Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Ketakutan yang mendalam


__ADS_3

"Gerry..." Kyara terbangun dari tidurnya yang cukup lama dengan nafas naik turun.


"Gerry..." Lirih Kyara lagi dengan mata berkaca-kaca. Mimpinya yang cukup panjang membuat Kyara merasa berada di alam nyata. Kyara bangkit dari pembaringan menuju box bayinya.


Suara tangisannya mulai memenuhi setiap penjuru kamarnya. Entah mengapa hati Kyara merasa takut jika mimpinya itu benar-benar terjadi.


"Hiks... Hiks... Mama cuma mimpi kan... Kenapa semuanya seolah nyata." Ucap Kyara dengan terbata. Kyara pun mengangkat Baby Rey yang sedang tertidur itu kemudian memeluk erat putranya.


"Papa kamu pasti tidak akan meninggalkan kita kan, Rey... Huuu...." Kyara meraung menakuti mimpinya yang terasa nyata.


Tujuh bulan sudah Gerry terbaring koma tanpa menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Usia Baby Rey pun sudah hampir memasuki satu tahun. Bayi mungil itu semakin berisi dan sudah semakin tampan. Bahkan saat ini Baby Rey sudah mulai pandai berjalan walau masih sering terjatuh.


Kedua mata Baby Rey mulai terbuka. Sepertinya bayi tampan itu terusik dari tidurnya karena mendengar suara tangisan Mamanya yang cukup kencang. Untung saja kamar Gerry kedap suara sehingga suara tangisan Kyara tidak terdengar sampai ke luar kamarnya.


Dalam sekejap Baby Rey pun ikut menangis. Kyara menenangkan bayinya yang cukup keras menangis itu di dalam pelukannya.


"Papa pasti akan baik-baik saja..." Ucap Kyara dengan deraian air mata.


Baby Rey terus menangis dengan kencang. Sepertinya bayi itu ikut merasakan kekhawatiran ibunya saat ini. Kyara pun mulai memberikan ASI pada Baby Rey untuk menenangkan bayinya yang terus menangis.


"Hiks... Hiks... Kenapa hatiku sakit sekali..." Isak Kyara sambil menghapus air matanya yang jatuh di pipi Baby Rey.

__ADS_1


Kyara melirik jam yang menggantung di kamarnya. Ternyata cukup lama ia tertidur setelah pulang dari rumah sakit tadi pagi. Dan saat ini jam sudah menununjukkan pukul 11 siang.


Kyara masih tak bisa membendung tangisannya. Rasa takut masih menjalar di dalam hatinya. Setelah selesai menyusui Baby Rey, Kyara pun tanpa berpikir panjang langsung menuju lemari baju Baby Rey.


"Kita akan ke rumah sakit. Mama akan membawamu bertemu Papa. Rey pasti sangat merindukan Papa bukan?" Kyara masih terus menangis sambil mengganti pakaian bayinya.


Tuhan... Tolong sadarkan suamiku... Tolong berikan kesembuhan kepadanya... Isak tangis Kyara terdengar menyayat hati.


"Ayo kita bertemu Papa. Papa tidak boleh terlalu lama mengabaikan kita." Ucap Kyara mencium pipi Baby Rey dalam gendongannya.


"Kyara... Kau ingin kemana?" Rania menahan pergelangan tangan Kyara saat melihat sahabatnya itu tengah menangis sambil menggendong Baby Rey.


"Aku ingin ke rumah sakit." Ucap Kyara sedikit terbata.


"Tidak... Aku harus ke rumah sakit saat ini juga. Aku harus membangunkan Gerry... Hiks..." Kyara mulai menangis tersedu-sedu. Ingatan tentang mimpi buruknya masih terus menakutinya.


"Kyara jangan seperti ini..." Rania berusaha menjangkau tangan Kyara yang sudah lepas dari genggamannya.


"Aku harus ke rumah sakit. Tolong jangan halangi aku. Aku harus melihat keadaan suamiku sekarang juga!" Suara Kyara sedikit meninggi.


"Kyara... Tenanglah... Apa kau lupa saat ini kau ingin membawa Baby Rey bersamamu." Rania berusaha mengejar langkah Kyara.

__ADS_1


"Dokter akan melarangmu membawa Baby Rey ke sana." Bujuk Rania lagi


"Aku tidak perduli! Saat ini aku hanya ingin Rey bisa bertemu dengan Papanya." Kyara sangat berharap dengan kedatangan Baby Rey akan membuat semangat hidup Gerry akan kembali bangkit.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara...


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺


__ADS_2