Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tidak diperdulikan


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya Kyara terbangun dengan perutnya yang terasa bergejolak. Kaki jenjangnya nampak berjalan tergesa-gesa ke arah kamar mandi.


Hoek


Berkali-kali Kyara memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas hingga Kyara luruh ke lantai. Tangannya kini memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kyara mengelus perutnya yang masih rata. Berharap calon bayi mungil di dalam rahimnya tidak rewel hari ini. Karena hari ini ia sudah kembali bekerja setelah libur tiga hari.


Ia harus tetap bekerja. Mengumpulkan pundi-pundi uang untuk hidupnya dan anaknya kelak. Walau pun gajinya sebagai OB tidak besar, namun bagi Kyara itu sudah cukup jika ia pandai dalam mengatur keuangannya.


Kyara mencoba mengangkat kembali tubuh lemahnya untuk berdiri. Ia tidak boleh lemah. Kewajibannya sebagai istri harus tetap ia lakukan. Seperti biasanya jika pagi hari sebelum berangkat bekerja, Kyara selalu memasak sarapan dan juga mencuci pakaiannya dan Gerry.


Namun tidak dengan pakaian kerja Gerry. Untuk pakaian kerjanya, Gerry memang sudah terbiasa untuk melaudrykannya saja. Dan Kyara tidak berani meminta mencucinya mengingat harga pakaian Gerry yang pasti sangat mahal. Kyara pun tidak berani melawan amarah Gerry jika sampai pakaian itu lecet sedikit saja ditangannya.


Kyara selesai mengerjakan pekerjaannya dengan tenaga yang masih tersisa. Selesai menata sarapan di atas meja, Kyara beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Sebelum memasuki kamarnya, Kyara sempat melirik ke arah pintu kamar Gerry yang masih tertutup rapat. Sudah dua hari ia dan Gerry tidak bertegur sapa. Kyara tidak tahu apa yang dikerjakan Gerry sehingga selalu pergi pagi dan pulang larut malam.


*

__ADS_1


Kyara mendudukkan tubuh lelahnya di kursi dalam pantry. Efek kehamilan memang membuatnya mudah lelah. Padahal pekerjaannya hari ini tidak terlalu berat karena Rania selalu mengambil alih pekerjaannya. Kyara selalu berusaha menolak tawaran Rania untuk membantunya. Namun Rania tetap bersikeras tidak mau dibantah dengan alasan tidak ingin calon keponakannya kenapa-napa di dalam rahim Kyara.


"Minumlah..." Rania menyodorkan satu gelas air putih ke arah Kyara yang sedang mengelap keringat di dahinya.


Kyara menerimanya. "Terimakasih." Ucapnya tersenyum kemudian meneguk air putih yang berhasil membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Jika lelah, istirahatlah. Jangan terlalu memporsir tenagamu. Ingat ada dia di dalam rahimmu saat ini." Bisik Rania yang takut jika karyawan yang juga berada di dalam pantry ikut mendengar ucapannya.


Kyara mengangguk. Tangannya membelai lembut punggung tangan Rania. "Bagaimana aku bisa lelah jika kau selalu membantu pekerjaanku." Kilah Kyara.


"Aku tau kau mudah lelah, Kya. Jangan membohongiku dengan wajah polosmu itu." Cibir Rania.


"Apa suamimu sudah pulang, Kya? Kemarin sepertinya aku melihatnya saat di ruang rapat." Tanya Rania kembali berbisik.


"Sudah dua hari yang lalu." Jawab Kyara seadanya.

__ADS_1


"Apa?!" Rania sedikit meninggikan suara sehingga para OB yang juga sedang berada di dalam pantry menatap tak suka pada mereka.


"Kau ini kenapa, Rania? Suaramu bisa menanggalkan jantung manusia jika seperti itu!" Sembur Kyara mengelus dadanya.


Bukannya marah Rania malah terkekeh melihat ekspresi Kyara yang terlihat menggemaskan. "Aku kan hanya kaget saja, Kya. Apa dia tau jika saat itu kau habis dari dokter kandungan?" Rania kembali berbisik.


Kyara menggeleng. "Dia bahkan tidak memperdulikan keberadaanku sejak dua hari yang lalu." Balas Kyara sendu.


*


*


*


Happy reading!:)

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


Terimakasih sudah membaca karya recehku.


__ADS_2