
"Kita bicarakan lagi masalah ini saat sudah berada di Jakarta nanti. Untuk saat ini lebih baik kau kembali ke dalam kamar dan menemani istrimu tidur. Karena firasatku berkata jika Rania tidak mengizinkanmu untuk menjenguknya sampai kau benar-benar menyelesaikan permasalahan ini." Ucap Gerry dengan serius. Bukan tanpa alasan Gerry berkata seperti itu. Karena Gerry sempat mendengar percakapan istrinya dan Rania di dalam kamar mandi saat Gerry berniat menyusul istrinya waktu makan siang tadi.
William mendesahkan nafas kasar di udara. "Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu." Pamit William lalu segera beranjak.
"Semoga saja hubungan rumah tangga kalian baik-baik saja." Harap Gerry menatap punggung William yang mulai lenyap dari pandangannya.
Jarum jam terus berputar ke arah kanan, namun William masih terjaga sambil menatap wajah istrinya yang mungkin saja akan lama dapat ia lihat kembali.
"Aku harap kau dapat percaya padaku, Rania. Aku sungguh tidak berniat menyakiti hatimu." Ucap William dengan lirih sambil mengelus kepala istrinya.
Hingga satu jam lebih terus terdiam sambil menatap wajah terlelap istrinya, akhirnya William pun memilih untuk melanjutkan tidurnya saat merasa matanya sudah mulai berat ingin terpejam.
Pukul setengah lima pagi, Rania nampak mulai membuka kedua kelopak matanya. Dan lagi-lagi Rania harus menghela nafas berat saat melihat wajah William yang begitu dekat dengan wajahnya karena suaminya itu tertidur sambil memeluk erat tubuhnya. Guling yang menjadi pembatas mereka pun sudah hilang entah kemana.
"Kenapa tidurmu terlihat lelap sekali? Apa kau baru saja tertidur?" Gumam Rania pelan sambil bertanya-tanya. Dan tak lama rasa sesak kembali menghimpit dadanya saat mengingat kenyataan jika suaminya sudah memiliki anak dengan wanita lain.
__ADS_1
Tuhan... Tolong ajarkan aku untuk ikhlas menjalani ini semua. Tolong ajarkan hatiku untuk bersabar dalam menghadapi semua kenyataan yang terjadi... Hatiku benar-benar tidak kuat jika kenyataan itu benar jika Cilla adalah anak William. Hatiku benar-benar hancur. Bagaimana dengan anakku jika dia mengetahui suatu saat nanti ayahnya sudah memiliki anak dari wanita lain selain aku sebelum kehadirannya ada di dunia ini.
Tanpa terasa satu tetes air mata pun terjatuh menbasahi pipi Rania. Rania menghapus air mata yang membasahi pipinya. Hatinya benar-benar sakit. Namun ia juga tidak bisa terlalu terpuruk pada keadaan yang ada. Rania pun memilih untuk turun. Menyingkirkan perlahan tangan William yang masih memeluk erat pinggangnya. Dan setelah terlepas Rania pun turun dari ranjang dengan perlahan lalu berlalu ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya dia benar-benar baru tertidur." Ucap Rania yang baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka di rukonya. Dengan meyakinkan hatinya, Rania pun segera mendekat ke arah ranjang lalu menepuk pelan pundak William untuk membangunkannya.
"William..." Rania terus berusaha mengguncang tubuh William untuk membangunkannya.
Perlahan kedua kelopak mata William pun mulai terbuka. Pandangan mereka pun bertemu. Rania yang hendak menjauhkan tangannya dari tubuh William pun terhenti saat tangan William lebih dulu mencekal tangannya.
"Jangan pergi... Biarkan tetap seperti ini sebentar saja..." Lirih William lalu memejamkan kembali kelopak matanya. Tangan William pun semakin membawa jemari Rania tepat di dadanya. Hingga Rania pun dapat merasakan jika detak jantung suaminya itu berdetak begitu cepat tidak seperti biasanya.
***
Lanjut tidak?
__ADS_1
***
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...