
"William... Sedang apa kau di sini?" Calvin nampak terkejut. Pria itu pun segera bangkit dari kursi kebesarannya.
"Calvin..." Sungut wanita yang berada di samping Calvin nampak tak terima diabaikan begitu saja oleh Calvin.
"Pergilah!" Usir Calvin sambil menatap tajam pada wanita yang sempat menggodanya.
"Kau..." Wanita itu menggerutu. Menghentakkan kakinya dengan sebal di atas lantai lalu berjalan meninggalkan ruangan setelah sebelumnya memberikan tatapan tajam pada Bianca yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Pintu ruangan pun ditutup rapat oleh Dika dan tak lupa menguncinya. Seolah-olah pria itu begitu takut akan ada yang mengacaukan misinya kali ini.
Calvin membiarkan tingkah Dika. Namun tidak dengan pandangan yang kini terhunus tajam pada wanita yang nampak tertunduk di belakang tubuh Gerry.
"Ada hal apa yang yang membuatmu datang kemari bahkan meninggalkan istrimu yang tengah hamil muda itu?!" Cecar Calvin pada William setelah memutus tatapannya dari Bianca.
"Tentu saja hal yang kau tanyakan adalah menjadi penyebab aku meninggalkan istriku yang tengah hamil saat ini!" Cetus William dengan menatap Calvin tajam.
Sebelah alis tebal Calvin nampak tertarik. "Aku tidak mengerti ucapnmu!" Balasnya tak kalah menatap adiknya tajam. "Bersikaplah dengan sopan pada kakakmu! Kau seolah-olah menjadikanku tawananmu saat ini!" Sembur Calvin yang merasa tak suka dengan sikap William.
"Daddy... Kenapa Daddyku ada dua..." Suara kecil dari mulut Cilla berhasil memutuskan tatapan tajam dari dua orang pria dewasa di depannya.
Pandangan semua orang yang ada di dalam ruangan itu kini tertuju pada gadis kecil yang sejak tadi diam di dalam gendongan Gerry. Pandangan Calvin pun kini terpenuhi oleh wajah gadis mungil yang nampak menatapnya dan William dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Mom... Kenapa Mom tidak bilang jika Daddyku ada dua?" Tanya Cilla pada Bianca yang berhasil membuat Bianca mengangkat kepalanya.
"Mom..." Ulang Calvin menirukan ucapan Cilla. Wajah pria itu kini terlihat berubah tegang.
"Cilla..." Bianca menggelengkan kepalanya. Berharap agar putrinya tidak lagi melanjutkan ucapannya.
"Lebih baik kita duduk dulu!" Perintah Dika saat melihat suasana mulai menegang.
"Ayo!" Ajak Reno menarik tangan William menuju sofa.
Kini mereka semua sudah duduk di sofa dengan saling berhadapan satu sama lain.
"Daddy..." Suara Cilla kembali terdengar. Namun kini pandangannya terfokus pada wajah Calvin. "Kenapa Daddyku jadi dua?" Pertanyaan aneh itu kembali keluar dari bibir mungil Cilla.
"Jadi apa maksud kedatangan kalian ke sini?" Tanya Calvin saat suasana mulai tidak kondusif. Apa lagi detak jantungnya saat ini tidak bekerja dengan normal saat melihat dengan jelas wajah gadis kecil yang sempat memanggilnya dengan sebutan Daddy.
"Ehem." Deheman Gerry seolah memberi kode agar ialah yang berbicara saat ini.
"Jangan bertele-tele. Aku sungguh tidak memiliki waktu untuk itu!" Perintah Calvin dengan tegas.
Reno mendengus. Kedua tangannya nampak mengepal sambil menatap berang wajah pria yang telah merusak sahabatnya. Namun sekuat mungkin Reno menahan emosinya agar tidak keluar di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
"Langsung saja. Kedatangan kami ke sini adalah untuk menuntut pertanggung jawabanmu atas perilakukmu di masa lalu." Ucap Gerry dengan nada serius.
"Kesalahan di masa lalu? Apa maksudmu?" Balas Calvin dengan cepat.
"Kau tidak mungkin melupakan bukan jika kau sudah merusak wanita yang saat ini tengah dudu di hadapanmu?" Ucap Gerry dengan menekan setiap kata-katanya.
***
...Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺...
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...