
"Kalian jadi akan kembali ke Jakarta siang ini?" Tanya Bu Mela pada William dan Rania saat mereka sudah selesai menyantap sarapan pagi.
"Jadi, Bu. Saya dan Rania akan kembali ke Jakarta siang ini bersama Gerry dan juga Kyara." Balas William.
Bu Mela mengangguk paham. "Sebenarnya Ibu masih sangat ingin kau dan Rania berada di sini. Namun Ibu cukup paham akan kesibukanmu."
"Jika ada waktu luang kami akan sering mengunjungi Ibu ke sini."
"Baiklah. Ibu harap kau dan Rania dapat menjalani rumah tangga dengan baik. Ibu juga berharap agar kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan menjalani rumah tangga kalian."
William tersenyum. "Saya dan Rania akan mengusahakannya, Bu."
Rania yang duduk bersebelahan dengan William tersenyum kecil. Namun jauh di lubuk hatinya ia masih saja meragu.
Siang itu mobil BMW bewarna hitam nampak sudah terparkir di halaman rumah Rania. Kyara, Gerry dan juga Baby Rey yang berada di dalam gendongan Gerry nampak keluar dari dalam mobil. Siang ini sesuai kesepakatan William dan Rania memang berangkat menuju Jakarta bersama dengan Gerry dan juga Kyara. Sedangkan Dika dan Reno sudah lebih dulu kembali pagi tadi.
"Rania..." Panggil Ibu Mela pada putrinya dengan berkaca-kaca.
Rania yang merasa terpanggil itu pun mengalihkan pandangan pada Ibunya.
__ADS_1
"Kemarilah..." Pinta Bu Mela dengan parau.
Rania mendekat. Seketika tubuhnya tersentak saat Bu Mela membawa tubuh mungilnya ke dalam pelukan Ibu.
"Sekarang kau sudah menjadi seorang istri. Ibu harap kau bisa menjadi istri yang baik untuk nak Willam. Jadilah istri yang penurut. Surgamu kini sudah berpindah kepadanya. Patuhilah perintahnya jika itu masih di jalan yang benar. Di dalam rumah tangga itu pasti akan ada saja masalah yang menghampiri. Namun ibu harap kau bisa bersabar dan kuat menjalaninya." Pesan Ibu.
Rania membalas pelukan ibunya dengan erat. Air matanya luruh begitu saja mendengar pesan tulus dari ibu yang telah melahirkannya.
"Rania akan mengusahakannya, Bu... Ibu dan Ayah jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah bekerja." Pinta Rania pada Ibu dan Ayahnya.
Rania pun beralih pada Ayahnya yang juga berkaca-kaca. "Ayah akan tetap menjadi cinta pertama di hidupku untuk selamanya." Gumam Rani di dalam pelukan Ayahnya.
Suasana haru pun mulai menyelimuti saat Ibu Rania memberikan wejangan singkan pada Rania dan William dalam menjalani biduk rumah tangga mereka.
"Saya akan berusaha untuk mewujudkan impian Ibu." Ucap William kemudian.
Rania, William, Kyara dan Gerry pun mulai berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Setelah mobil mulai melaju meninggalkan rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya dari kecil hingga dewasa, Rania tak lagi dapat membendung tangisannya.
"Kyara... Hiks..." Rania menghambur memeluk tubuh Kyara yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Tenanglah... Jika ada waktu, kita akan mengunjungi Ibu bersama-sama." Kyara mengelus punggung Rania yang naik turun. Kyara dapat merasakan kesedihan yang Rania rasakan saat ini.
"Aku sungguh merasa berdosa telah melawan perkataan Ibu selama ini. Aku tidak pernah sadar jika Ibu bersikap seperti itu karena Ibu sangat menyayangiku. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kehidupanku." Raung Rania di dalam pelukan Kyara.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...