
"Budak cinta..." Ulang William dengan kening mengkerut.
"Sudahlah... Pria tua sepertimu tidak akan mengerti dengan istilah seperti itu." Ledek Dika.
Wajah William berubah masam. "Jangan mengataiku tua!" Amuk William.
Dika menarik bibir ke samping. "Kau terlihat lebih tua jika dibandingkan dengan bocah itu." Ledek Dika lagi.
William mendengus. "Diamlah atau aku akan mencampakkanmu dari lantai ini ke bawah." Ancam William.
Tawa Dika terdengar menggelegar membuat William bertambah sebal. Percakapan mereka pun terus berlanjut hingga Gerry keluar dari dalam kamar pribadinya.
"Apa kau sudah selesai menjadi bucin?" Amuk William karena waktunya cukup lama terbuang karena menunggu Gerry selesai melakukan panggilan video dengan istrinya.
"Bucin?" Kali ini Gerry yang terlihat bingung dengan istilah itu.
"Agh, sudahlah... Kau tak akan mengerti." Dengus William.
Dika yang mendengar ucapan William hanya bisa melipat bibirnya. Karena William pun padahal juga belum paham akan istilah itu.
"Duduklah. Dan segera katakan apa yang ingin kau katakan tadi." Perintah William merasa penasaran.
Gerry menurut. Menjatuhkan bokongnya di atas sofa di samping William.
"Sepertinya aku menarik perkataanku yang ingin mengatakan kepadamu. Karena Kyara kembali mengingatkanku untuk tidak mengatakannya kepadamu. Dan aku sudah berjanji untuk tidak mengatakannya." Sesal Gerry.
"Apa?! Bagaimana bisa begitu!" Amuk William.
__ADS_1
Gerry menatap William tajam. "Aku tidak bisa melanggar janjiku dengan istriku." Tekan Gerry.
William berdecak kemudian membuang nafas kasar di udara. "Terserah kau saja." Ucapnya malas.
Kedatangan Nisa yang masuk ke dalam ruangan membawakan kopi untuk William pun menghentikan pembicaraan mereka.
"Hai, Nisa..." Sapa William yang sudah biasa ramah dengan Nisa.
"Hai Tuan bule..." Nisa menampilkan senyuman lebarnya menatap pada wajah tampan William. "Silahkan diminum kopinya." Ucap Nisa.
William mengangguk. "Terimakasih."
Nisa mengangguk kemudian berpamitan keluar dari dalam ruangan.
Suasa di dalam ruangan Gerry pun kembali serius setelah William mendapatkan email masuk di ponselnya.
"Siapa?" Tanya Gerry saat melihat raut kegelisahan di wajah William.
Gerry dan Dika pun merapatkan tubuh pada William setelah pria itu mulai memutar videonya.
"Astaga..." Gerry dan Dika dibuat terkejut saat melihat siapakah wanita yang berjumpa dengan Rania waktu itu. Sedangkan William mengusap wajahnya kasar saat merasa situasi mulai tidak berpihak kepadanya.
"Ternyata benar. Bianca sudah memiliki seorang anak." Ucap Gerry setelah melihat Bianca mengambil alih anaknya dari dalam gendongan Rania.
"Dan wajah anak itu sangat mirip dengan William." Timpal Dika.
William mendesahkan nafas kasar di udara. Detak jantungnya mulai berdetak dengan tidak normal.
__ADS_1
"Jadi benar. Steve tidak salah melihat jika waktu itu Bianca datang ke hotel keluargaku sambil membawa anaknya." William mengerang frustasi.
"Anak itu sangat mirip denganmu. Aku rasa dugaan kita selama ini benar didukung dari apa yang sudah kita lihat. Namun apa yang membuat Bianca kembali ke negaranya dan keluar dari dalam persembunyiannya selama ini." Dika berpikir keras.
Gerry terdiam beberapa saat. "Jika benar dia adalah anakmu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Gerry pada William.
William membuka kedua kelopak matanya yang tertutup. "Entahlah... Pikiranku saat ini sungguh kacau. Aku sangat takut jika Rania akan mengetahuinya." Ucap William merasa frustasi.
Suasana pun hening.
"Namun jika benar dia adalah anakku. Maka aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku di masa lalu. Aku tidak ingin anak itu tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah yang masih hidup." Putus William pada akhirnya.
***
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
__ADS_1
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^