
Gerry membuka pintu kamar Kyara dengan hati-hati agar tak menimbulkan keributan. Pandangannya pun tertuju pada sosok yang tengah tertidur di atas ranjang. Dengan langkah pelan Gerry mendekati sosok itu.
"Gerry..." Panggil Kyara dengan mata yang sudah terbuka sempurna.
Langkah Gerry terhenti. "Apa aku mengganggumu?" Tanya Gerry tak enak hati. Padahal ia sudah berusaha agar kehadirannya tidak menganggu tidur wanita itu.
"Tidak... Aku memang sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu dan berusaha untuk tidur kembali." Jelas Kyara. Kyara pun bangkit dari tidurnya.
"Tidurlah lagi. Ku dengar kau baru saja tertidur."
"Jika bisa aku akan melakukannya. Namun dia masih aktif bergerak." Ucap Kyara sedikit meringis.
Gerry pun mendekat. Gerakannya membuat Kyara sontak bergeser. Gerry dapat melihat jika Kyara masih terlihat sedikit takut jika berada di dekatnya.
"Boleh aku memegangnya?" Tanya Gerry sedikit ragu.
Kyara mengangguk lemah. Gerry pun sudah duduk di tepi ranjang sedikit mencondongkan badan ke arah Kyara. Tangannya mulai bertengger di atas perut Kyara mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
"Hai boy... Ini Papa... Jangan rewel ya anak Papa... Kasian Mama kamu jadi susah untuk tidur." Bisik Gerry di perutnya. Walau pun pelan namun Kyara masih bisa mendengarnya.
Cukup lama Gerry mengelus perut Kyara hingga membuat wanita itu mulai menguap. Pandangan Gerry pun terangkat melihat Kyara yang nampak mengantuk dengan ujung mata yang sudah berair. Kyara pun sudah tak meringis lagi. Gerry juga dapat merasakan jika anaknya sudah tidak bergerak aktif lagi.
"Tidurlah... Aku akan menjaganya agar tidak rewel." Ucap Gerry.
Deg
Jantung Kyara melemah melihat wajah tampan dengan pandangan sayu di depannya. Kyara tak lagi melihat tatapan arogant pria itu. Tatapan yang dulu setiap harinya ia dapatkan. Kyara pun dapat merasakan perbedaan sikap Gerry yang makin hari makin lembut kepadanya.
Gerry pun mulai membantu Kyara untuk berbaring kembali. Menaikkan selimut wanita itu hingga menutupi sebagian tubuhnya. Melihat tidak adanya penolakan dari Kyara membuat Gerry merasa lega.
"Apa kau begitu merindukan Papa, boy?" Ucap Gerry dengan yakinnya. "Semoga Papa selalu bisa menjagamu hingga akhir." Lirih Gerry. Ia sangat berharap selalu bisa berdekatan dengan anaknya tanpa ada jarak yang memisahkan mereka nantinya. Walau Gerry sadar itu semua sangat kecil kemungkinannya. Mengingat Kyara yang masih saja menaruh benteng di antara mereka.
*
"William...!!" Pekik Rania mendekati William yang sedang menghabiskan kerupuk terakhirnya.
__ADS_1
"Kau menghabiskan satu toples kerupukku?" Ucap Rania dengan kedua bola mata membola.
"Tidak... Aku hanya mencicipinya saja. Awalnya tidak enak. Namun lama kelamaan sepertinya enak juga." Ucap William tanpa merasa bersalah.
Krek. Akhirnya kerupuk terakhir pun habis masuk ke dalam perutnya.
"Oh astaga..." Rania menggeleng melihat tingkah William. "Aku bahkan belum memakannya sama sekali." Sungut Rania.
William hanya mengangkat bahunya tanda acuh. Membuat Rania semakin jengkel.
"Bisakah kau membuatkan satu toples lagi untukku? Agar aku bisa membawanya nanti saat pulang." Pinta William.
Rania mendengus. "Baiklah. Tapi tidak ada yang gratis!" Ucapnya menyeringai.
William menyentil kening Rania membuat wanita itu meringis. "Uang, uang saja yang ada di dalam pikiranmu itu!" Sungutnya.
"Tentu saja. Aku pun tidak bisa hidup jika tidak ada uang. Kau pikir aku bisa membeli bahan makanan selama ini dari mana jika tidak dengan menggunakan uang. Tidak mungkin pakai daun!" Kelakar Rania. Sekejap kemudian ia kembali meringis. Karna lagi-lagi Rania mendapatkan sentilan di keningnya oleh ulah William.
__ADS_1
***