Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Perhatian yang terpendam


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang, Calvin dan Bianca hanya diam tanpa berniat memulai pembicaraan satu sama lain.


Apa dia marah kepadaku? Kenapa wajahnya dingin sekali? Membuat tubuhku terasa membeku saja.


Bianca sesekali menatap pada wajah suaminya yang terlihat lebih dingin dari biasanya.


Dia bukan mengkhawatirkan keadaanku tadi kan? Kenapa dia terlihat marah melihat aku keluar dari mobil di saat hujan begini? Batin Bianca kembali dibuat bertanya-tanya.


Dan tanpa diduga, tiba-tiba saja Calvin menghentikan laju mobilnya yang membuat Bianca mengelus dadanya.


"Kenapa kau berhenti?" Tanya Bianca namun tak mendapatkan respon apa pun dari Calvin.


Calvin hanya diam. Namun tangannya bergerak membuka mantel yang kini melekat di tubuhnya.


"Pakailah." Ucap Calvin menyerahkan mantel di tangannya pada Bianca.


"Kau menyuruhku memakainya?" Tanya Bianca.


Bukannya menjawab, Calvin lebih memilih menatap istrinya dengan tatapan tajam.


Bianca dibuat bergedik. Tak ingin suaminya bertambah marah, Bianca pun segera memakai mantel yang diberikan Calvin kepadanya.

__ADS_1


"Kau pasti akan kedinginan jika mantelnya diberikan kepadaku." Ucap Bianca setelah memasang resleting mantelnya.


Lagi-lagi ucapan Bianca hanya melayang begitu saja sebab Calvin tak juga membalas ucapannya.


Apa aku boleh merasa jika saat ini kau mengkhawatirkan dan perhatian padaku? Batin Bianca penuh harap.


Calvin kembali melajukan mobilnya membelah derasnya hujan malam itu. Keheningan pun kembali menyelimuti sepasang suami istri yang larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Beberapa menit berlalu, mobil pun telah sampai di depan rumah. Kedatangan mereka pun disambut dengan suara tangisan Cilla yang terdengar cukup keras di dalam rumah.


"Cilla..." gumam Bianca lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar.


"Mommy..." melihat kedatangan Bianca, Cilla pun buru-buru berlari ke arah Bianca. "Mommy... akhirnya Mom pulang juga... aku sangat mengkhawatirkan Mommy..." Cilla menangis sesegukan. Tangan mungilnya kini memeluk erat kaki Bianca.


"Karena aku mengkhawatirnya Mommy. Hujan di luar sana sangat deras. Aku takut Mom kenapa-napa." Balasnya lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


Bianca tersenyum. "Sekarang Mom sudah berada di depanmu bukan? Jangan menangis lagi oke?" Bianca turut menghapus air mata di pipi Cilla.


Dari ambang pintu, Calvin menatap interaksi Bianca dan Cilla dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kakinya kemudian melangkah mendekat ke arah istri dan anaknya. "Apa kau masih ingin berlama-lama dengan baju yang masih basah? Pergilah ke kamar dan bersihkan tubuhmu atau kau akan demam sebentar lagi." Ucap Calvin dengan datar.


Bianca dibuat tertegun. Untuk pertama kalinya Calvin terlihat terlalu banyak bicara kepadanya setelah beberapa bulan belakangan diam seperti batu.

__ADS_1


"Baiklah." Balasnya dengan sedikit tersenyum. "Cilla... Mom ingin mandi lebih dulu. Tak masalah bukan jika kau bersama Daddy dulu di sini?"


"Baiklah Mom. Aku akan menunggu Mom kembali." Balasnya dengan wajah yang masih nampak basah.


Setelah Bianca berlalu dari hadapan mereka menuju kamarnya, Calvin pun membawa Cilla untuk duduk kembali di atas sofa.


"Daddy... baju Daddy juga basah... apa Daddy tidak ingin menggantinya?" Cilla meraba baju Calvin yang terasa lembab.


"Tidak. Daddy akan menemanimu di sini lebih dulu." Balas Calvin.


"Tapi Daddy... kau bisa sakit jika memakai baju basah. Aku akan menunggumu dan Mom di sini bersama Bibi. Daddy pergilah ke kamar dan membersihkan tubuh bersama Mommy."


***


Lanjut?


Berikan semangat dulu dong dengan vote, komen dan likenya😶


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)

__ADS_1


Serpihan Cinta Nauvara (End)


Oh My Introvert Husband (End)


__ADS_2