
Semenjak hari itu, hubungan William dan Rania pun kian membaik walau di dalam benaknya Rania selalu bertanya-tanya tentang permasalahan apa yang tengah dihadapi suaminya itu. Rania pun juga menuruti kemauan suaminya untuk tidak lagi mengkonsumsi pil penunda kehamilan sejak malam itu. Bahkan keesokan harinya ia dan William pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan pada rahim Rania dan juga William meminta agar Rania meminum pil penyubur kandungan yang sudah diberikan dokter kepadanya.
Di kediaman Wilson
Sean nampak memasuki mansion keluarganya dengan langkah malas saat baru saja pulang dari perusahaannya. Hari ini Mommynya kembali menyuruhnya untuk menginap di mansion dengan alasan karena sudah sangat merindukannya.
"Sean... Kau sudah datang ganteng..." Mommy Chelsea buru-buru memeluk posesif putranya lalu menciumi pipi Sean yang membuat pria itu sedikit risih.
"Mom..." Ucap Sean saat Mommynya semakin menjadi-jadi.
"Ish... Kau ini tidak bisa sebentar saja membiarkan Mom memelukmu!"
Sebentar saja katanya! Amuk bati Sean.
"Ayo ikut Mom ke meja makan. Dad sudah menunggu kedatanganmu di sana!" Balas Mommy Chelsea menarik tangan putranya untuk ikut bersamanya.
Dengan langkah malas Sean pun mengikuti langkah Mommynya dengan tak henti menggerutu karena masih diperlakukan layaknya seorang anak kecil.
"Kau sudah datang, Sean." Ucap Dad Richard saat Sean memasuki ruangan makan.
"Ya. Aku baru saja sampai, Dad." Balasnya sedikit malas.
"Ayo duduk dulu, sayang!" Ajak Mom mengarahkan Sean agar duduk di samping Daddynya.
"Ada apa Mom menyuruhku untuk datang ke mansion?" Tanya Sean tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tentu saja karena Mom sangat merindukanmu!" Balas Mom dengan senang.
Ck ck ck
"Ungkapkan saja apa tujuan Mom saat ini. Karena aku yakin Mom mempunyai niat menyuruhku datang ke sini." Balas Sean.
Mom Chelsea nampak tertawa kecil. "Kau ini selalu saja dapat membaca pemikiran Mom!" Balasnya sumringah.
"Jadi?" Tanya Sean.
"Mom ingin kau membawa Rania di acara keluarga kita besok di restoran langganan Mom." Ucap Mom Chelsea.
"Apa? Kenapa aku harus mengajak Rania?" Tanya Sean sedikit terkejut.
"Bukankah Rania itu adalah kekasihmu? Jadi Mom akan mengenalkannya dengan keluarga Om Erik besok malam." Terang Mom Chelsea.
"Tapi..." Sean nampak bingung. Ia tidak mungkin mengajak Rania pergi bersamanya karena kini suami Rania sudah seperti anjing galak yang siap memangsanya kapan saja.
"Tidak ada kata penolakan." Tekan Mom Chelsea.
"Lagi pula kenapa kau seperti enggan mengajak kekasihmu itu Sean? Apa hubungan kalian saat ini sedang bermasalah?" Tebab Dad Richard.
Sena mendesahkan nafas kasar di udara. "Baiklah. Aku akan mengajak Rania untuk ikut bersamaku besok malam." Putus Sean. Dan aku juga harus menyiapkan mentalku jika anjing galak itu akan menyerangku jika mengetahui istrinya masih menjadi pacar pur-puraku. Lanjut batin Sean.
Dan keesokan harinya, Sean pun mengutarakan permintaan Mommynya kepada Rania saat wanita itu baru saja masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Apa? Aku harus ikut bersamamu untuk menjadi kekasih pura-puramu lagi?" Tanya Rania sedikit meninggi saat Sean mengungkapkan permintaan Momnya.
"Untuk kali ini saja, Rania. Lagi pula Mommyku pasti akan sedih jika kau tidak datang." Balas Sean sedikit memelas.
"Tapi aku sudah tidak mungkin menjadi kekasih pura-puramu, Sean." Tekan Rania. Lagi pula suaminya pasti akan marah jika mengetahui dirinya pergi bersama dengan Sean.
"Ku mohon kali ini saja, Rania. Setelah ini aku akan mengatakan pada Mommyku tentang hubungan kita yang sebenarnya." Janji Sean.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...