
"Anda cantik sekali Nona Keyla..." Tak berbeda jauh dengan Deby, Rania pun turut memberikan pujian pada Keyla.
"Apa itu benar?" Tanya Keyla dengan masih tersenyum kaku.
Rania mengangguk membenarkan. "Anda sungguh cantik." Ucap Rania dengan tulus.
"Melihat ketulusan dari wajah Rania membuat Keyla perlahan merasa lega. Sikap Rania yang ia lihat saat ini tak berbeda dengan sikap Rania yang ia jumpai saat hari pernikahannya. Aku dapat merasakan jika Rania benar-benar tulus. Batin Keyla sedikit merasa bersalah.
"Ayo masuk. Apa kau sudah selesai merasa melayang karena mendapat pujian?" Cetus Sean pada Keyla yang masih tersenyum. Namum setelah mendengar ucapan Sean, senyuman di wajah Keyla pun luntur begitu saja.
"Kau benar-benar tidak asik." Gerutu Keyla menghentakkan kakinya ke atas lantai lalu mengikuti Sean masuk ke dalam ruangannya.
"Kau lihat itu Rania? Mereka pasangan yang sungguh lucu." Ucap Deby sambil tertawa kecil memperhatikan tingkah Sean dan Keyla.
Rania ikut tertawa kecil. "Aku rasa Sean mendapatkan pasangan yang tepat." Ucap Rania yang diangguki oleh Deby.
"Kau benar... Mereka benar-benar serasi." Ucap Deby kemudian.
*
__ADS_1
Di dalam ruangannya, Sean nampak menatap istrinya yang masih berwajah masam itu dengan kening mengkerut. "Kenapa dengan wajahmu? Dan ... bibirmu itu. Apa bibirmu itu minta dicium? Atau... kau merasa kurang dengan percintaan kita tadi malam?" Ucap Sean sambil memperhatikan bibir Keyla yang tengah mengerucut.
Keyla mendengus lalu menatap Sean tajam. "Pemikiranmu itu kenapa tidak pernah lepas dari hal mesum!" Seru Keyla menatap malas pada suaminya.
Sean terkekeh. "Lagi pula kau yang memancingku dengan bibirmu itu." Sean tak ingin disalahkan. Sean pun mendekat ke arah istrinya yang sedang berdiri di belakang jendela. "Apa kau suka dengan pemandangannya, hem?" Tanya Sean sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keyla.
Keyla dibuat tertegun dengan aksi Sean. Namun ia membiarkan begitu saja apa yang ingin dilakukan suaminya itu.
"Ya. Aku menyukainya. Pemandangan dari ruanganmu cukup membuat aku terpukau." Ucap Keyla dengan jujur.
Sean tersenyum. "Aku akan bekerja lebih dulu. Jika kau sudah merasa bosan, kau bebas melakukan apa saja yang ingin kau lakukan." Ucap Sean yang diangguki oleh Keyla tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ini minumannya, Tuan." Ucap Rania dengan formal sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja Sean.
"Terimakasih, Rania." Sean berkata dengan tersenyum manis pada Rania.
"Sama-sama, Tuan..." Ucap Rania lalu segera melangkah menjauh dari meja kerja Sean.
"Rania..." Ucap Sean tiba-tiba hingga menghentikan langkah Rania.
__ADS_1
"Ya. Ada apa Tuan?" Tanya Rania merasa canggung sebab di dalam ruangan itu ada Keyla yang kini tengah menyaksikan percakapan mereka.
"Kemarin aku sempat melihat susu hamil di pantry. Apa itu susu hamil milikmu?" Tanya Sean.
Rania mengangguk. "Itu punya saya, Tuan." Balas Rania. Lagi pula tidak mungkin punya Deby. Jelas-jelas hanya aku yang sedang mengandung di sini. Lanjut Rania dalam hati.
Sean mengangguk. "Sebaiknya kau meletakkannya di dalam lemari pendingin saja agar susunya tidak tumpah bila tersenggol." Saran Sean.
"Baik, Tuan." Balas Rania masih dengan tersenyum kaku.
"Oh iya Rania..." Ucap Sean lagi hingga membuat Rania kembali menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi, Tuan?" Tanya Rania yang sudah hampir geram.
"Jangan lupa minum susu hamilmu." Ucap Sean dengan santai tanpa menyadari jika kini ada hati seorang istri yang tengah memanas sebab suaminya memberikan perhatian pada wanita lain.
***
Lanjut lagi?😌
__ADS_1