
Deg
Jantung Gerry berdetak lebih cepat. Ia memang tidak terlalu memperhatikan siapa saja yang membawa minuman dan makanan ke dalam ruangan rapat. Tetapi ia ingat jika Kyara—istrinya masuk ke dalam salah satu OB yang membawa minuman.
"Ish sepertinya kau tidak tahu! Tentu saja, jelas saja kau begitu fokus dengan berkas-berkasmu itu sampai tidak memperhatikan lingkungan sekitar!" Cebik William. "Apa kau tahu, Gerry? Jika wanita itu memiliki mata bulat bewarna hitam pekat? Apalagi rambutnya yang bewarna hitam pekat itu semakin membuatku ingin selalu melihatnya. Agh, sepertinya aku sudah tertarik padanya!"
Kembali jantung Gerry berdetak lebih cepat. Sedikit ciri-ciri yang disebutkan William mendekati ciri khas istrinya. Entah mengapa membayangkan jika William menyukai istrinya membuat dada Gerry bergemuruh. Rasa tak suka tiba-tiba menyeruak di dadanya.
"Apakah kau sudah selesai berbicara?" Ketus Gerry.
"Tentu saja belum! Aku bahkan belum menjelaskan wajahnya yang begitu manis. Lucu dan ... imut." Kesepuluh jari William nampak bertaut. Matanya menatap ke arah langit-langit. Membayangkan dengan detail wajah calon wanitanya.
__ADS_1
"Pembicaraan tidak penting! Bahkan tidak ada wanita yang melebihi kecantikan Ketty!" Sangkal Gerry.
"Tentu saja ada! Kau terlalu dibutakan oleh Ketty! Bahkan wanita yang aku temui itu memiliki kecantikan yang begitu alami tanpa tambahan perias di wajahny." Kekeh William.
Gerry mendengkus mendengar William kembali menyanjung wanita yang baru pertama kali dilihatnya itu. "Sudahlah, aku masih ada urusan setelah ini. Kau masih bisa berkunjung kemari dalam dua minggu ke dapan. Sekarang pergilah!" Usir Gerry.
"Si4lan! Beraninya kau mengusir sahabat baikmu ini?!" Gerutu William. "Tetapi sepertinya aku memutuskan untuk berada lebih lama di Indo sampai wanita itu menjadi milikku." William terkekeh dengan ucapannya yang penuh dengan penekanan.
"Terserah kau saja! Aku harus pergi. Jika kau masih ingin berada di sini tidak masalah!" Gerry beranjak dari duduknya. Menyambar jas yang semula ia sampirkan dan memakainya kembali.
"Jangan mengganggunya! Dia memiliki cukup banyak pekerjaan satu minggu ke dapan!" Tegas Gerry. Menghentikan sejenak langkahnya memasuki lift dan menatap William tajam.
__ADS_1
William berdecak. "Kenapa kau pelit sekali? Tapi tidak masalah, aku masih bisa mencari informasi tentangnya tanpa bantuanmu."
"Terserah kau saja!" Cetus Gerry memasiki lift diikuti William dan Jimmy yang sudah berada di dekat Tuannya.
Mereka pun berpisah ketika sudah sampai di lobby kantor. William nampak bergegas pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby. Sedangkan Gerry menatap asisten Jimmy dengan tatapan menyelidik.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Jimmy yang seolah mengerti apa yang diinginkan Tuannya.
"Cari tahu siapa wanita yang bertemu dengan William di lantai 15 hari ini!" Titah Gerry. Walau pun mulutnya menolak ingin mencaritahu siapa wanita yang dibicarakan William. Tetapi nyatanya hatinya masih menerka siapa wanita itu. Karena tidak biasanya sahabatnya itu terlalu antusias dengan seorang wanita. Bahkan dari ucapannya, William begitu mendambakan gadis itu untuk menjadi istrinya.
***
__ADS_1
*Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉