkah Nisa yang mulai secara terang-terangan mendekati orang nomor dua di perusahaan mereka. Bahkan Nisa tanpa rasa takut mendekati kenebo kering di depannya saat ini.
Dengan perasaan jengkel dan sedikit mendengus, Asisten Jimmy pun masuk ke dalam ruangan diikuti Nisa. Ia sampai melupakan jika belum masuk ke dalam ruangan karna menanggapi ocehan tak berguna Nisa.
"Selamat menikmati Asisten Jimmy. Semoga hari-hari Tuan selalu menyenangkan!" Ujarnya setelah selesai meletakkan kopi dan roti di atas meja Asisten Jimmy.
"Saya akan selalu menjadi orang yang mengingatkan anda untuk sarapan pagi. Jadi anda tidak perlu bersedih karna tidak memiliki pasangan saat ini." Celetuk Nisa lagi.
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai berbicara?" Asisten Jimmy yang sudah merasa jengah akhirnya angkat bicara.
"Saya sudah selesai berbicara sejak 10 detik yang lalu. Dan setelahnya saya hanya menunggu anda untuk membalas ucapan saya." Ujarnya masih dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Kalau sudah selesai sekarang keluarlah dari dalam ruangan saya!" Usir Asisten Jimmy mengibaskan tangannya di udara. Entah mengapa sudah sejak satu bulan belakangan ini OB yang bernama Nisa itu sudah berani terang-terangan mendekatinya tanpa takut.
^^
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺