
William mendorong kasar kursi yang didudukinya hingga menimbulkan bunyi decitan yang cukup keras. "Aku pergi dulu. Steve sudah menungguku di bawah." Pamit William memasukkan ponsel yang ia genggam ke dalam jasnya.
Rania mengangguk saja. Entah mengapa Rania melihat jika suaminya itu tengah menahan amarahnya saat ini. "Hati-hati. Semoga pekerjaanmu hari ini berjalan dengan lancar." Menyematkan senyuman manisnya.
William memaksakan senyumannya. "Baiklah. Kau juga baik-baiklah selama aku bekerja." Ucap William. Setelah itu William pun bergegas keluar dari dalam apartemen yang membuat dadanya bergemuruh.
"Dia itu kenapa?" Gumam Rania menatap pintu yang sudah tertutup rapat. "Apa dia marah? Tapi untuk apa? Bukankah dia yang menginginkan keadaan seperti ini?" Lanjut Rania mendesahkan nafas kasar di udara.
Tak ingin terlalu memikirkan sikap William, Rania pun lebih memilih membersihkan dapur dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
*
Sapuan angin yang cukup kencang berhembus menerpa wajah cantik seorang wanita yang sedang duduk sendirian dengan mengayunkan kedua kakinya. "Dulu aku dan Kya sering datang kemari jika kami memiliki waktu senggang untuk bermain." Rania mengingat kembali saat-saat bersama Kyara di danau yang tidak terlalu ramai sore itu.
Pandangan Rania mengedar memperhatikan sekitaran danau yang semakin terlihat indah dengan tumbuhan-tumbuhan baru yang di tanam di sekitar danau.
"Kau sedang apa di sini?" Suara bariton yang berasal dari belakangnya membuat Rania terkejut sambil mengelus dadanya.
"Sean!" Seru Rania pada pria yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di sampingnya. "Kenapa kau juga ada di sini?" Tanya Rania merasa bingung.
Sean menampilkan senyum tampannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu bewarna biru tua itu. "Karena aku mengikutimu." Ucap Sean dengan santai.
__ADS_1
"Ka-kau mengikutiku?" Kedua bola mata Rania membola.
"Ya... Saat aku ingin masuk ke gedung apartemen, aku tidak sengaja melihatmu pergi menggunakan ojek online, karena penasaran kemana tujuanmu, akhirnya aku memilih menguntitmu dari belakang." Ucap Sean dengan jujur.
"Kau ini seperti tidak punya pekerjaan saja mengikuti sampai ke sini!" Dengus Rania menampilkan wajah sebal.
Sean tertawa melihat wajah Rania yang sebal namun terlihat imut di matanya. "Kata siapa aku tidak memiliki pekerjaan? Mengikutimu ke sini juga termasuk salah satu pekerjaanku." Selorohnya.
"Kau ini sungguh menyebalkan!" Sungut Rania memalingkan wajahnya.
Sean kembali tertawa. Suasana danau sore itu mulai ramai oleh kedatangan muda-mudi yang ingin menikmati senja mereka di sana. Rania dan Sean pun menikmati sore itu dengan menikmati berbagai cemilan yang dibeli Sean dari pedagang kecil yang berjualan di sana.
"Oh iya, Sean. Aku sudah mendapatkan jawaban atas penawaranmu kemarin sore tentang pekerjaan untuk menjadi sekretarismu." Ucap Rania setelah menghabiskan cemilan di tangannya.
"Aku memutuskan untuk menerima tawaran itu." Balas Rania mengembangkan senyumannya.
Sean ikut tersenyum lebar. "Kau serius?" Tanyanya lagi.
Rania mengangguk. "Ya. Aku serius. Aku juga sudah mendapatkan izin dari suamiku untuk bekerja."
"Wah. Kalau begitu aku pasti akan lebih semangat berada di perusahaan karena ada dirimu di sampingku setiap waktu." Sean mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Rania terkekeh. "Kau ini ada-ada saja." Menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu kapan aku bisa bekerja di perusahaanmu?" Tanya Rania kemudian.
"Besok. Besok pagi kau sudah bisa mulai bekerja di perusahaanku."
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...