Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Pengunduran diri


__ADS_3

Sesuai ucapannya kemarin. Hari ini Rania nampak memasuki perusahaan dengan memegang dua lembar amplop di tangannya. Tadi malam ia memang sudah membuat surat pengunduran diri dirinya juga Kyara. Dan dalam surat itu pun Kyara sudah membubuhi tanda tangannya di sana. Dan secara tidak langsung Kyara juga sudah menyetujuinya.


Rania nampak menghela nafas sebelum memantapkan diri masuk ke dalam ruangan Bu Retno. Di dalam ruangan tak banyak percakapan antara Rania dan Bu Retno. Karena sejatinya Bu Retno agaknya sedikit senang karena Rania dan Kyara tak lagi ada di sekitarnya. Dan rahasianya yang hanya diketahui Rania setidaknya akan aman karena wanita itu sudah tidak lagi bekerja. Namun ada sedikit rasa tidak rela dalam diri Bu Retno. Karena Rania dan Kyara merupakan bawahannya yang cukup rajin dalam bekerja.


Setelah selesai dengan segala urusannya dan berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya, Rania pun memilih meninggalkan perusahaan. Sebelum benar-benar keluar dari gedung perusahaan, Rania sekilas dapat melihat mobil yang biasa digunakan Gerry melintas di depannya. Namun Rania mengacuhkannya. Ia lebih memilih bergegas untuk pergi ke rumah sakit karena hari ini Kyara sudah diperbolehkan pulang. Dan hari ini pula ia dan Kyara akan meninggalkan kota dengan diantarkan William sesuai janjinya tempo hari.


"Kau sudah siap, Kya?" Tanya Rania yang saat ini sedang mendorong kursi roda Kyara.


Kyara hanya tersenyum menanggapinya. Hatinya saat ini masih begitu sakit mengingat perselingkuhan suaminya itu. Bahkan Gerry suaminya itu tidak mencari keberadaan dirinya sampai saat ini.

__ADS_1


Di belakang Rani dan Kyara, William dengan gagahnya mengikuti dua wanita itu sambil memegang tas kecil yang berisikan barang-barang milik Kyara.


"Apa adikmu benar-benar tidak mau ikut, Rania?" Tanya Kyara mengingat tadi malam Rania sempat menawarkan adiknya untuk ikut pulang bersamanya namun adiknya itu menolak ajakannya.


"Tidak. Dia masih ingin bekerja di sini. Lagi pula jika di kampung dia akan terus dimarahi oleh ibuku." Seloroh Rania.


Kyara terkekeh kecil. Rania memang sering menceritakan tentang keharmonisan keluarga yang diselingi amukan ibunya di setiap harinya.


"Tidak masalah. Lagi pula dia itu laki-laki dewasa yang sudah bisa menjaga diri. Sudahlah, Kya... Kau jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu. Lebih baik saat ini kau fokus dengan kesehatanmu saja." Pinta Rania mengelus bahu Kyara.

__ADS_1


Kyara tersenyum seraya mengangguk.


Di belakang mereka William nampak mengembangkan senyuman melihat interaksi dua orang manusia yang begitu saling menyayangi satu sama lain.


Kyara menatap gedung-gedung tinggi yang mulai hilang bergantikan dengan pemandangan pepohonan. Matanya masih asik memperhatikan pemandangan yang entah kapan dapat ia lihat lagi. Di sebelahnya Rania terus menggenggam tangan Kyara menyalurkan kekuatan pada sahabatnya itu. Mereka akan memulai hidup baru di tempat yang lebih damai dan tentram dari keramaian.


Setelah melewati 8 jam perjalanan, mobil yang dikendarai William pun sampai di sebuah rumah bulatan bergaya minimalis bewarna biru. Di depan rumah itu, nampak kedua orang tua Rania menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar dari wajah mereka yang tak lagi muda.


"Apakah kau yang bernama Kyara?" Tanya Ibu Rania memandang Kyara.

__ADS_1


Kyara mengangguk seraya melebarkan senyuman.


***


__ADS_2