Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Pulang ke apartemen


__ADS_3

"Kita mau kemana, Rania?" Kyara yang dibawa begitu saja oleh Rania menuju loker pun bertanya.


"Pulang. Tunggulah di sini sebentar! Aku akan ke ruangan Bu Retno untuk meminta mengizinkanmu pulang lebih awal." Ucapnya sembari membantu Kyara duduk di kursi dekat lokernya.


"Apakah boleh?" Tanyanya takut tidak diberi izin. Kali ini Kyara menurut karena ia pun merasa sudah tidak kuat untuk bekerja.


"Jika tidak boleh aku akan membakarnya hidup-hidup!" Ancam Rania. Kyara terkadang heran dengan Rania yang begitu berani dengan atasan OB mereka itu. "Tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali." Ucapnya. Kemudian mengayunkan kakinya keluar dari ruangan menuju ruangan Bu Retno berada.


Tidak membutuhkan waktu lama, Rania pun kembali ke dalam ruangan. "Ayo, Kya!" Ajaknya membantu kembali Kyara berdiri setelah mengambil tas selempang Kyara dan dirinya di dalam loker.


"Apakah boleh?" Lirih Kyara. Tubuhnya semakin lemas saat ini.


"Tentu saja!" Jawab Rania cepat.

__ADS_1


"Aku bisa berjalan sendiri, Rania..." Kyara melepaskan tangan Rania yang sedang merangkul pundaknya.


Rania menurut. Namun kini tangannya beralih pada lengan Kyara. Takut saja jika sahabatnya itu tiba-tiba jatuh. Kyara menurut saja diperlakukan seperti itu.


"Kita memesan taksi online saja, ya? Tidak mungkin aku membawamu dengan sepeda motor milikmu." Ucap Rania merasa awas.


Kyara mengangguk. Kemudian memberikan ponselnya pada Rania. "Pesanlah. Lagi pula aku tadi tidak membawa motor." Jelasnya.


Rania menerima ponsel Kyara kemudian memesan taksi. Setelah selesai, ia kembali menuntun Kyara keluar dari perkarangan perusahaan.


Kyara menggeleng lemah. "Tidak usah, Rania. Aku sungguh tidak apa-apa. Aku hanya ingin cepat sampai di apartemen saat ini." Sahutnya memohon.


Rania terpaksa menurutinya. Toh sesampainya di apartemen Kyara, ia bisa keluar sebentar mencari obat untuk sahabatnya itu. Dari pada harus bersitegang dengan kondisi Kyara seperti saat ini. Pikirnya.

__ADS_1


Di dalam taksi Kyara yang sudah sangat lemas pun langsung tertidur dengan kepalanya bersandar di bahu Rania. Rania melirik ke arah Kyara yang sudah terpejam. "Sebenarnya kau sakit apa, Kya? Kenapa akhir-akhir ini kau sering pucat?" Gumam Rania pelan takut membangunkan tidur Kyara.


Sesampainya di apartemen. Rania kembali menuntun Kyara berjalan menuju kamarnya. Untuk seminggu ini ia tidak takut jika keluar masuk ke dalam apartemen Presdirnya di kantor. Karena ia tahu, jika Gerry masih mengurus masalahnya di luar kota yang memakan waktu cukup lama dari teman-teman sepergosipannya di kantor.


Dengan hati-hati Rania membaringkan tubuh Kyara di atas ranjang. "Tidurlah jika masih mengantuk." Ucap Rania yang diangguki lemah oleh Kyara.


Tidak lama Kyara pun kembali tertidur setelah tadi tidurnya sempat terganggu karena Rania membangunkannya ketika sudah sampai di apartemen. Bahkan sangking lemasnya Kyara memilih tidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Rania menatap nanar sahabat yang sudah seperti keluarga baginya. "Sayang sekali Pak Gerry menyia-nyiakan wanita sepertimu, Kya... Aku harap kau akan menemukan kebahagiaan suatu saat nanti." Tanpa terasa air mata Rania menetes begitu saja. Melihat hidup Kyara selama ini yang hidup sebatang kara tanpa keluarga membuat hatinya terasa teriris. Apalagi mengingat ucapan Kyara jika Gerry akan menceraikannya setelah kurun waktu enam bulan pernikahan mereka menambah kekhawatiran Rania pada sosok sahabat baiknya.


***


Mohon berikan dukungan untuk semua pembaca cerita recehanku ini. Dengan cara, like, komen dan votenya. Dukungan kalian semua menjadi penyemangat tersendiri untuk aku menulis. Terimakasih.

__ADS_1


Aku up lagi jika komennya banyak. Yuk komen dan jangan lupa tekan likenya:)


__ADS_2