
Berbeda dengan Sean yang kini tengah menikmati malam panjangnya bersama Keyla, di lantai yang berbeda, Rania justru tengah duduk bersama William di balkon apartemen mereka sambil berbicara dengan topik serius.
"Apa kau yakin akan berhenti bekerja? Aku tidak akan melarangmu jika kau masih ingin bekerja." Ucap William setelah mendengar ucapan istrinya yang berniat untuk berhenti bekerja mulai esok hari.
"Ya. Aku sudah memikirkannya matang-matang dan sebaiknya aku memang sudah saatnya berhenti bekerja karena usia kandunganku semakin membesar dan aku juga sudah mulai kesulitan untuk berjalan." Terang Rania tanpa mengungkapkan alasannya yang sebenarnya.
"Aku senang jika kau berniat seperti itu. Dengan begitu kau akan lebih banyak waktu untuk istirahat di apartemen." Ucap William. Tangannya kini mengambil salah satu tangan Rania kemudian menggenggamnya. "Jujur saja aku lebih suka kau berada di apartemen saja dan menungguku saat pulang bekerja. Dan jika kau merasa bosan, aku bisa mengantarkanmu berkunjung ke mansion Gerry dan Kyara." Ucap William lagi yang diakhiri dengan senyum di bibirnya.
Rania ikut tersenyum. "Mulai sekarang aku akan menuruti keinginanmu." Rania mengelus punggung tangan suaminya dengan tangannya yang bebas.
"Jadi kapan kau akan memberikan surat pengajuan pengunduran dirimu?" Tanya William.
"Besok pagi aku akan memberikannya pada Sean. Tapi... bagaimana dengan denda itu?" Rania nampak ragu saat mengucapkannya.
"Tidak perlu memikirkannya. Uang segitu tidak ada arti apa-apanya di hidupku dibandingkan dengan dirimu." Ucap William menenangkan pemikiran istrinya.
Rania tersenyum. "Terimakasih, Will... aku menyanyangimu." Ucap Rania dengan tulus.
Wajah William nampak berubah masam. Membuat Rania nampak bingung. "Ada apa?" Tanyanya pada suaminya.
__ADS_1
"Kau hanya menyayangiku tapi tidak mencintaiku?" Rutuknya.
Rania menghembuskan nafas kasar lalu menggeleng. "Aku menyayangimu terlebih mencintaimu." Ucapnya.
Wajah masam William pun akhirnya berubah ceria. "Aku tahu. Tidak mungkin kau tidak mencintaiku. Secara aku adalah pria tampan, kaya dan juga baik hati." Ucapnya menyombongkan kelebihannya.
Mendengar itu, Rania pun sontak mencubit pinggang suaminya.
William meringis. "Jarimu itu sakit sekali jika mencubitku!" Rutuknya mengelus pinggangnya yang terasa perih.
"Itulah akibatnya jika kau terlalu percaya diri!" Cetus Rania sambil menatap malas pada suaminya.
*
"Rania... kau benar-benar ingin mengundurkan diri?" Tanya Sean pada Rania yang kini tengah duduk di hadapannya.
Rania mengangguk membenarkan. "Ya. Aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja." Balas Rania.
"Tapi kenapa? Bukankah kau berkata akan berhenti saat usia kandunganmu berusia delapan bulan? Dan saat ini usia kandunganmu masih berjalan lima bulan." Tanya Sean merasa aneh.
__ADS_1
"Ada beberapa pertimbangan yang membuat aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Dan salah satunya karena tubuhku sudah membutuhkan waktu untuk istirahat di rumah." Ucap Rania.
Sean menghela nafas panjang. "Jika kau benar-benar ingin berhenti bekerja aku tidak akan melarangmu karena itu adalah hakmu."
"Terimakasih telah mengerti, Sean. Dan untuk denda itu—" ucapan Rania melayang begitu saja di udara karena Sean lebih dulu menyanggahnya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku tidak akan meminta apa pun atas berhentinya dirimu." Putus Sean.
"Tidak bisa. Aku akan tetap membayarnya." Rania bersikeras.
"Rania... sudahlah... kau sudah seperti orang lain saja. Sebagai rasa terimakasihku atas kerja kerasmu selama ini aku membebaskanmu dari denda apa pun itu." Ucap Sean dengan tegas agar Rania tak lagi berbicara.
***
Lanjut?
Komen
Like
__ADS_1
Vote dulu yuk.