
"Apa Tuan William tidak ikut hadir dalam pertemuan kita kali ini Tuan Gerry?" Tanya Sean setelah Gerry mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Tunggulah sebentar. William akan datang sebentar lagi." Balas Gerry.
Sean mengangguk paham. Pandangannya pun beralih pada Rania yang terlihat sedikit gugup di posisinya.
Tak lama menunggu, kedatangan pria tampan berwajah bule itu pun menghentikan percakapan diantara mereka.
"Dimana Steve?" Tanya Gerry pada William karena tidak melihat keberadaan asistennya.
"Dia akan menyusul sebentar lagi." Ucap William. Pandangan William pun terjatuh pada sosok wanita yang sudah mengacaubalaukan pemikirannya. Ternyata benar. Rania akan ikut serta dalam pertemuan kali ini. Batin William mengingat informasi dari Steve.
Tak ingin terlalu lama menatap pada istrinya yang terlihat gugup, William pun segera menjabat tangan Sean dan menatap rivalnya itu dengan tajam kemudian beralih pada Felix.
Sedangkan Rania yang menunggu gilirannya untuk disalami itu nampak gugup dengan tatapan tajam suaminya yang terasa menghunus ke jantungnya.
William pun segera mengulurkan tangannya pada Rania yang disambut wanita itu dengan sedikit bergetar.
"Tidak perlu gugup seperti itu Nona Rania. Bukankah kita sudah biasa bertemu sebelumnya." Ucap William dengan bibir tertarik ke samping.
Kedua dua bola mata Rania membola sempurna. Pandangannya kini terisi penuh dengan wajah bule suaminya yang terlihat sungguh menyebalkan.
"Sekretaris saya sedang tidak gugup Tuan William. Dia hanya tidak biasa bertemu dengan orang asing seperti saat ini." Timpal Sean dengan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Orang asing?" William menggertakkan giginya yang beradu.
Asisten Jimmy berdehem untuk menormalkan situasi. "Saya rasa sudah saatnya. Mari kita mulai acara rapat hari ini." Ucap Asisten Jimmy kemudian mulai membuka acara pertemuan siang itu.
Selama rapat berlangsung, baik Gerry, William dan Sean nampak terlibat percakapan yang cukup serius membahas rencana kelanjutan kerjasama mereka yang sebelumnya ditangani oleh Tuan Richard dan kini dilanjutkan oleh Sean.
Felix nampak sesekali menjelaskan secara rinci rancangan yang sudah dibuat oleh perusahaan mereka yang tergambar di layar monitor. Sedangkan Rania terus fokus menulis apa saja yang menjadi poin penting selama rapat berlangsung.
"Baiklah, saya setuju agar pembuatan produk baru kali ini menggunakan jasa dari perusahaan Tuan Sean." Putus Gerry yang disetuji oleh William.
Pertemuan kali itu pun ditutup dengan kesepakatan lanjutan kerjasama dari ketiga perusahaan besar tersebut.
"Bagaiman untuk menutup pertemuan kali ini, kita makan siang bersama di restoran yang ada di dekat sini." Ucap Gerry.
"Bagaimana denganmu William?" Tanya Gerry karena sahabatnya itu hanya diam saja namun tatapannya tak henti tertuju pada wanita yang saat ini tengah berbincang dengan Sinta sekretarisnya.
"Baiklah. Aku setuju." Ucap William tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya.
Gerry yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka pun berangkat menuju restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari perusahaan Bagaskara dengan menggunakan mobil masing-masing.
"Aku lihat Tuan Sean dan Rania selalu memakai pakaian yang senada setiap bertemu denganku." Ucap Gerry sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan.
__ADS_1
Wiliam mendengus. "Apa kau tidak sadar jika dia pasti sengaja melakukannya agar bisa terlihat serasi dengan istriku." Geramnya.
Gerry menghentikan langkahnya yang membuat William dan Asisten Jimmy ikut berhenti.
"Apa kau sedang cemburu saat ini, Will?" Tanya Gerry dengan nada meledek.
***
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
__ADS_1
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^