
"Gerry...." Jerit Kyara tertahan saat tubuh Gerry sudah terlentah. Wajahnya penuh dengan darah. Begitu pula baju kaos putih yang dipakainya sudah berubah menjadi warna merah.
"Gerry bangun...." Kyara berteriak histeris. Orang-orang menatap iba pada wanita yang sedang menangisi keadaan suaminya itu.
Tak lama suara serinai ambulan terdengar. Ternyata seseorang telah menghubungi ambulan. Para petugas mengangkat tubuh Gerry yang bersimbah darah masuk ke dalam ambulan. Kyara tak henti berteriak memanggil nama suaminya.
"Ini salahku... Ini salahku..." Raung Kyara menepuk dadanya yang terasa sesak.
Mobil ambulan mulai bergerak menuju rumah sakit terdekat. Kyara menangis tersedu-sedu di samping tubuh tak berdaya suaminya. Mata Gerry terpejam erat membuat Kyara semakin takut.
"Ku mohon bertahanlah..." Tangisnya semakin pecah. Dan Kyara tak henti menyalahkan dirinya sendiri.
*
Baby Rey nampak menangis dengan kencang. Rania yang sedang menggendongnya tak henti menenangkan bayi mungil itu. Sudah sejak setengah jam yang lalu Baby Rey tak henti menangis. Segala cara sudah Rania lakukan seperti memberi susu dan mengajaknya bermain namun tak membuahkan hasil.
Rania menyambar ponselnya di atas meja sofa. Melakukan panggilan telefon pada Kyara namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Begitu pula dengan Gerry. Rania merasa cemas. Entah mengapa ia juga merasakan perasaan tidak enak sedari tadi.
"Pa, Pa, Pa..." Raung Baby Rey terisak-isak. Baby Rey sampai menangis sesegukan karena sudah terlalu lama menangis.
__ADS_1
"Sabar ya... Sebentar lagi Papa dan Mama pulang." Rania mengelus punggung Rey yang naik turun. Ia sungguh tak tega melihat linangan air mata keponakannya itu.
"Kyara... Ayolah. Angkat telfonnya." Gumam Rania merasa cemas.
*
Kyara berlari dengan terpincang mengikuti petugas medis yang sedang mendorong brankar Gerry. Ia tak memperdulikan rasa sakit pada tubuhnya. Air mata membanjiri wajah dan bajunya. Kyara tak berhenti menangis sejak kejadian tadi. Seorang perawat mencoba menenangkan Kyara, namun wanita itu tak menggubrisnya.
"Ku mohon bertahanlah..." Raung Kyara saat brankar yang membawa Gerry sudah masuk ke ruangan penanganan.
Tubuh Kyara dihambat di pintu masuk saat ia ingin ikut masuk ke dalam.
"Tunggulah di luar, Nona. Dokter akan menangani suami anda."
Sudah hampir satu jam Kyara menunggu di depan ruangan penanganan. Wanita itu tak berhenti menangis. Para perawat menawarkan agar Kyara memeriksa lukanya dan membersihkannya. Namun Kyara menolaknya. Ia lebih memilih menunggu suaminya. Tidak perduli dengan sakit di tubuhnya. Hingga seorang dokter keluar dari sana dengan jasnya yang sedikit terkena darah.
"Dengan keluarga pasien." Ucap Dokter muda itu.
Kyara segera bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Sa-saya... Sa-saya istrinya..." Ucapnya sesegukan. Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan oleh wanita itu.
"Kecelakaan yang dialami suami anda mengakibatkan benturan keras di kepalanya. Suami anda mengalami pendarahan di bagian kepalanya. Untuk penanganan lebih lanjut sebaiknya suami anda dibawa ke rumah sakit yang lebih besar karna sarana di rumah sakit ini tidak memungkinkan untuk mengambil tindakan lebih lanjut." Terang dokter.
Tubuh Kyara menengang. Detak jantungnya seolah berhenti saat itu juga. Kyara tak sanggup lagi menompang tubuhnya yang lemah. Hingga tubuh lemah itu luruh begitu saja ke lantai. Kyara tak sadarkan diri. Yang ia ingat ucapan terakhir dokter itu mengatakan suaminya kritis.
***
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺