
Kedatangan Kyara dan Baby Rey sore itu disambut dengan suka cita oleh Rania yang sudah sejak satu jam yang lalu menunggu kedatangan mereka di depan rukonya.
"Kyara..." Rania buru-buru berjalan ke arah Kyara yang baru saja turun dari dalam mobil sambil menggendong Baby Rey.
"Baby Rey..." Ucap Rania lagi menatap haru keponakannya yang sudah semakin tampan. Tanpa menunggu lama kedua sahabat itu pun berpelukan. Baby Rey yang sedang tertidur itu pun tidak merasa terganggu oleh pergerakan ibu dan tantenya.
"Aku sangat merindukanmu..." Ucap Rania mengusap sudut matanya yang basah.
"Aku pun begitu." Balas Kyara menyunggingkan senyumannya.
"Ayo masuk dulu. Kau pasti lelah. Kamarmu yang dulu sudah aku bersihkan." Ajak Rania. Kemudian mengambil alih Baby Rey dari dalam gendongan Kyara.
Kyara pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Rania menuju kamarnya dulu. Sore itu Rania dan Kyara habiskan untuk saling bercerita tentang perkembangan Baby Rey dan juga kehidupan rumah tangga Kyara setelah kepergian Rania waktu itu.
"Kenapa kau tidak tinggal di rumah ibumu saja, Rania. Apa kau tidak merasa kesepian di sini?" Tanya Kyara sambil memasukkan baju Baby Rey ke dalam lemari.
Rania yang sedang mengganti baju Baby Rey pun mengalihkan pandangan pada Kyara. "Aku merasa lebih nyaman di sini. Lagi pula jika aku di rumah ibu, siapa yang akan menjaga ruko ini setiap malamnya." Ucap Rania.
"Kenapa wajahmu ini semakin tampan saja sih!" Seru Rania pada Baby Rey. Rania pun mencium gemas keseluruhan wajah Baby Rey dan membuat bayi itu tertawa.
"Ehee..." Baby Rey pun menepuk pipi Rania dengan kedua tangan mungilnya.
"Oh iya. Aku ada mainan baru untuk Baby Rey." Rania pun mengeluarkan sesuatu yang sudah ia simpan di dalam nakas samping ranjang Kyara.
__ADS_1
"Nah... Ini dia..." Ucapnya menunjukkan mobil-mobillan di tangannnya.
Baby Rey yang melihat itu pun berjalan dengan cepat ke arah Rania.
"Uuu..." Baby Rey berusaha menggapai mobil mainan itu.
"Mau?" Tanya Rania.
"Uuu..." Pekik Baby Rey.
Rania tertawa. Dan segera memberikan mainan itu kepada Baby Rey.
"Rania... Sebentar lagi kau akan segera menikah. Bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya Kyara setelah Rania memberikan mainan pada Baby Rey sehingga bayi itu mulai fokus pada mainannya.
"Entahlah... Perasaanku saat ini biasa saja. Tidak ada yang membahagiakan dan menyedihkan. Namun setidaknya aku sedikit tenang karena pria yang akan menikah denganku adalah pria yang cukup aku kenal dengan baik." Balas Rania sambil tersenyum.
"Aku oke. Tenanglah, Kya... Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Karena aku adalah wanita yang kuat!" Seloroh Rania.
Kyara tersenyum. "Aku tahu itu. Dan aku harap kau akan bahagia dengan pernikahanmu."
"Aku harap juga begitu." Balas Rania tersenyum.
"Apa saat ini kau masih ada berkomunikasi dengan Willian?" Tanya Kyara mengingat Rania dan William dulu cukup berkomunikasi dengan baik.
__ADS_1
Rania menggeleng. "Mungkin saat ini William sedang sibuk mengurus segala urusannya sebelum ia pindah ke negara ini." Tutur Rania.
"Apa kau tidak pernah menanyakan kabarnya lebih dulu? Kalian bisa menjalin komunikasi yang baik lebih dulu sebelum mendekatkan diri setelah pernikahan."
"Kau jangan gila... Sekuat apapun aku menyukai seseorang, aku tidak akan mau menghubunginya lebih dulu. Walau pun dia adalah calon suamiku! Gengsiku ini sangat tinggi, Kyara." Tekan Rania sambil tertawa.
Maaf, Kya. Aku tidak bisa berkata dengan jujur saat ini. Sebenarnya aku masih cukup ragu dengan pernikahan yang akan aku jalani. Apalagi jika perkiraanku benar jika William masih mencintaimu.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...