Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Salah paham akan sikapnya


__ADS_3

"Mommy... apa Mommy akan pergi bekerja bersamaku dan Daddy?" tanya Cilla saat melihat Bianca hendak masuk ke dalam mobil Calvin.


"Ya. Mulai hari ini dan seterusnya Mommy akan berangkat bersama kita." Ucap Calvin yang menjawab.


Bianca mengunci rapat bibirnya. Membiarkan Calvin membalas ucapan putrinya dan masuk ke dalam mobil.


"Kenapa begitu Daddy?" Cilla nampak heran. "Biasanya Mom tidak suka diantar bahkan oleh sopir sekali pun."


"Daddy hanya ingin memastikan keselamatan Mommymu. Lagi pula banyak tindak kejahatan di jalanan akhir-akhir ini." Ucap Calvin.


Cilla menganggukkan kepalanya walau tak paham.


"Ayo masuk." Ajak Calvin lalu menaikkan Cilla masuk ke dalam mobil.


"Aku sangat senang bila Mommy pergi mengantarkanku ke sekolah setiap harinya." Ucap Cilla saat mobil sudah melaju di jalan raya.


Mendengar ucapan putrinya, Bianca pun menolehkan kepalanya ke arah belakang.


"Apa kau benar-benar senang?" Tanya Bianca menggoda putrinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Mommy. Aku sangat senang sekali!" Balas Cilla dengan tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu mulai hari ini Mom akan berusaha untuk mengantarkanmu pergi sekolah setiap harinya." Ucap Bianca.


"Asik... akhirnya aku bisa seperti teman-temanku yang lainnya yang bisa diantarkan pergi ke sekolah dengan kedua orang tuanya!" Ucap Cilla dengan polosnya.


Aku rasa keputusan Calvin ada baiknya. Karena dengan ini Cilla dapat mewujudkan keinginannya. Batin Bianca menatap pada Calvin yang sedang fokus pada kemudinya.


*


Setelah mengantarkan Cilla menuju sekolahnya, mobil Calvin pun melaju di jalan raya menuju butik Bianca.


"Tidak." Balas Calvin dengan singkat.


"Apa kau tidak akan terlambat pergi bekerja nantinya?" Tanya Bianca lagi.


"Tidak." Balas Calvin lagi dengan singkat.


Bianca menghela nafasnya. Berbicara dengan suami seperti Calvin memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun dibalik itu semua ada perasaan bahagia yang mulai menyusup di dadanya saat menyadari perubahan sikap Calvin belakangan ini. Bahkan suaminya itu sudah mulai menunjukkan rasa perhatiannya pada dirinya.

__ADS_1


Setelah sampai di depan butiknya, Bianca pun menatap pada Calvin lebih dulu sebelum turun dari dalam mobilnya.


"Kenapa kau belum turun?" tanya Calvin yang nampak risih dengan tatapan Bianca yang sejak tadi menatapnya.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu." Ucap Bianca dengan lembut.


"Untuk?" Sebelah alis Calvin tertarik ke atas.


"Karena kau sudah repot mengantarkanku."


"Aku tidak merasakan kerepotan yang kau maksud. Sudahlah. Lebih baik kau turun dan jangan pulang jika bukan aku yang menjemputmu." Ucap Calvin dengan nada yang selalu datar.


"Aku akan melakukannya." Ucap Bianca dengan tersenyum. Bianca pun turun dari dalam mobil dengan hati yang berbunga. Namun bahagia di hatinya itu tak berselang lama saat ia mengingat kembali masa lalu suaminya.


"Calvin... apa aku boleh salah paham dengan sikapmu saat ini? Entah mengapa aku merasakan sangat dicintai olehmu walau pun itu tak mungkin." Gumam Bianca. Karena sejak awal pernikahannya Calvin sudah menegaskan padanya untuk tidak mengharapkan lebih dari pernikahan mereka yang hanya mengatasnamakan kebahagian Cilla.


"Selamat pagi Nona Bianca." Sapa Merry menghampiri Bianca yang masih termenung di tempatnya.


"Selamat pagi Merry." Balas Bianca tersenyum. Namun senyumannya itu perlahan menyurut saat mencium bau yang tidak sedap dari tubuh Merry. "Merry, kenapa bau parfummu sangat tidak enak pagi ini?" Tanya Bianca lalu menutup hidungnya dengan tangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2