
"Aku akan melakukannya." Ucap Rania dengan tersenyum. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sakit yang teramat dalam di hatinya saat ini. Dan ulang lagi. Apa kata suaminya tadi? Jangan mencintainya? Ah. Bahkan hatinya sudah jatuh sejatuhnya pada pria itu sejak lama. Dan saat ini pria berstatus suaminya itu memintanya untuk jangan mencintainya. Sungguh konyol sekali.
William tertegun. Ia sungguh tidak menyangka Rania menyetujuinya secepat itu. "Maaf." Ucapnya lagi merasa semakin bersalah.
Rania menatap sekilas ke arah samping. Kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Tak masalah. Aku rasa keputusanmu sudah benar supaya diantara kita tidak ada yang berharap dan sama-sama terluka." Wanita tegar itu masih saja bersikap tenang.
"Aku tahu sangat sulit bagimu untuk menerima kehadiranku sebagai istrimu. Mungkin jika hanya teman, kau mungkin akan menerimaku. Begitu pula dengan aku. Aku juga harus belajar menerima statusku saat ini dan tidak mengharapkan apapun untuk pernikahan ini. Kau tidak ingin pernikahan kita seperti pernikahan sahabatmu bukan?"
William hanya diam. Rania pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Mungkin jalan kita untuk menuju bahagia akan terlalu lama." Rania mengembuskan nafasnya dengan pelan di udara. Mengusap-ngusap lengannya yang tidak seluruhnya tertutup kain. "Sepertinya cuaca malam ini cukup dingin. Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Rania yang kini menggosokkan kedua telapak tangannya.
William menggeleng. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ia utarakan. Namun lidahnya terasa kelu saat ingin mengatakannya.
"Baiklah. Aku masuk lebih dulu. Aku sudah sangat mengantuk. Hari ini cukup melelahkan." Rania menguap menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Kemudian bangkit meninggalkan William membeku di tempatnya.
__ADS_1
Apa yang aku harapkan dari pernikahan tanpa cinta disebelah pihak? Apa aku begitu bodoh mengharapkan cintanya? Aku bahkan sudah paham dia mungkin belum melupakan cintanya. Tapi kenapa hatiku masih tetap sakit saat mendengar penolakan cintanya secara tidak langsung. Batin Rania merasa miris.
*
Satu minggu pun berlalu. Kehidupan rumah tangga yang Rania dan William jalani masih terkesan wajar. Setiap harinya Rania masih tetap melayani kebutuhan William seperti pertama ia tinggal di apartemen suaminya. Rania masih bersikap sewajarnya. Menampilkan senyuman manisnya tanpa terlihat terluka. William yang melihatnya semakin bersalah saja. Namun ia tidak bisa mengubah keadaan. Harapan cinta itu harus benar-benar William hilangkan sebelum terjadi.
Pagi itu William berkata akan pergi ke luar kota bersama Gerry untuk melihat proyek kerjasama mereka yang ada di kota S. Rania yang mendengarkannya pun meminta izin untuk mengunjungi Kyara dan Baby Rey di mansion Bagaskara. Dan setelah mendapatkan izin dari William, Rania pun bersiap-siap untuk pergi ke mansion Bagaskara. Tak lama bersiap Rania pun berangkat menggunakan taksi online yang sudah dipesannya.
Suara deru mobil yang terdengar di depan mansion membuat Kyara segera menggendong Baby Rey yang sedang bermain menuju pintu utama.
"Rania... Kau sudah datang..." Seru Kyara melebarkan senyumannya saat melihat Rania turun dari dalam taksi.
"Rania..." Kyara menatap intens wajah sahabatnya yang sedang tersenyum manis kepadanya. Namun entah mengapa Kyara merasakan ada yang aneh di dalam diri sahabatnya saat ini.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kyara kemudian.
__ADS_1
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...