Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sengaja menyusulku


__ADS_3

"Aku lihat hubunganmu dan William semakin membaik akhir-akhir ini, Rania. Bahkan Gerry bercerita jika William sampai rela menyusulmu ke kota B karena dia tak ingin kau mempunyai waktu berduaan dengan Seno." Ucap Kyara saat mereka tengah melanjutkan masakan Rania yang tertunda. Sedangkan Gerry dan William memutuskan untuk duduk di balkon sambil mengajak bermain Baby Rey.


"William menyusulku?" Tanya Rania dengan kening berkerut.


Kyara mengangguk. "William menyusulmu bukan? Buktinya aku melihat postingannya tengah berada di hotel yang sama denganmu." Ucap Kyara merasa sedikit heran.


"Ya. William memang menyusulku. Namun aku tidak tahu jika dia benar-benar berniat melakukannya. Karena dari perkataannya kemarin dia datang juga karena ada pekerjan di kota yang sama denganku." Terang Rania.


Kyara tertawa kecil. "William itu sungguh manis sekali. Menyembunyikan kenyataan yang ada dengan membawa nama pekerjaannya." Seloroh Kyara.


Rania ikut tertawa. Namum perasaan meras aneh. "Kenapa dia terlihat seperti seorang suami yang begitu mencintai istrinya." Lirih Rania.


"Rania? Apa kau berbicara sesuatu?" Tanya Kyara saat mendengar ucapan Rania.


Rania menggeleng cepat. "Aku tidak mengatakan apa-apa." Kilahnya.


"Jelas-jelas aku mendengarkan ucapanmu." Ucap Kyara dengan pelan.


"Kyara. Apa kau berbicara sesuatu?" Tanya Rania kembali.


"Tidak." Balas Kyara dengan cepat.

__ADS_1


Siang itu mereka habiskan dengan memasak berbagai makanan sambil bercerita tentang kehidupan masa lalu mereka saat belum menyandang status sebagai seorang istri. Setelah empat jam menghabiskan waktu di apartemen William dan Rania. Gerry dan Kyara pun berpamitan untuk pulang karena Baby Rey sudah mulai gelisah.


*


Tangan William mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan bolpoin yang sedang dipegangnya. Pikirannya melayang pada perkataan Gerry dan Kyara kemarin siang yang mempertanyakan kehamilan istrinya. Pemikiran William bertanya-tanya. Kenapa hingga saat ini istrinya itu belum juga hamil. Sedangkan ia sudah hampir setiap malam menggempur istrinya. Dan tak hanya itu, jika ada kesempatan William selalu meminta haknya dan selalu dituruti oleh istrinya.


"Apa antara aku dan Rania ada yang bermasalah dengan kesuburan sehingga Rania belum juga hamil?" Gumamnya bertanya-tanya.


Pemikiran William pun bertambah kacau saat membaca pesan dari orang suruhannya yang mengatakan jika Bianca sudah sulit untuk ditemukan saat ini. Dan entah kemana perginya wanita itu. Karena tidak ada satupun penerbangan atas nama Bianca selama masa pencarian anak buahnya selama berada di negara A.


Tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya. William pun memilih beranjak dari kursi kebesarannya.


"Anda ingin kemana, Tuan?" Tanya Steve saat Gerry menyambar jas dan ponselnya.


"Tolong periksa kembali laporan keuangan yang baru dan laporkan padaku jika ada yang mengganjal." Titah William yang diangguki oleh Steve.


Dengan senyuman yang terkembang di kedua sudut bibirnya, William pun masuk ke dalam apartemen dengan langkah pelan. Pastilah istrinya itu terkejut saat melihat dirinya pulang lebih awal hari ini. Dan senyuman William bertambah terkembang saat melihat tas kerja istrinya ada dia atas meja sofa. Yang menandakan jika istrinya sudah sampai di apartemen.


"Pasti dia lupa membawanya ke kamar." Ucap William menggelengkan kepalanya karena tidak biasanya Rania meninggalkan tasnya tergeletak sembarangan begitu saja.


William pun berniat membawa tas istrinya itu masuk ke dalam kamar. Namun saat mengambil tas istrinya di atas meja, pandangan William tertuju pada isi di dalam tas istrinya yang terbuka dan menampakkan sebuah pil di sana. Karena merasa penasaran, William pun mengeluarkan pil itu dari dalam tas.

__ADS_1


"Pil apa ini?" Ucap William dengan kening mengkerut membolak-balikkan pil di depan matanya. William pun mencoba mencari tahu dengan memeriksa kembali isi tas istrinya. Namun sedetik kemudian rahang William mengetat saat membaca kegunaan pil yang sedang dipegangnya dari bungkus pil yang belum sempat Rania buang.


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!


Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...


__ADS_2